Reoccur
Setelah gelapnya malam. Aruna kembali hadir menghiasi dunia. Tepat pukul 6 pagi gadis bermata biru itu menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa. Rambutnya yang sempat di cepol terlepas menyisakan kepangan akibat terlalu banyak gerak. Seragamnya juga rapi terpasang di badan. Reta si bunglon kadang sedingin es kadang juga sehangat matahari.
Langkahnya baru terhenti setelah menemukan orang yang dari semalam ditunggu tapi tak muncul juga. Tumben-tumbenan juga semalem dirinya tertidur sangat pulas mungkin kalo ada banjir bandang baru kebangun. Ia sangat senang ketika insomnia nya tak kambuh seperti biasanya. Reta jadi bisa tidur nyenyak tanpa bermimpi buruk.
Reta melihat Keki nya berada di teras dekat kolam renang yang terduduk sambil sesekali minum kopi.
Di peluklah suami dari Karlina itu erat-erat tanpa takut patah tulang. Yakali pria kuat seperti Kakung tulangnya bisa patah cuma perkara pelukan. Mana maenn.
Untungnya lagi kopi yang masih berada di tangan Arkan tak tumpah akibat pelukan dadakan Reta. Dengan gerakan cepat Kakung menaruh kopinya di meja agar dirinya bisa memeluk balik cucu kesayangannya itu.
Walau sudah umur 70 tahun jangan tanya soal otot, udah mulai surut lah. Tapi tenang kekuatan Kakung sekuat baja buat ngehantam orang. Yang mau coba silahkan japri paling korbannya cuma pindah alam. Nyatanya biarpun sudah menua Arkan masih terlihat gagah dengan rambut yang sudah banyak dipenuhi uban. Biasa faktor usia, masak kayak muda terus.
Kangen satu kata itu sepertinya sudah cukup menjelaskan semuanya. Titik temu yang selalu dinanti akhirnya datang juga. Keki nya itu akan datang ke kota metropolitan ini hanya saat ada pekerjaan. Kebanyakan Keki Reta mengurus pekerjaan yang diluar negeri. Keseringan pulang-pergi untung nggk punya riwayat encok. Beuhh
Arkan menuntun Reta duduk disampingnya. Karena saat pelukan posisi cucunya itu agak jongkok pastinya lama-lama bisa capek.
"Kenapa nggk langsung temui Reta? Ini juga Reta yang nemui keki" ujar Reta bersidekap dada, ngambekan!
Uu lalahh sepertinya kulkasnya dimatiin terus es nya lagi cair. Yowes yowes
"Hampura nya, kemarin ada urusan sama ayahmu"
"Penting banget?" Arkan mengangguk sambil terus menatap cucunya yang berada disampingnya.
"Lebih penting dari aku?"
Arkan tersenyum hangat lalu menoel hidung mbangir Reta. "Masih tanya?"
Refleks Reta menggeleng sambil menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Kumaha damang?"
"Alhamdulillah, damang"
"Sekolahnya?"
"Lancar kekii"
"Nggak bolos lagi kan?"
"Untuk saat ini belum" jawabnya tanpa merasa bersalah.
Arkan hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Reta. Cucunya itu kapan berubahnya. Dulu saat SMP Reta sering sekali bolos sekolah. Sampe-sampe bi Sumi yang sering datang ke sekolah saat panggilan orang tua. Kepala sekolah pun seakan tak mempermasalahkan jika yang datang bukan orang tua kandungnya. Dari awal masuk yang tau Reta putri dari Renald hanyalah pemilik dan kepala sekolah. Renald benar-benar membungkam siapapun yang nantinya dapat berpengaruh mepublikasikan kedua putrinya ke dunia. Ibaratnya gini wir Lo punya uang Lo punya kuasa.
Arkan sendiri tak mempermasalahkan tingkah Reta selagi itu masih di batas kewajaran. Arkan bukan tipe orang yang menggebu-gebu supaya Reta berubah. Ia juga sadar dulu anaknya, Renald lebih parah. Sampai akhirnya dia berubah setelah bertemu istrinya. Meski kini kembali lagi dengan versi berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Ficción HistóricaTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
