"T-tom."
Alis Tom reflek terangkat, "Kalian mengenalku?"
Ya. Tentu saja mereka mengenal Tom. Anak tunggal dari Octo dan seseorang yang di sebut-sebut akan menjadi penerus organisasi itu. Tidak mungkin mereka tidak tahu.
"Bagaimana kalian bisa masuk?"
Pertanyaan bodoh itu baru saja keluar dari salah satu lelaki yang kini tengah berdiri dengan tangan terangkat. Mereka sudah terkepung.
Tom berdecih, "Bagaimana lagi? Sudah pasti lewat pintu." Mata nya juga memberi lirikan malas ke arah pintu yang kini di jaga baik oleh anak buah Armand.
Mereka pun segera bergerak. Dengan strategi yang sudah mereka susun, operasi penyelamatan ini hanya punya waktu 15-20 menit. Tapi melihat lawan nya saat ini mungkin misi bisa selesai lebih cepat.
Armand melihat pemandangan ini dengan sedikit tak percaya. Sekarang dia sedang bertanya-tanya kriteria apa yang Octo punya hingga memilih anak buah seperti ini. Tubuh yang berisi dengan perut penuh lemak pastinya tidak akan mampu melawan kekuatan lawan. Jangankan untuk bergulat, berlari mengejar musuh pun Armand yakin mereka tak sanggup. Jika tidak bukan karena senjata mereka tidak akan mampu bersaing.
Sejenak menghiraukan anak buah Octo. Armand memilih ikut membantu tim nya mengecek ruangan. Tangannya membuka jendela besi yang ternyata langsung mengarah ke hutan yang penuh dengan pohon dan semak yang tinggi. Pikiran nya hanya satu. Tidak mungkin ada orang yang berhasil kabur dari sini. Octo benar-benar memilih tempat yang bagus. Gumam nya dalam hati.
"Sir." Panggil Matt, Armand lantas menoleh.
Matt menunjukkan sebuah tali dan juga sebuah ikat rambut berwarna maroon. Entah itu milik Ody atau bukan, tapi itu sudah bisa menunjukkan kalau pasti ada sesuatu terjadi di sini.
"Mungkin kau harus bertanya pada mereka." Ucap Armand dengan suara lantang. Mereka semua menoleh.
"Dia tidak ada di sini___ atau lebih tepatnya, mungkin sudah di pindahkan." Sambung Armand.
Mata Tom langsung tertuju pada tali yang Matt perlihatkan. Tangannya terangkat ke udara dengan memegang tali dan ikat rambut itu. Mata Tom mendelik tak percaya.
"Kita tidak punya waktu." Ucap Armand mengingatkan Tom. Seketika Tom mengangguk.
Tangannya langsung menembak kaki salah satu dari mereka. Semua tersentak. Dan akhirnya satu orang itu langsung terkapar di lantai. Meringis, merintih kesakitan. Darah segar pun mulai membasahi lantai.
"Katakan." Ucap Tom.
Efek tembakan itu ternyata membawa kebungkaman. Entah karena terkejut atau karena mereka memang benar-benar tidak kenal takut. Semua masih tetap diam dengan mata yang hanya tertuju darah yang kini sudah mengalir menyentuh pinjakan mereka.
"Wahh... apa pelatihan itu berhasil?" Tom sudah mulai hilang kesabaran. "Entah ini bentuk loyalitas atau kebodohan." Lanjutnya. Dia sudah mulai gila.
"Tarik salah satunya dan letakkan tangan nya di meja." Perintahnya. Tangannya mengambil pisau yang ia selipkan di belakang celana.
Mata mereka kembali terbelalak.
"Apa yang begitu penting untuk lelaki yang hanya bisa menggunakan pistol dalam bekerja? Dengan tubuh sebesar ini kau akan sulit bergerak. Jadi ku rasa jari tanganmu pasti lebih berharga dari apapun."
Lelaki itu hanya bisa menggeleng. Wajahnya pucat pasi. Tapi tetap memilih diam. Mereka jelas tahu Tom bukanlah orang yang hanya sekedar mengancam. Tapi konsekuensi yang nantinya mereka terima mungkin akan lebih parah dari ini. Mungkin aja sebuah kematian.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Billionaire Prison
Mystery / Thriller[Budayakan VOTE Sebelum Membaca] The Billionaire Prison [Love is Difficult] "Apa yang kau katakan hingga ibuku berencana untuk menikahkan kita? Kau yang menghasut dia? Kau pikir kau siapa hingga bermimpi untuk menjadi pasangan ku?" Anna terdiam seje...
