Pengumuman hasil voting!
Jumlah pemilih: 48 orang (per 29 Juni 2026)
Sebanyak 46% (22 orang) pilih "02. Bima"
Sebanyak 54% (26 orang) pilih "10. Ohan"
Belum ada pembaca yang menggagalkan voting lewat jalur eksklusif.
Maka dari itu, Part 24 akan mengikuti suara terbanyak.
Dengan ini, seluruh voting yang terjadi di Part 23 setelah penayangan Part 24 ini sudah tidak berlaku lagi.
Selamatmembaca!
[ ... ]
"... Ohan."
Ohan berlutut ke atas lantai dengan bahu melorot lega. Napasnya memburu, melepaskan ketegangan yang memuncak setelah Tama mengulur-ulur pengumuman siapa yang diselamatkan dan dieliminasi.
"I'm impressed with your audacity," kata Tama sambil mengangkat bahu. "Aksimu menantang Garuda Utama untuk presentasi perlu kuapresiasi. Aku suka prajurit yang berani."
"Terima kasih, Tuan." Perlahan-lahan Ohan bangkit berdiri lagi. Senyumnya lebar, dari telinga ke telinga. Matanya berbinar-binar.
Di samping Ohan, Bima menundukkan kepalanya. Rahang Bima mengeras. Dia sudah kalah. Langkahnya terhenti di sini. Kecemasannya bahwa dia pulang benar-benar terwujud. Jantung Bima rasanya mencelos. Perutnya hampa.
Bima kecewa kepada dirinya sendiri.
Tama menghampiri Bima dan menepuk lengannya. "Good luck with your next journey—if you made it out alive. Kalau aku aja bisa survive di laut, harusnya kamu bisa juga. You're a swimmer, Bim. Semoga bisa ketemu lagi."
Bima mengangguk lemas. "Terima kasih, Tuan."
Tama berjalan mundur meninggalkan mereka berdua, tetapi sebelum pergi dia berkata ke Ohan, "Kita naik helikopter ke bandara. Maybe in 5 minutes." Tama melihat jam di ponselnya sejenak. "Aku kasih kamu waktu untuk say good bye sama Bima. Habis itu, be there with me di heli, ya."
"Siap, Tuan!" Ohan memberikan hormat ke arah Tama.
"Oke." Tama berbalik untuk pergi, tetapi masih sempat berbalik lagi dan berseru, "Jadi khodamku ada enggak, Han?"
"Ada, Tuan!" Ohan lagi enggak kepikiran jokes atau jawaban cemerlang apa pun saat ditodong begitu. Dia sedang happy karena selamat dari eliminasi. Jadi dengan asal dia menjawab, "Khodamnya ..., nenen kiri Garuda Satu."
Untungnya Tama tertawa terbahak-bahak. "HAHAHA! Anjing! Fuck you!" Tama mengacungkan jari tengah sambil meringis terpingkal-pingkal, lalu kembali berjalan membuntuti Garuda Satu menuju helikopter. "You heard that?" Tama menggeplak lengan kekar Garuda Satu. "Khodamku nenenmu. Hahaha."
Ohan cuma bisa mengurut dada karena Garuda Satu enggak tersinggung namanya dibawa dalam jokes itu. Perut Ohan sempat mulas barusan. Kemungkinan besar malam ini dia dihabisi Garuda Satu, sih.
Namun untuk sekarang, dia berempati dulu kepada Bima. Dengan hangat Ohan langsung memeluk Bima di sampingnya. Mendekap erat. "Good luck ya, Bang Bim!" Bahkan, Ohan membenamkan wajahnya di leher Bima, lumayan sedih karena seseorang betulan pulang dari kompetisi ini.
"Thanks, Han." Bima menarik napas panjang. Dia membalas pelukan itu untuk menenangkan diri, lalu mencoba tersenyum.
"Kabar-kabarin kalau udah nyampe rumah. Tapi entar ngabarinnya, habis audisi. Siapa tahu gue menang. Hehehe."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencari Budak Setia
General FictionUntuk hadiah ulangtahunnya, Tama memiliki tugas menyeleksi cowok-cowok kekar yang akan menjadi ajudan baru ayahnya. Tak ada syarat. Tak ada batas. Tama boleh melakukan apa pun kepada para kandidat ajudan tersebut. Story by Bocah Titipan yang sengaja...
