xxvii › Semestaraya.

24 2 1
                                        

Sudah seminggu lebih Ranum beradaptasi di lingkungan sekolah barunya, selama itu pula ia benar-benar mengabaikan segala pesan dan panggilan dari Semestaㅡbahkan memblokir akun sosial media milik pemuda itu. Dan sekarang, Ranum juga masih berusaha memulai semuanya, baru.

"Terima kasih ya, Hatha."

Termasuk kebersamaan Ranum dengan Hathama, itu adalah salah satu yang baruㅡberusaha dilakukan Ranum.

"Galla udah pulang kan?" Tanya Hathama sembari membereskan dan memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.

Ranum melihat jam tangannya, mengangguk sekilas. "Ya.. dia ada janjian sama tutornya, katanya sih ganti hari karena Sabtu nanti mereka gak bisa." Jawabnya seadanya.

"Pulang bareng gue, mau?"

"Huh?" Ranum berpikir sejenak atas tawaran Hathama. "Kayaknya.. gak perlu deh, gue bisa telepon orang rumah atau naik transportasi umum. Gue gak mau ngerepotin lo, Tha."

"Gue gak merasa direpotkan," ujar Hathama setelah menutup dan menggunakan tasnya, "rumah lo kan.. gak begitu jauh dari rumah gue, jadi, gak apa-apa lah."

Ranum terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih pada Hathama yang kini berdiri santai di samping meja, seolah tawaran sederhana itu sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipikirkan panjang.

"Lo yakin?"

Hathama mengangkat sebelah alis. "Kalau gue gak yakin, ngapain gue nawarin?"

Ranum terkekeh kecil. Entah kenapa, jawaban sesederhana itu justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang. "Yaudah," akhirnya Ranum mengangguk. "Gue tunggu lo di gerbang aja ya."

"Siap, Bos."

"Jangan manggil gue begitu."

"Kenapa? Keren, kok."

Ranum memutar bola matanya, lalu meraih tasnya. "Gue gak gaji lo."

Hathama justru tertawa kecil dan berjalan lebih dulu menuju pintu kelas. Ranum menyusul beberapa langkah di belakangnya, bersamaan dengan handphonenya yang bergetar dari dalam saku.

Ranum berhenti untuk sesaat, pikirannya langsung tertuju pada satu nama yang sudah berusaha ia singkirkan. Namun ketika layar handphone menyala, hanya ada notifikasi dari grup kelasㅡia mengembuskan napas pelan.

Bukan dia, Semesta.

"Num."

Suara Hathama membuat Ranum kembali menoleh.

"Lo ikut pulang atau mau nginep di kelas?"

Ranum memasukkan kembali handphonenya ke saku, lalu tersenyum tipis.

"Ikut. Gue langsung ke gerbang, dan lo ambil motor di parkiran, ya."

Hathama mengangguk. "Oke. Jangan ngilang."

"Emang gue anak kecil?"

"Kadang-kadang." Sahut Hathama diselingi tawa mengejek.

Ranum mendengus malas, "Tha."

"Iya, iya. Berangkat."

Ranum menggeleng pelan sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kelas. Suara tawa Hathama yang semakin menjauh masih terdengar samar di belakangnya, tetapi ia memilih untuk tidak menghiraukannya.

Koridor sekolah sudah mulai sepi. Beberapa siswa masih terlihat berjalan berkelompok menuju halaman depan, sebagian lainnya sibuk menunggu jemputan di sekitar lobi. Ranum berjalan melewati mereka dengan langkah santai, sesekali membenarkan posisi tas yang menggantung di bahunya.

Begitu sampai di lantai bawah, ia melewati halaman sekolah yang mulai dipenuhi kendaraan. Suasana sore terasa berbeda dibandingkan ketika jam pulang baru saja dimulai. Tidak lagi seramai biasanya, hanya menyisakan suara percakapan beberapa siswa dan deru kendaraan yang keluar-masuk area sekolah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 7 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang