lagu?

4 1 0
                                        

Cahaya mentari pagi membangunkan pemuda ini dari tidurnya, sambil mengucek mata, ia menutup gordeng agar tidak silau mengenai mata.

Seseorang datang menghampirinya sambil membawa nampan berisi makanan. 'Udah pagi, mau tidur lagi loe?'

"Bodo amatlah, orang hari ini gue gak sekolah." ucap si pemuda

'Gue bawa sarapan ni buat loe, mumpung gue lagi baik hati'

'Thanks Jay." ucap si pemuda.

'Tidur loe nyenyak?'

Si pemuda mengangguk sebagai jawaban, ia lalu pergi ke sebuah ruangan misterius, di tengah ruangan itu terdapat satu peti mati yang terbuka.

"Kenapa loe sering dateng ke mimpi gue, apa emang salah gue berhasil nangkep loe malam itu?'" ia memperhatikan seseorang yang tertidur dengan tenang di atas peti.

"Seharusnya loe ngerasa beruntung karna tugas loe cuma tidur aja disini, gak ngerasa ketakutan kaya temen-temen loe yang lain." lanjutnya diiringi kekehan.

"Cukup diem aja di sini, gak perlu hantuin gue lewat mimpi."

Si pemuda berjalan keruangan lain untuk menemui rekannya.

'Ngapain lagi?' ucap si rekan yang duduk di ruang makan sambil menikmati kopi.

"Gue udah nyimpen beberapa barang gue disini, kita cuma perlu pergi ke tempat yang sepi." balas si pemuda santai.

~~~~~

'Bangun juga loe, baru banget gue beresin temen loe. Obatnya agak lambat,'

"J-Joan,"

'Gue geser keset ini biar seolah-olah dia jatoh kepeleset, padahal gue dorong dia, Tapi... Dia juga anak yang pinter, ada bau aneh di sapu tangan ini yang sempet ngebuat dia nahan nafas, sayangnya gue tau itu,'

'Lukanya bisa jadi lumayan nih kalo gak cepet ditanganin,'

"Singkirin tangan kotor loe dari temen gue!"

'Kenapa? Bukanya loe udah nyerah, berarti gue boleh gan-"

Sayang sekali pembicaraan itu harus terhenti karna kesadaran Joan yang hilang sepenuhnya.

Kedua suara tersebut terdengar sama namun salah satunya terdengar ketakutan, Joan yakin itu suara Hesa yang asli.

Namun siapa satunya lagi? Apakah kembaran Hesa?

Semua terasa sangat nyata, kepalanya yang terbentur, bau aneh yang dipaksa kan masuk ke penciumanya serta perbincangan itu.

Joan benar2 ragu kejadian yang ia alamin hanya sebatas mimpi.

"Kak Hesa udah nyerah? Kenapa dia lakuin itu. Ish sial banget gue keburu tepar sebelum denger semuanya,"

Joan menggerutu karna sudah melewatkan hal penting.

Andaikan saja dia bisa mendengarkan semuanya. Meskipun begitu, ini menjawab pertanyaan soal Arkha dan Hesa yang sering berbicara serius.

Alasannya memang tak sesimple membicarakan idol semata, berarti Arkha mengerjainya saat itu.

Joan menghembuskan nafas kasar, pusing sekali rasanya.

"Hm. Enak ni lagi tapi kedengeran agak serem."

"Setta?"

Joan menatap horor pemuda rubah itu, sejak kapan dia ada disebelah Joan?

"Sadar juga loe, daritadi gue panggil gak nyaut," ucap Setta kesal.

UndercoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang