23: Kapal Cepat

439 25 32
                                        


Sekembalinya Ohan ke ruang makan, wajahnya pucat dan mulutnya terkunci. Seolah-olah Ohan baru melihat hantu. Dia tahu persis dia tak bisa mengkhianati janjinya kepada Garuda Satu. Dengan dada berdebar-debar Ohan nyaris membisu sepanjang sarapan dan hanya menjawab sekenanya saja.

Satu-satunya yang Ohan tak paham adalah sekrusial apa fakta bahwa Garuda Satu punya pacar? Itu kan hal normal dan manusiawi. Apakah seorang garuda tidak boleh punya pacar? Ohan rasa tidak. Banyak garuda yang sudah menikah dan punya anak. Garuda Sepuluh, contohnya. Di sesi-sesi istirahat ketika garuda, pengawal, dan peserta mengobrol santai, Garuda Sepuluh sering menyebutkan istrinya. "Iya, istri saya juga kemarin ikut ke acara yang di Bali itu."

Artinya, pasangan bukanlah halangan.

Namun, pasangan Garuda Satu membuat Garuda Satu ikhlas menjadi objek worship di presentasi Ohan.

"Kalau kamu, gimana Han?" tanya Andi.

Ketika Ohan bergabung di ruang makan, para peserta sedang membicarakan strategi bottom two untuk presentasi hari ini. Sarapannya—seperti biasa—full meal yang mengandung daging merah, serat tinggi, susu protein, dan hidangan afrodisiak lain. Ibas membuka topik dengan bertanya, "Kalian mau ngapain aja nanti?" Permana menimpali dengan, "Pokoknya nanti jangan stres, ya. Takutnya enggak ngaceng." Lalu, Andi menambahkan dengan, "Kalau saya sih, kalau jadi bottom two, bakal ngelakuin ini."

Bima menjadi yang pertama menjawab, dikomentari sebagian peserta lain, kemudian Andi menyenggol Ohan untuk bertanya.

"Gue ...." Ohan menelan ludah dulu. "Gue mau coli."

"Di depan Tuan Tama?" Andi mengerutkan alis.

Ohan mengangguk. Dia sengaja memasukkan suapan daging yang banyak sampai mulutnya penuh sehingga dia tak punya urgensi untuk menjawab.

"Coli aja kayaknya enggak akan cukup," ungkap Jackson. "Kamu harus lihat muka Tuan Tama waktu nge-fisting aku. Wajahnya surprised. Dia terkesan sama yang aneh-aneh."

"Bukannya kamu mau sambil worship?" tanya Bima, tetapi suara Bima kalah oleh suara Andi yang lantang.

"Menurut saya sih harus ditambah ngapain, gitu. Jangan cuma coli aja." Andi menyuap dulu dagingnya, mengunyah, menelan, lalu melanjutkan. "Kalau saya, ya ..., saya bakal minta tangan saya diikat, terus saya biarin Tuan Tama mainin titit saya terserah dia, sambil biarin Tuan Tama video call orang terdekat kita. Misal pacar, adik, teman. Terus kita dipermalukan di depan mereka, sampai kita crot. Itu suka banget Tuan Tama sama yang begitu."

"How do you know?" tanya Jason, sambil memutar bola mata.

"Yaaa ... tahu aja." Andi menelan ludah, tak mau membeberkan yang sebenarnya. "Waktu saya nginap sama Tuan Tama, dia bilang gitu ke saya."

"Palingan kamu ditelepon pacarmu, kan?" balas Nicky, malas-malasan sambil menghabiskan dagingnya.

"Y ... ya!" Andi manggut-manggut. "Saya ditelepon pacar sambil ditusuk sama Tuan Tama. Saya dibikin malu—"

Nicky yang biasanya malas-malasan untuk bergabung dalam obrolan, akhirnya menyela, "Malam pertama kemarin Tuan Tama nelepon pacarku, terus aku digauli sambil video call. Aku dibikin malu di depan cewekku, di-fuck sama laki-laki sampai terkencing-kencing. Menurutku, cara untuk impress Tuan Tama adalah kencing. He loves that."

Jason memutar bola mata. Jason si know-it-all juga nimbrung dalam obrolan karena dia termasuk jajaran elite yang sudah tidur dengan Tama. "He loves strong guys, for fuck's sake. Waktu gue tidur bareng, gue disuruh olahraga sambil badan gue dimainin. Gue bench press while he played my dick. Gue rope pushdown, while he rimmed my ass. Gue lat pulldown, while being fucked in the ass. The next day, tantangan kita soal nge-gym juga. Yang pake semut dan kemoceng itu. He definitely loves muscle ...." Jason mengangkat dulu lengannya untuk flexing otot bisep dan trisep, lalu melanjutkan, "and he adores strong men!"

Mencari Budak SetiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang