16: Dream Team

768 31 7
                                        


Sinar mentari menyambut hangat tubuh telanjang Tama pada pukul 7 pagi. Dia membuka matanya pelan-pelan sambil mengingat-ingat posisinya. Di samping Tama, terbaring Andi dengan pose canggung ke sana kemari. Satu lengannya menggantung di tepi tempat tidur, satu kakinya menindih lutut Tama, satu lengan lain terulur ke kepala ranjang, mengekspos keteknya yang mulus tanpa bulu, satu tungkai sisanya terlipat dengan tidak nyaman. Kepala Andi menyusup di antara dua bantal. Mulutnya menganga kecil, iler mengalir hingga kering di sudut bibirnya.

Tama terkekeh melihat itu. Dia geleng-geleng kepala sambil bangkit untuk ngulet.

"Hoaaammm ...." Setelah garuk-garuk keteknya, Tama menoleh dan melompat ke atas tubuh Andi.

BRUK!

Wajahnya langsung dia benamkan ke ketek mulus itu, menggosok-gosok hidungnya dengan gemas. Aroma serutan pensil menguar menusuk hidungnya.

Andi langsung terbangun kaget. "Apa? Kenapa?" Kepalanya celingukan mencerna informasi. Begitu melihat Tama di keteknya, Andi langsung meluruskan posisi. "Eh, Tuan." Dia juga mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan nyawa.

"Good morning," sapa Tama ke ketek Andi.

Andi menguap sekali sebelum menjawab, "Good morning, Tuan. Maaf saya ketiduran."

"Hahaha. Gapapa. You must be tired. Dari kemarin physical test terus. Plus semalam crot sampe tiga kali."

"Hehehe ...." Andi terkekeh malu sambil menggaruk tengkuknya. "Enak, Tuan."

"Apa yang enak? Crot depan ibumu?"

Mata Andi langsung membelalak pucat. Pipinya merona merah. "Bu ... bukan yang itu. Yang sama Tuan—Aaargh!"

Tama mencubit nenen Andi sambil mengangkat wajahnya dari ketek itu.

Semalam, kontol Andi dikocokin sambil video call-an dengan ibunya. Tama bahkan memukul pantat Andi dengan alasan Andi bandel. Alih-alih cemas, ibunya malah mendukung penuh, "Pukul aje pantatnya, Pak Bos! Emang bandel tuh anak!" Kontol Andi dikocok di depan ibunya, dan Andi crot.

"Ya udah, bangun," kata Tama sambil turun dari tempat tidur, mengambil jubah mandi dari sofa, lalu berjalan menuju pintu balkon. "Panggil Garuda Satu ke sini. Bilang saya sudah siap sarapan.."

[ ... ]

Seperti halnya kemarin, Tama menghabiskan sarapannya di balkon, ditemani Andi sebagai pemenang sesi semalam. Matahari bersinar hangat pagi itu, langit tampak biru di atas laut, meski banyak awan putih menggantung dekat horison. Garuda Sepuluh menyajikan Japanese "Asagohan" versi Kaiseki ketika Andi sedang membalurkan sunscreen ke tubuh telanjang Tama.

"Selamat pagi ...!" sapa Garuda Sepuluh dengan suara dalam yang kebapakan. Dia berdiri di depan meja makan Tama dan membiarkan dua pengawalnya menata set sarapan ala Jepang itu di atas meja bertaplak putih. "We go east for today, Tuan. Semoga Tuan suka."

Garuda Sepuluh bahkan menjelaskan sarapan itu satu per satu, dengan cara narasi yang menenangkan hati. "Orang Jepang menyebutnya koshihikari, atau nasi premium. Saya sajikan dengan sup miso yang ada kerang shijimi-nya, supaya nyaman di perut Tuan sepanjang hari. Lalu, sisa ikan bakar kemarin saya marinasi dengan miso di sini. Penuh protein." Garuda Sepuluh mengedipkan sebelah mata seperti memberi kode.

Selain yang disebutkan dan diceritakan Garuda Sepuluh, tersaji pula tamagoyaki (telur dadar gulung), natto, dan berbagai macam tsukemono (acar Jepang). Garuda Sepuluh menuang teh hijau ke dalam cangkir Tama, lalu dia bercerita, "Ini namanya gyokuro, atau bahasa Indonesianya 'Embun Permata'. Di Jepang, teh ini ada di kasta tertinggi. Tuan mau tahu kenapa teh ini spesial?"

Mencari Budak SetiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang