Sincerity
Malam telah berlalu, dinginnya udara terasa semakin menusuk dibandingkan tadi malam. Tak seperti biasanya, pagi ini sang surya bersembunyi dibalik awan kelabu. Rintik gerimis turun sejak adzan subuh berkumandang. Sambaran petir bergema keras memekikkan gendang telinga. Cuaca berubah dalam sekejap yang tadinya cerah menjadi gelap. Tak heran, sebab sekarang sudah memasuki musim hujan.
Dibalik jendela yang terbuka, gadis bermata biru itu diam dengan pandangan sayu. Helaian rambut panjangnya berterbangan diterpa angin kencang. Seusai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Reta duduk di tepian jendela kamarnya seorang diri. Benar-benar hanya diam tanpa melakukan apapun.
Jika ditanya kondisinya, jangan kira baik-baik saja setelah kejadian semalam. Pipinya membengkak dengan warna merah kebiruan. Luka terbuka di dahinya dibiarkan begitu saja, sengaja menunggu bi Sumi datang untuk mengobatinya, lagi. Karena ia membuka perban tempel itu sebelum melaksanakan sholat tadi. Belum lagi badannya terasa remuk setelah menghantam lantai juga dinding. Menyedihkan sekali hidupnya.
Katanya anak bungsu adalah anak kesayangan, kenapa Reta tidak? Katanya anak bungsu adalah anak yang suka dimanja, kenapa ia tidak? Katanya anak bungsu adalah anak yang paling di bela, kenapa dirinya tidak? Mengapa Reta selalu dibedakan dari saudara-saudara nya yang lain? Apakah ia tak pantas untuk diistimewakan atau sekedar dicintai?
Yang ia bingungkan adalah sikap Bunda dan saudara kembarnya yang berubah-ubah. Persis bunglon.
Beberapa kali bunda Recia menunjukkan perhatian kepadanya, tapi secepat kilat berubah tak peduli. Pernah juga hangat seperti pada dasarnya ibu lainnya, tak menunggu waktu lama langsung menjadi dingin.
Dan Rena, pukulan yang sering Reta terima salah satu penyebabnya adalah saudara kembarnya sendiri. Ia selalu ingat, bahwa Renalah yang mengadukan setiap perbuatannya ke sang ayah. Meski kadang tak benar, Reta hanya bisa pasrah atas tuduhan itu. Anehnya, jika hanya berdua Rena terlihat sangat peduli dan menyayanginya. Tanpa permintaan maaf dia tiba-tiba berubah baik.
"Gw benci Lo, Rena. Tapi gw nggak juga bisa hilangi rasa sayang gw ke Lo." Hatinya menjerit.
Tentang jarak yang tercipta antara keduanya, Reta dalangnya. Berawal ketika Reta kecil iri dengan Rena yang selalu dibanggakan Renald. Meskipun, seolah tak peduli saat Renald terang-terangan menunjukkan perhatian pada kedua kakaknya, tapi jauh di lubuk hatinya, ia selalu iri.
Lamunannya pecah ketika usapan lembut menyentuh kepalanya. Ia mendongak, rupanya Regan.
Laki-laki itu tersenyum lebar menatap sayang wajah pucat adiknya. Kemudian Regan duduk disamping Reta dengan tangan membawa kotak P3K.
"Lo nggak sekolah?" Tanya Reta dengan suara pelan. Sebisa mungkin ia menyunggingkan senyum walau hanya segaris. Ingat! Pipinya sakit, nyeri kalau dibuat senyum.
Regan hanya mengangguk, tangannya sibuk mengobati luka yang ada di wajah Reta. Walau tak ditunjukkan, sebenarnya Regan tersenyum miris melihat kondisi adik kesayangannya. Ia merasa gagal tak bisa melindungi. Dirinya menyesal, karena membawa Reta kembali ke Indonesia. Kalau saja ia tahu, daripada melihat Reta penuh luka lebih baik ia membiarkan jarak memisahkan mereka. Meski, harus menahan rindu tapi itu lebih baik.
"Gw udah izinin ke wali kelas Lo, hari ini nggk masuk" Reta hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Pipi Lo bengkak, dek" ucap Regan dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak menyentuh pipi kiri adiknya, tidak terburu.
Reta mengambil tangan kakaknya dan menurunkan dari pipinya. Ia genggam tangan itu erat "I'm fine, kak" Gadis bermata biru safir itu memaksakan tersenyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Historical FictionTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
