Why is she hurt?
Selepas 10 menit menangis dalam diam. Gadis berambut coklat itu membuka matanya perlahan. Mata yang sebelumnya tampak sayu kini berubah tajam. Dengan napas memburu tak beraturan, Reta memaksakan tubuhnya hingga berdiri tegak. Darah di sudut bibir dan hidung mengering sempurna. Sedangkan di pelipis, darah itu mengalir sampai batas rahang. Lukanya tak terlalu dalam, hanya saja sesedikit pun kepala terluka pasti akan mengeluarkan darah banyak. Sebab kepala banyak memiliki pembuluh darah yang dekat dengan permukaan kulit. Itulah alasan kepala paling rentan mengeluarkan darah jika terluka.
Reta melangkahkan kakinya menuju ranjangnya berada. Dengan amarah membuncah gadis itu membuang benda apapun yang ada didepannya. Emosinya kembali meningkat tidak stabil. Di posisi ini Reta sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri dan seolah menjadi orang lain.
Prang
Untuk kesekian kali figora dengan ukuran 10 R itu tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan. Kacanya disulap menjadi berkeping-keping beling.
Dalam hitungan detik kamar abu-abunya berubah seperti kapal pecah. Barang-barang didalam kamar itu berserakan.
Prang
"AAARGH, NGGAK NGGAAK"
Aroma harum bercampur anyir seketika memenuhi ruang kamar. Darah berceceran sebab kaki Reta yang tanpa alas kaki terkena pecahan kaca. Reta seakan sengaja menginjakkan kakinya ke beling-beling itu agar dirinya kembali mendapatkan luka. Tak tanggung-tanggung Reta juga meremas erat kaca di kedua tangannya sampai meneteskan darah.
"BELAJAR! BIAR NILAI KAMU NGGAK DIBAWAH RENA. AYAH NGGAK MAU PUNYA ANAK YANG BODOH"
"Reta akan lebih giat belajarnya lagi dan buat ayah bangga"
"SAYA BENCI KAMU, WAJAHMU, DAN SEMUA YANG ADA DI KAMU, RETA!"
"Kenapa hanya aku? Rena juga harus dapet kebencian dan luka yang sama"
"GARA-GARA KAMU GADIS MATI! GARA-GARA KAMU NGGAK JAGAIN MEREKA. SEKARANG RENA SALAHIN DIRINYA SENDIRI. SENENG KAMU, IYA? LIHAT KEMBARAN KAMU SENDIRI DIPENUHI RASA BERSALAH KARENA MENGIRA KECELAKAAN ITU KARENA DIA. SEMUA YANG MENIMPA AYAH, BUNDA, RENA, DAN SEKARANG GADIS ITU KARENA KAMU, RETA!"
"Aku nggak bersalah, ayah. Aku nggak bersalah"
"ANAK NGGAK TAU DIRI"
"I am so sorry"
"KAMU INGIN MEMBUNUH KAKAK KEMBARMU SENDIRI?"
"No, no ayah"
"BUNDA MU KEGUGURAN DAN KAMU PENYEBAB NYA"
"Bukan aku yang memainkannya"
"BODOH! LIHAT PUTRI KEBANGGAAN AYAH. RENA SELALU JADI YANG PERTAMA DI SEMUA PELAJARAN"
"Maaf, akan Reta perbaiki"
Semua bayang-bayang buruk itu berputar terus-menerus bagai kaset rusak. Dadanya semakin sesak mengingat kenangan yang seharusnya tak pernah ada. Kekerasan fisik dan suara bentakan tinggi selalu abadi berputar di otaknya. Entah kadang tiba-tiba teringat atau menjadi bunga duri di tidurnya. Hampir setiap Reta mengarungi dunia mimpi memori itu akan hadir menghantuinya. Sebabnya Reta sering terkena insomnia dan harus meminum obat tidur.
"Aarggh"
Reta meremat rambutnya lelah. Di pojok kamarnya badannya meluruh ke dinginnya lantai berbahan marmer itu. Air matanya tak berhenti mengalir menyisakan isakan kecil. Agaknya Reta sudah mulai tenang dan dapat menguasai dirinya sendiri. Manik matanya terlihat kosong dengan pandangan kedepan. Meski begitu, memori buruk masa kecilnya masih berputar tak henti-hentinya. Sangat berisik, Reta tidak menyukai kebisingan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nata Twins -Aku Reta
Ficción HistóricaTentang Reta si biang masalah juga biangnya luka. Reta yang selalu menjadi bayangan kakak kembarnya. Dan Reta yang mencari sumber kebahagiaannya sendiri. "gw benci lo Rena, tapi kenapa gw nggk bisa hilangin rasa sayang itu ke lo?" "Sorry Ra, tapi...
