Lara
Reta hendak membalikkan badan, sebelum itu Regan meraih tangannya guna memberhentikan pergerakan Reta.
"Kemana?" Tanya Regan lembut.
"Pulang." Jawab Reta tanpa berekspresi.
"Kakak anterin ya?"
"Biar gw aja." Sahut Elvano cepat.
"Gw pulang sendiri, jangan ada yang ngikutin!" Reta menyorot tajam dua orang itu sebelum mereka kembali bersuara.
Elvano berniat mengikuti gadis itu diam-diam. Sebelum niat itu terlaksana suara Regan menghentikan pergerakannya seolah tau apa yang dipikirkan.
"Lo diem-diem ngikutin pun Reta pasti tau, yang ada dia bakal marah," di tempatnya berdiri Regan berucap. Kemudian kepalanya menoleh pada orang yang menjadi lawan bicaranya. Elvano diam-diam menyetujui perkataan Regan. Walau baru berjumpa beberapa bulan, sifat gadis itu masih sama seperti 6 tahun yang lalu, setelah mengamati dalam diam tentunya.
Reta tak suka dibantah, apalagi jika ada yang mengikuti nya diam-diam. Lebih baik langsung ditanyakan saja daripada menjadi penguntit. Sekali tidak sampai akhir tidak, dia tidak akan mengubah jika sudah berbicara. Pendiriannya terlalu tinggi untuk mengubah sesuatu dalam sekejap. Sudah dipastikan turunan dari Renald.
"Kenal Reta dari mana?" Ucap Regan mengganti dengan pertanyaan.
"Aussie, kita sempat berteman dekat" jawab Elvano apa adanya.
"Bisa Lo ceritain hari-hari Reta disana?"
"Nggak sekarang, kita butuh ruang yang bener-bener hanya ada kita berdua," Elvano melirik singkat Alfino yang masih duduk dilantai.
"Gw juga ada pertanyaan, besok dibangunan tua jam 8 malam." Lanjut Elvano yang mendapat balasan berupa anggukan.
Regan melangkahkan kakinya menuju tempat acara barbeque-an. Pikirannya kacau belum lagi tiba-tiba ia mengingat ada tugas sekolah dan kantor yang belum terselesaikan. Dirinya ngumpul ke markas supaya otaknya lebih fresh sebelum kembali berhadapan dengan tulisan dan angka. Ehh malah muncul masalah lagi.
Sepeninggal Regan, Elvano masih berdiri di tempat semula. Alfino bangkit setelah bersusah payah menyanggah tubuhnya agar dapat berdiri. Walau harus meringis karena beberapa titik tubuh nya terluka.
Alfino memberanikan diri menatap kembarannya setelah beberapa saat menunduk. Dari sana Alfino menelan ludah kasar, Elvano menyorotnya tajam. Bak belati yang akan menusuk kapan saja.
Elvano, kembarannya itu selalu bersikap dingin pada siapa pun, termasuk Alfino kembarannya sendiri. Yang ia tahu dia akan menghangat bila bersama mommy dan Alyn, teman masa kecilnya. Alyn atau yang ia kenal sekarang dengan nama Reta, pasti mempunyai tempat istimewa di hati Elvano sejak dulu. Sampai detik ini, itu yang Alfino yakini. Dan sekarang sikap dingin Elvano masih sama terhadapnya, mungkin lebih berkali-kali lipat setelah yang dilakukan Alfino pada gadis bermata biru tadi. Jujur walau terlihat datar Elvano seorang pendengar yang baik. Kata-katanya mampu menenangkan siapapun saat sedang gundah. Itu sebabnya
Alfino tidak menyangka akan berada di posisi ini lagi untuk ketiga kalinya. Letak yang berusaha ia hindari selepas mengenal gadis blasteran Indonesia-Australia-Jepang adalah menjaga lisan dan sikapnya agar tak mencari gara-gara dengan Retalyn. Dan yap, tadi tanpa pikir panjang dirinya mengeluarkan kata yang seharusnya tidak perlu.
Elvano hanya diam, tetapi tatapan laki-laki itu tak bisa dibohongi kalau terselip emosi panas. Sebagai anak dari seorang psikiater tentunya dari kecil Elvano dan Alfino sudah diajarkan mengendalikan semua emosi. Hanya saja bentuk manusiawi masih terlihat perbedaannya. Dari kecil Elvano lebih mudah mengontrol jenis emosi. Berbanding terbalik dengan Alfino yang kadang masih tantrum. Tetap, ketidaksamaan perilaku tidak untuk dijadikan alasan menyudutkan salah satu pihak yang dianggap benar. Perlu dua sudut pandang guna menepatkan suatu tindakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Tarihi KurguTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
