20: Kiss Me Please

399 32 24
                                        


Tim B

Seperti dugaan Ohan, dinamika timnya bersama Andi bukanlah konfigurasi terbaik. Hingga tantangan dimulai, mereka masih belum tahu siapa akan mengentot siapa. Andi bersikukuh bahwa rumor dirinya crot di bool Jackson pagi tadi hanyalah omong kosong. Pada saat yang sama, Andi juga menutup telinga dari fakta bahwa Ohan crot dua kali di Game #3.

"Makanya tim gue menang, Bang. Itu karena gue keluarnya dua kali. Lebih masuk akal kalau gue yang ngentot elo, Bang. Jadi gue enggak akan crot—"

"Itu bukan alasan," tepis Andi. "Kalau pantat saya enak gimana? Kamu pasti crot juga. Udah, saya aja."

Ohan menyerah. Kalau harus di-fuck lagi, Ohan sebenarnya tak masalah. Dia hanya khawatir Andi kelepasan gara-gara keenakan.

Begitu waktu dimulai, Andi dan Ohan kesulitan menyusuri trek yang licin. Di tengah trek, tubuh Andi kepeleset masuk ke jalur treknya Natta. Andi menghantam Samuel yang akhirnya ikut terjatuh. Ohan berlari sedapat mungkin ke bidang miring. Dia terjatuh berkali-kali, tetapi bangkit lagi.

Tinggi badan Andi dan Ohan hampir sama. Siapa pun yang tiba pertama di bidang miring, akan menjadi pemegang tali dan membiarkan rekannya menjadi pihak yang memanjat. Ohan yang tiba pertama. Dia langsung berjongkok dan mendorong dirinya di permukaan bidang miring untuk menggapai tali.

Upayanya berhasil di percobaan ketiga. Kebetulan juga Andi sudah sampai sehingga Ohan langsung membiarkan Andi menangkap kakinya, lalu Andi memanjat di atas tubuh Ohan yang licin, menuju perancah di atas mereka.

"Anjing, enak," gumam Ohan ketika merasakan bidang miringnya bergetar. Kontol Ohan yang tertindih badannya sendiri mulai ngaceng. "Aaaaaahhh ...."

Apalagi sesekali, dalam usaha Andi memanjat tubuh Ohan, Andi malah menyambar kontol Ohan dan menjadikannya pegangan seolah-olah itu tali.

Ohan berteriak panik. "Bang! Bang! Bang! Itu kontol gue, Bang! JANGAN DITARIK! AAAAAARGH!"

Andi merosot dan terkekeh. "Sorry. Hehehe." Meski begitu, tetap saja sesekali Andi berpegangan ke kontol Ohan sebelum akhirnya meremas pinggang Ohan sebagai cengkeraman.

Wajar ketika Ohan berhasil ditarik Andi ke atas, kontol Ohan ngaceng keras. Ohan menyeringai dan mendesis. Sewaktu kontolnya dibetot Andi ke bawah karena dikira tali—sampai kontol Ohan melar panjang—Ohan merasakan ngilu-ngilu-enak-luar biasa. Mata Ohan keblenger dibuatnya. Kontol Ohan mengacung tegak seperti tugu saat berdiri di atas perancah.

TUING!

Namun sayangnya, kontol Andi justru masih lemas. Andi mencoba mengocoknya, tetapi kontol itu tak kunjung ereksi.

Ohan rebahan telentang dan mengangkat kedua kakinya ke atas. "Ayo masuk, Bang!"

"Bentar."

Andi masih mengocok kontol mungilnya dengan tangan. Kebetulan hampir seluruh tubuhnya licin oleh pelumas silikon, jadi mengocok kontol pun sejatinya cepat ngaceng. Anehnya, kontol itu enggak ngaceng-ngaceng. Dada Andi berdebar-debar bukan atas alasan bergairah.

Dia panik. Dia melihat Jason begitu gagah mengentot Ibas di sebelahnya.

PLOK! PLOK! PLOK!

Jason yang berbadan kekar tampak seperti dewa. Bahunya lebar, perutnya ramping, bisepnya mengembang bulat. Tangan Jason mencengkeram pergelangan kaki Ibas dengan kokoh—seolah-olah Jason pejantan tangguh. Panggul Jason juga menggenjot dengan ritme irama musik. Ketukannya konstan. Gesturnya jantan.

Mencari Budak SetiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang