26: Strength, Agility, Vitality

402 21 18
                                        


Delapan peserta berbaris di depan mes salah satu perusahaan Gardapati di Karawang. Mereka baru tiba dari perjalanan panjang lewat udara dan darat. Pengawal di sekitarnya sedang mengatur pembagian kamar dan pengiriman logistik ke arena nanti malam. Kedelapannya berdiri di bawah sinar mentari sore, tepat menghadap ke barat, posisi istirahat dengan kedua tangan di belakang, shirtless, hanya mengenakan celana loreng tentara. Tubuh kekar mereka lembap oleh keringat. Mengilat memantulkan cahaya matahari sore yang cerah.

Sebuah mobil tiba di depan mereka. Satu peserta terakhir yang belum bergabung turun dari mobil, soalnya dia melakukan perjalanan bersama rombongan Tama.

Sosok itu Ohan. Digiring satu pengawal dalam kondisi sudah telanjang dada pula, dengan celana loreng hitam yang sama.

Melihat sosok itu berjalan ke barisan, Jackson langsung menundukkan kepala. Bahunya berguncang. Air matanya melelehkan tangisan.

Andi menepuk-nepuk bahu Jackson, menenangkan. "Yang sabar, Bro."

Bahu itu berguncang makin kuat.

Suara isakan Jackson cukup jelas, membuat enam peserta lain menoleh ke kanan, ke arah Jackson. Peserta nomor urut 1 itu menangis karena orang yang paling dekat dengannya selama audisi tereliminasi.

Ohan yang tadinya berjalan dengan senyum bangga, memamerkan giginya, langsung memudarkan senyum. Ketika melewati Jackson, Ohan menunduk dan berkata, "Sorry."

Meskipun sejatinya ini semua bukan salah Ohan.

Kemunculan Ohan tanpa Bima dari mobil itu menghantam para peserta lain pada satu kenyataan: eliminasi itu nyata. Sudah tak akan ada lagi double save seperti yang terjadi ke Jackson dan Samuel di episode pertama.

Setelah Ohan bergabung dalam barisan, Garuda Sepuluh berdiri di depan sembilan peserta tersisa untuk mengumumkan beberapa peraturan.

"Kita di sini enggak lama," tambahnya setelah membacakan aturan. "Mungkin lusa kita sudah check out dari sini. Maka dari itu, hanya ada dua kamar tersedia selama dua malam ke depan. Masing-masing kamar cuma punya tiga kasur. Kenapa? Karena setiap malam satu orang akan tidur dengan Tuan Tama di hotel, dan dua orang bottom two di hari tersebut, akan tidur di saung dekat sawah.

"Atau entah pengaturannya gimana," Garuda Sepuluh mengangkat kedua bahu, "yang pasti kamar tidur hanya ada dua, masing-masing dengan tiga kasur dan tiga handuk saja.

"Acara nanti malam dimulai pukul delapan, tapi jam tujuh kalian harus sudah siap di sini untuk naik truk ke lokasi. Arenanya enggak di sini. Gunakan dua kamar yang ada sekarang, bebas mau yang mana saja, untuk beristirahat maupun mandi. Kita belum tahu siapa yang bakal pake kamar itu nanti malam. Jadi kalian atur sendiri. Ada pertanyaan?"

"Siap, tidak."

"Oke. Kalau gitu silakan bubarkan barisan."

Permana yang kali pertama menghampiri Jackson untuk memeluknya. "It's okay." Permana menepuk-nepuk punggung Jackson.

Jackson tak merespons. Dia fokus menghentikan tangisnya sambil menyeka air mata.

Beberapa peserta lain memberikan simpati dengan menepuk tubuh Jackson setidaknya sekali, kemudian berjalan duluan ke dalam mes.

Jason yang kompetitif langsung berjalan lurus ke dalam mes, memasuki salah satu kamar untuk mandi. Ibas membuntuti di belakangnya agar dapat mengambil kamar tidur kedua, lalu menggunakan kamar mandinya juga. Nicky justru melipir ke lantai dua mes, diam di balkon menatap perkebunan di seberang mes dalam kesendirian.

Dari lantai dua balkon, dia menatap Natta yang masih menenangkan Jackson bersama Permana. Di belakang Natta ada Samuel yang sepanjang perjalanan hari ini menempel terus ke Natta.

Mencari Budak SetiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang