Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

44: the best decision

45 13 2
                                        

kelas 12 tuh emang fase yang paling menjengkelkan, banyak yang harus dilakuin. dari mulai uprak, ujian sekolah, sampe ulangan akhir jenjang.

di samping itu juga, mereka harus belajar utbk buat yang belum berkesempatan untuk masuk jalur yang pertama, yaitu snbp. tapi gak jarang penerima jalur snbp juga belajar utbk kalau-kalau tidak keterima lewat snbp.

dua minggu ini hanbin benar-benar dibantai oleh uprak dan tugas lainnya, belum lagi nanti minggu berikutnya ada ujian yang harus dilaksanakan oleh kelas 12.

kalau boleh jujur, hanbin lelah, namun kalau mau mengeluh, hanbin merasa semua orang juga lelah---jadi dia memilih untuk memendam lelahnya sendirian.

mungkin orang lain tidak akan menahu tentang lelahnya hanbin, secara yang orang lain tau hanbin itu orang yang kuat, orang yang cerdas, jadi tidak akan mungkin hanbin bisa kalah dengan kegiatan akhir-akhir ini.

tapi lea tau, ia sadar.

bagaimanapun hanbin juga manusia yang bisa capek, entah dengan hal kecil atau hal besar sekalipun.

bahkan lea sedikit pengap karena melihat hanbin yang terus-menerus sibuk di sekolah. lea merasa... hanbin perlu istirahat sejenak.

mereka berdua akhir-akhir ini juga jarang punya waktu, tapi itu gak jadi masalah. selagi mereka masih bisa saling melihat eksistensi satu sama lain, itu cukup.

tapi kali ini lea udah gak tahan lagi. dia mau hanbin seenggaknya rehat sejenak dari kegiatan-kegiatan itu.

hanya untuk sebentar.

sepulang sekolah, hanbin biasanya langsung pulang setelah menyapa lea di koridor depan. mulai dari beberapa hari yang lalu, hanbin membawa mobil ke sekolah, dikarenakan ia ingin pulang sekolahnya tentram tanpa suara macet dan lainnya.

lea yang udah keluar kelas mencari keberadaan hanbin. dan gotcha! ketemu. hanbin berjalan bersama heeseung dengan muka lesunya.

gak pake lama, lea nyamperin hanbin dan menunjukkan senyumnya pada cowok itu. "kak hanbin!"

hanbin yang tadinya muram langsung berubah ekspresinya. ia menyunggingkan senyumnya tipis. "hai, le. kenapa nyamperin? tum---"

"ikut gue!" detik itu juga lea menarik hanbin. hanbin kaget kalo boleh jujur, tapi dia gabisa ngelak. yang bisa hanbin lakuin cuma pamitan sebentar sama heeseung yang ngeliat mereka dengan raut kebingungan.

sampailah mereka di parkiran, lebih tepatnya di depan mobil hanbin. "mau ngapain le?" tanya hanbin yang masih sedikit syok.

"mana kunci mobil lu kak." lea mengadahkan tangan, bermaksud meminta hal yang baru saja ia sebut.

"buat?" alis hanbin berkerut.

"gue yang nyetir, lu duduk manis aja di samping gue."

terlihat raut wajah hanbin sedikit terkejut dengan penuturan lea. "le jangan aneh-aneh anjir, emang lo bisa nyetir?"

"udah khatam gue bawa mobil mah, gausah diraguin. sini kak, mana kuncinyaaaa!"

dengan sedikit ragu, hanbin mengeluarkan kunci mobil dan memberinya ke lea. "lo gak bakal bawa kita berdua ke rumah sakit, kan?" tanya hanbin penuh penekanan.

lea berdecih. "kok lu trust issue banget sih kak? abis disakitin sama siapa sih?"

"monyet," umpat hanbin dengan pelan.

tanpa lama, mereka masuk ke mobil. dengan lea yang duduk di kursi kemudi, dan hanbin yang duduk di sampingnya.

lea mulai menyalakan mesin, dan hanbin udah pasti mantau dengan tatapan penuh keraguan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Aversion | Sung HanbinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang