Pesta yang sudah lama dinanti nanti kini harus diakhiri dengan amukan si kembar yang masih sibuk mencari sosok "baby girl" yang orang tuanya maksud. Mereka fikir jika balon itu dipecahkan sang "baby girl" akan langsung muncul dihadapan mereka.
Saat ini seluruh keluarga tengah berada di ruang keluarga, semuanya berkumpul hanya untuk menenangkan tiga bocil kematian itu. "Zeo, udah dong sayang bunda nya jangan dipukulin" Ayyara khawatir melihat putrinya yang kewalahan. "Sini sama granma aja ya" bujuknya lagi.
"GAK MAU, CEMUA BOONG!! GAK ADA BEBIGEL" Marah Zeo yang entah kenapa membuat semua orang semakin bingung.
Zefan yang sedari tadi mulutnya di tutup Zea dan Zio pun kini melepasnya paksa "Zeo sini!" Ucapnya tegas. Tapi anak sulungnya itu malah memeluk ibunya dengan sangat kuat, instingnya mengatakan jika Ayahnya akan marah. "Zeo itu daddy panggil lho" Dengan susah payah Caitlyne membawa Zeo dari dekapannya pada Zefan.
Kini ketiga anak kembarnya sudah Zefan peluk "Daddy mau tanya, boleh?" Tanya nya yang mendapat anggukan dari mereka. "Perut Bunda besar isinya apa?" Mereka terdiam, berusaha mengingat "Eh apaa yaa Zii" Tanya Zeo pada adiknya Zio dengan tangan yang diletakan di atas dagu. "Ahah Zea tauu... ici nya adek" tiba tiba si bontot kagak jadi, berseru. "Nah tuh tau, adek itu adanya di perut bunda, bukan di balon tadi" Jelas Zefan akhirnya.
"Teyus, gimana lua-lin nyah?" Tanya Zio penasaran "Halus ditucuk, kayak balon tadi?" Sambungnya lucu. "Ahaha iya, halus ditucuk... Abang jalum nya mana?" Kini Zea lah yang menyahut sambil sibuk mencari jarum. "Gak bica pake jalum, pelut bunda becall banget halus pake paku becal" Sahutan Zeo bikin semua orang kaget sekaget kaget nya, apalagi Caitlyne sosok yang sikembar incar.
"EH EH EH, apaan ya enggak, masa perut bunda di tusuk pake paku sii" Protes Caitlyne tak terima "Teyus hayus pake apa Bun? Pico?"
"Astaga Zio, kamu yaa! Pake pisau lebih parah kalii...Aahh Zefan anak kamu tuh... tau ah aku pusing mau kekamar aja" Akhirnya Caitlyne menyerah, ia segera beranjak menuju kamarnya, melepas semua pertanyaan anak anaknya pada suami dan keluarganya saja. Jika terus berada disitu mungkin ia akan semakin pusing dan berakhir anaknya lahir.
"Hey denger" Zefan kembali menatap anak anak nya "Yang bisa ngeluarin adek dari perut itu cuma Bunda sama Dokter, cara ngeluarin nya juga gak perlu ditusuk perut bundanya" Ketiga anak kembar itu terdiam, berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan ayahnya tadi.
"Faham kan?" Tanya Zefan memastikan.
"Enggak, Zea gak faham... Ze mau mandi showel aja sama onty" Saat Zea menyebut nama panggilan itu Zeline langsung beranjak, ini benar benar kesempatan untuk mengalihkan pembicaraan, biar ketiga anak kembar itu lupa dengan masalah "cara ngeluarin baby girl" nya.
"Emm.. pas banget kemarin aunty udah beli busa yang lucu lucu.. yu mandi shower bareng, Zeo sama Zio juga yuk!" Ajaknya penuh semangat. "Walna nya lenbow kan tii??" Tanya Zio penasaran.
"Uhmm..pasti dong, gak cuma rainbow, aunty juga punya warna purple, yellow, pink, blue... semua adaa"
"Yeay, mauu... Dad Zeo mau mandi showel with onty!" Seru Zeo antusias. "Zio mauu juga, ayo Zea... onty let's goo!"
Akhirnya semua orang bernafas lega, saat Zeline berhasil mengalihkan perhatian ketiga anak kembar itu. Dengan lemas Zefan juga berpamitan untuk menemui istrinya yang sudah masuk kamar terlebih dahulu.
Dikamar Caitlyne misuh misuh, sambil menghapus semua make-up yang ada di wajahnya, dirinya berusaha menenangkan diri dari pernyataan bahwa si kembar ingin menusuk perutnya. "Gilak aja, untung anak gue... Kalo enggak udah gue buang!" Gerutunya tanpa henti. "Hhh... gini kali ya cobaan hamil anak kedua—
"—Kehamilan kedua" Tiba tiba Zefan datang meralat.
"Eh iya ya... Btw gimana keaadan anak anak?" Perempuan hamil itu langsung bertanya. "Udah dialihin perhatiannya sama Zeline, diajakin mandi shower" Jawab Zefan seadanya sambil memasuki kamar mandi.
"HUHH, bagus deh... Tapi kok aku jadi takut ketemu mereka ya" Ibu hamil itu mendadak parno, bayangannya terus dipenuhi dengan ketiga anak kembar nya yang ingin mengeluarkan sang adik dari dalam perut menggunakan pisau.
"Tenang Cait, gak perlu khawatir namanya anak anak kagak mungkin berani"
"Wahh kalo urusan main air sii, mereka gak akan nolak"
"Yaudah, kamu duluan deh yang mandi, kok aku jadi gak suka nyium aroma kamu si" Ungkap Caitlyne sambil menutup hidungnya.
"Lah, kok bisa? Jadi takut" Zefan langsung khawatir.
"Takut kenapa?"
"Takut aja, nanti kamu gak mau deket aku lagi... kayak cerita ibu ibu hamil di tiktok" Penjelasan Gio membuat Caitlyne terkikik sendiri "Doain aja mudah mudahan si enggak, soalnya kalo beneran, aku gak bisa kasih kamu jatah"
"Yah... gitu ngomongnya... Makin over thinking gua"
"Kok gue? Ada adek denger loh di perut" Caitlyne mengelus perutnya membuat Zefan langsung ikut ikutan "Maaf dek, habis gimana enakan nyebut lo gue, berasa kaya masih awal awal nikah"
"Eh tapi jangan panggil adek" Caitlyne yang tadi tersenyum kini langsung menatap suaminya serius "Lho, kenapa?"
"Takut gak punya adik lagi nanti, kan kata kamu mau punya delapan anak"
"Ey ngadi ngadi ya! Kapan bilang gitu? Lo kira gue kucing HAH?'
Zefan menggaruk tengkuknya yang tak gatal " Tuh tuh sekarang kamu yang bilang lo-gue, tadi katanya 'adek denger' "
"Ya kamu kalo ngomong sembarangan banget, udah sana mandi!!"
Zefan melengos dan malah merebahkan tubuh nya diatas kasur, tentu saja itu membuat Caitlyne semakin murka "Zefan,!! Mandi dulu ihh... itu kasurnya jadi bau busuk semuaa!"
"Cait, mulutnya sedep amat... Entar lagi elah" Tiba tiba...
Huek...
Zefan langsung membangunkan tubuhnya saat Caitlyne pergi kekamar mandi dan memuntahkan isi perut nya "Etdah, bini gue beneran gak suka, duh"
Akhirnya Pria itu menyusul istrinya kekamar mandi, terlihat Caitlyne yang sudah dengan acara muntahnyaa "Mandi yang bersih awas ya kalo masih bau busuk" Baru saja perempuan itu keluar, tiba tiba kembali lagi dibarengi dengan mualnya. "Aah Zefan si, itu aroma nya masih nempel dikasur! Ganti dulu sprai nya" Rengek Caitlyne kesal sambil menutup hidung. "Iya iya" Tak perlu ribet, Zefan memanggil asisten rumah tangga untuk mengganti sprei.
Setelah beberapa saat akhirnya kamar itu sudah bebas dari bau—yang kata Caitlyne seperti bau busuk
KAMU SEDANG MEMBACA
ქ & V
Random~𝙍𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙒𝙖𝙘𝙖𝙣𝙖, 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖! Bagaimana bisa sejak awal seluruh keluarga telah sepakat untuk menunda kehamilan demi menjaga mental kedua anaknya yang baru saja menikah karena perjodohan antar keluarga diusianya...
