Tak terduga
Dengan langkah tegak, gadis berlensa biru safir itu berjalan menuju ruang meeting. Reta tadi sempat mampir ke butik yang dilewati untuk membeli dan mengganti pakaiannya dengan kecepatan cahaya, benar-benar dadakan kayak tahu bulat. Ya kali dia pakai seragam sekolah kan nggak sopan. Malah tambah runyam kalau ada berita yang tidak-tidak, apalagi ia membawa nama perusahaan besar keluarganya.
Ia segera memasuki ruangan yang disebutkan staff yang sempat di tanyai. Semua orang disana mengalihkan atensi dengan orang yang baru saja datang. Wajah Reta tentunya asing bagi mereka. Karena ini baru kedua kalinya ia menggantikan ayahnya. Biasanya ia hanya meeting di kantor atau hanya ada klien dari luar negeri saja. Bisa dibilang Reta mewakili Renald itu momen langka dan menjadi pengalaman barunya.
"Permisi, maaf atas keterlambatan saya"
Gadis itu duduk di kursi yang seharusnya di tempati Renald. Membuat orang yang hadir kebingungan asal usul gadis remaja yang duduk bersama mereka. Se minim itu informasi tentang putri-putri Renald. Selama mereka bekerja, Reta maupun Rena selalu menutup identitasnya. Keduanya mengaku sebagai sekertaris Renald.
Entah kenapa kali ini Reta merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Dia sudah merasa pusing melihat huruf dan angka yang berjejeran. Agaknya dirinya merasa lelah dengan aktivitas hari ini. Tapi perasaan juga ia tak melakukan kegiatan berat apapun. Entahlah mungkin badannya lagi nggak fit aja.
Cahaya matahari mulai terbenam menyisakan warna jingga di langit barat. Angin sore itu menerpa wajahnya yang ayu. Gadis dengan cepol khas pekerja kantoran itu menghela nafas berat. Kepalanya masih saja berdenyut, bahkan sakitnya merambat ke mata.
Kali ini takdir baik tak berpihak padanya. Ia kalah memenangkan tander. Dia selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Tapi kalo begini lantas apakah ia juga bisa mensyukuri yang Tuhan beri. Reta tak mempermasalahkan dirinya kalah. Namun Renald? Reta tidak yakin. Ini bukan kegagalan pertamanya. Dan setiap kalah ia akan mendapatkan hadiah, yang tak lain caci maki dan pukulan. Bekas tendangan Renald di tulang keringnya saja masih terasa sakit walau warnanya sudah menghilang. Apalagi di mansion ada keki neninya. Bagaimana kalau kakek-neneknya tau? Selama ini ia bersusah payah menyembunyikan perlakuan buruk ayahnya. Reta hanya tak ingin keki neninya semakin tak menyukai putranya sendiri apalagi kalau berada di titik benci. Entahlah kepalanya serasa ingin pecah, mungkin udara segar bisa meredakannya.
Reta berjalan ke arah parkiran dimana motornya berada. Pandangannya sayu seolah tak ada semangat di dalamnya. Bukannya cepat-cepat pulang, Reta malah nangkring anggunly di motor abu-abu itu. Tak sengaja netra birunya menabrak netra hitam legam milik seseorang.
Laki-laki jakung itu terlihat berjalan dengan langkah lebar ke arahnya. Dan ketika sampai Reta hanya menampilkan raut datar. Menghilangkan tatapan sayu yang sempat tersemat.
"Udah lama?" Reta menautkan kedua alisnya tak paham dengan apa yang dibicarakan Elvano. Yaps laki-laki itu adalah Elvano Giotama, ketua Snakel Geng dan orang yang memenangkan tander tadi. Di dalam ruangan tadi mereka sama sekali tak saling sapa atau sekedar bicara. Hanya melirik singkat, seolah tidak saling mengenal. Namanya juga profesional dalam bekerja. Sekedar informasi hari ini, jam tadi, menit tadi, detik tadi menjadi pertemuan mereka di work space. Sebelumnya El atau Reta belum pernah se-projek bareng. Pertemuan tadi benar-benar cerita tak terduga yang di list keduanya pun nggk ada.
"Jadi sekertaris Arkananta Group" jelas El.
"Lumayan" Elvano mengangguk-anggukkan kepalanya singkat. Tanpa Reta sadari lelaki bermata hitam legam itu menyungging senyum tipis. Matanya menatap gadis di depannya penuh arti. Dan Reta hanya bersikap biasa walau dirinya sadar. Sedari berada di room meeting, Elvano melihatnya dengan tatapan berbeda. Ohh tidak, tatapan itu Reta mengetahuinya, sejak pertama kali pertemuan di hari pertamanya sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Fiction HistoriqueTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
