Pengumuman hasil voting!
Jumlah pemilih: 29 orang (per 26 Mei 2026)
Sebanyak 31% (9 orang) pilih "Memilih pasangan"
Sebanyak 17% (5 orang) pilih "Menambah durasi"
Sebanyak 14% (4 orang) pilih "Memiliki peralatan"
Sebanyak 38% (11 orang) pilih "Mengetahui tantangan"
Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari itu, Part 19 akan mengikuti suara terbanyak.
Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 18 setelah penayangan Part 19 ini sudah tidak berlaku lagi.
Pengundian pasangan peserta di cerita ini dilakukan melalui kartu tarot (kecuali pasangan Ibas).
Selamat membaca!
PS:
BTW, voter di cerita ini dikit banget, ya. Aku sedang mempertimbangkan menyetop cerita ini. Soalnya enggak laku. Wkwkwk. Mendingan bikin cerita lain yang bisa dinikmati lebih banyak orang.
[ ... ]
Ohan panik.
Keempat pilihan itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia ingin sekali mengambil pasangan, durasi, maupun bantuan peralatan, tetapi kalau tidak tahu tantangannya apa mungkin percuma. Strategi tetap tak bisa dibangun tanpa mendapat clue.
Pasangan yang dipilih mungkin tidak bisa diajak kerja sama. Durasi yang ditambah mungkin malah menambah stres. Peralatan yang diberikan tidak bisa digunakan optimal kalau strateginya sudah salah sejak awal.
Ohan berdiri dengan napas memburu di depan Garuda Satu. Dia masih menggosok tengkuknya untuk berpikir. Aura Garuda Satu yang intimidatif membuat Ohan mulas. Akhirnya, dengan terpaksa Ohan memilih, "Saya mau tahu game-nya apa. Saya pilih keuntungan keempat."
"Terima kasih, Ohan," ungkap Garuda Satu sambil mengangguk. "Tantangan akan diberi tahu setelah ini. Silakan ikuti pengawal untuk masuk ke ruanganmu."
Ohan membuntuti seorang pengawal keluar dari ruangan. Dia berjalan menyusuri mansion yang besar itu menuju area luar tadi. Bahkan, melewati arena yang mereka gunakan di Tantangan #5 pada pagi hari. Ohan menuruni undakan batu yang hangat menuju sebuah cottage mungil pinggir pantai. Cottage itu dijaga pengawal dengan ketat.
Namun, cottage itu cantik sekali.
Seperti resor di Maladewa. Dermaga kayu menjorok kecil ke laut, berujung ke satu bangunan kayu di atas air yang indah. Atapnya daun kelapa kering, dindingnya batang kayu yang tebal, berasa sedang liburan di Bali. Air lautnya biru terang, menampilkan pasir putih di bawahnya sehingga memendar warna toska di bawah bangunan.
"Jadi ini hadiah untuk yang menang Game #3?" Ohan bergumam ke dirinya sendiri.
Pengawal yang menduluinya menoleh. "Iya, Mas."
"Eh, Mas. Boleh jawab emang?" Ohan terkejut mendapat respons itu. "Biasanya pengawal enggak boleh ngomong ama peserta."
"Mumpung enggak ada yang lihat." Dia terkekeh kecil. Keduanya memang sedang berjalan menuruni tebing menuju resor itu. Melewati pasir pantai yang putih dan rerumputan tepi laut yang menggelitik telapak kaki. Sekitar 500 meter dari situ terdapat arena mencari ikan di laut yang dilaksanakan dua hari lalu. "Saya pengawal dari Kaltim juga. Saya tahu Mas Ohan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencari Budak Setia
General FictionUntuk hadiah ulangtahunnya, Tama memiliki tugas menyeleksi cowok-cowok kekar yang akan menjadi ajudan baru ayahnya. Tak ada syarat. Tak ada batas. Tama boleh melakukan apa pun kepada para kandidat ajudan tersebut. Story by Bocah Titipan yang sengaja...
