Senin yang mendung
Awan kelabu membumbung tinggi tak melewatkan waktu upacara. Selagi hujan belum menampakkan diri, upacara hari Senin tetap berjalan.
Peserta upacara terlihat rapi berjejer tanpa sedikit menciptakan kebisingan. Meski hampir setengah jam harus mendengarkan suara kepala sekolah yang sedang memberi wejangan didepan sana.
Tak lama kemudian beliau mengakhiri pembicaraannya yang disambut sorakan siswa-siswi dengan suara tertahan. Huh, walau tidak panas karena matahari tertutup awan mendung, tetap saja lelah berjam-jam berdiri.
Barisan telah dibubarkan, ya setidaknya untuk anak-anak yang rajin. Berbeda dengan murid yang tidak memakai atribut dan terlambat seperti, Reta ini harus menunggu lebih lama lagi dilapangan. Pasti tak jauh-jauh dari hukuman hormat pada bendera atau membersihkan tempat tertentu. Dan Reta kebagian membersihkan halaman belakang sekolah dengan 5 orang lainnya.
"Bu, sekitaran pohon nggak usah ya?" Ujar salah satu ber nametag Vania Yuvita Natalia mencoba untuk berkompromi.
"Lhoo, tidak bisa ya anak manis. Sekitaran pohon harus yang paling bersih sekalian pohon dan daunnya di lap biar nggak berdebu, paham?!" Jawab Bu Mira tersenyum dengan suara lembut tetapi penuh penekanan.
"Tapi Bu disana kan angker" cicit Maria Herline Savion berharap guru BP itu berubah pikiran.
"Dikerjakan dulu ya cantik, besok nggak dihukum lagi kok kalau berangkatnya tepat waktu" ujar guru itu lembut disertai sindiran halus.
"Savina, kamu awasi mereka"
"Baik Bu"
Bu Mira kembali menatap murid yang dihukum itu.
"Yasudah kalian cepat kesana!"
Tanpa bantahan lagi mereka berenam termasuk Savina yang bertugas mengawasi murid bermasalah itu langsung menuju tempat yang telah disebutkan tadi.
"Kak Vina, ini alatnya" Ujar seseorang yang baru datang sambil membawa peralatan bersih-bersih.
"Taruh aja" laki-laki itu mengangguk sambil menuruti apa yang Savina perintahkan. Setelah menaruh beberapa alatnya, laki-laki yang juga tergabung dalam organisasi OSIS itu berpamitan.
"Kalian masing-masing ambil sapunya, terus bersihkan dari titik ini" ucap Savina memberi arahan.
"Banyak banget daunnya apa-" belum menyelesaikan kalimatnya ucapan Awan Hermansyah terpotong begitu saja.
"Lebih cepat bersihin lebih cepat hukumannya berakhir." sahut Savina tak terbantahkan.
Hening, tak ada lagi sahutan. Lagian percuma, Savina sangat tegas kalau soal hukuman, mana mau dia meringankan hukuman cuma-cuma setidaknya ketika tidak mendesak.
15 menit berlalu, halaman luas itu sudah bersih dari daun kering yang berserakan. Tapi ada tempat yang sengaja mereka lewati, dibawah pohon besar yang konon katanya berpenghuni.
"Faris, Lo aja sana sapu" suruh Awan pada temannya.
"Enak aja, ogah gue" jawab Cello Faris Saputra mendelik ke arah Awan.
"Lah, terus siapa yang bersihin?" tanya Awan.
"Entah" ~Maria
Vania menggelengkan kepalanya cepat, takut disuruh bersihin sendiri. Sedangkan Faris mengendikkan bahunya.
Reta memutar bola matanya malas. Tanpa banyak kata, ia berjalan mendekati pohon besar itu sendiri. Tak lupa tangan nya membawa sapu dan karung.
"Ku sebut dia cewek hebat dan pemberani" ujar Awan sedikit kagum. Sebab dari awal, gadis bermata biru itu tak bersuara sama sekali. Dia menjalankan hukuman tanpa mengeluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Historical FictionTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
