22: Ruang Logistik

417 21 24
                                        


Pengumuman hasil voting!

Jumlah pemilih: 35 orang (per 15 Juni 2026)

Sebanyak 60% (9 orang) pilih "Bima vibrator, Ohan worship Garuda"

Sebanyak 9% (5 orang) pilih "Bima vibrator, Ohan demo masak"

Sebanyak 14% (4 orang) pilih "Bima melukis, Ohan worship Garuda"

Sebanyak 17% (11 orang) pilih "Bima melukis, Ohan demo masak"

Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.

Maka dari itu, Part 22 akan mengikuti suara terbanyak.

Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 21 setelah penayangan Part 22 ini sudah tidak berlaku lagi.

Selamat membaca!


PS:

BTW, voter di cerita ini masih terhitung sedikit. Harapanku di voting eliminasi nanti, jumlahnya bisa lebih gede dari ini, ya. Kalau enggak, cerita ini betulan akan disetop atau diturunkan prioritasnya.

Untuk lokasi Episode 3, berikut hasil voting di Substack:

Jumlah pemilih: 15 orang

Sebanyak 33% (5 orang) pilih "Puncak, Bogor"

Sebanyak 47% (7 orang) pilih "Kawasan Industri, Karawang"

Sebanyak 20% (3 orang) pilih "Sebuah pulau, Kep. Seribu"


[ ... ]


"Waktunya request ke Sepuluh untuk yang alat perlu dipakai nanti," ungkap seorang pengawal setelah membangunkan Bima dan Ohan dari tidurnya. "Maksimal pelaporannya jam tujuh supaya alatnya bisa disiapkan. Lewat dari itu, dianggap tidak menggunakan alat apa pun."

"Oke." Ohan mengangkat jempolnya meski matanya baru setengah terbuka.

"Selesai request, langsung ke breakfast room.'

Bima dan Ohan mengangguk paham.

"Saya tunggu lima menit kalau masih mau ngumpulin nyawa dulu. Habis itu, ikut saya ke dalam."

Cuaca pagi itu cukup mendung. Ketika matahari terbit, awan menghiasi langit sehingga subuh terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Gazebo masih cukup gelap dengan lampu-lampu taman yang pendarnya memudar. Bima terbangun lebih dulu dibandingkan Ohan. Dia mengguncang tubuh Ohan dan menariknya duduk karena seorang pengawal membangunkan mereka. Setelah mendapat keterangan itu, keduanya masih duduk memeluk lutut untuk menyegarkan diri.

"Badan masih sakit-sakit, anjir, sisa kemaren," gumam Ohan.

"Yang semalam?"

"Bukan. Yang tantangan nge-gym kemaren lusa." Ohan menghela napas. "Kontol juga ngilu, anjing."

Bima terkekeh kecil. "Morning wood?"

"Iye." Ohan memainkan kontolnya yang dikerangkeng. Kontol itu seharusnya bisa ngaceng bebas pada pagi hari, tetapi sayang kontolnya dikurung dalam kerangkeng besi. Setelah meratapi kontolnya yang terpenjara, Ohan menyenggol Bima. "Jadi gimana, Bim? Elo mau presentasi apa?"

Bima memandang lautan lepas di depan gazebo. Tatapannya kosong. "Aku enggak senekat Jackson atau Samuel yang bisa di-fisting atau di-sounding ...."

Mencari Budak SetiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang