Part 4 :Texting

65.1K 3.4K 82
                                        

Pagi ini Ribka bangun lebih pagi karena ia mulai kembali bekerja. Ia memastikan kembali penampilannya di depan cermin. Tadinya ia berencana akan memakai lagi pakaian yang ia pakai saat accident saat itu karena di lemari tidak ada pakaian yang cocok untuk bekerja. Namun saat ia bangun tadi pagi, sudah terdapat sebuah baju dan sebuah flat shoes di sofa kamar.

Awalnya Ribka berat memakainya saat melihat merek dari sepatu dan baju tersebut. Namun setelah mempertimbangkannya, Ribka memutuskan memakainya untuk hari ini dan mengembalikannya pada Arvio setelah ia cuci nanti. Untuk masalah make up, untunglah Ribka selalu membawa alat make up minimalis. Tidak perlu terlalu berlebihan karena ia memang tidak suka terlalu menor.

"Okay, Ribka. Hari ini kita mulai bekerja. Bless me, God," ucap Ribka sambil memandang pantulan dirinya di cermin.

Ribka membuka pintu kamarnya dan melihat Arvio yang sudah duduk di meja makan dalam balutan jas Putih dan kemeja hitam tanpa dasi. Benar-benar membuat Ribka terpesona oleh kegagahannya.

"Hei, mau sampai kapan kamu berdiri disana? Ayo, sarapan," ajak Arvio. Ribka yang baru tersadar dari lamunannya langsung ikut duduk di meja makan.

"Kamu cantik pakai baju itu," puji Arvio.

"Ka-kamu juga gagah pakai jas," puji Ribka dengan pipi yang merona.

"Masa sih? Wah ... berarti aku harus pakai jas terus dong biar gagah," goda Arvio sambil pura-pura berpikir.

"Ngak begitu juga kali, Ar." Keduanya tertawa bersama-sama.

"Jadi sudah siap mulai bekerja, Miss Ribka?"

"Tentu Mister Arvio," jawab Ribka dengan senyuman.

"Tapi ... Aku masih belum tahu jabatanmu di sini." Arvio terdiam.

"Kurasa kamu harus secepatnya turun, jika tidak, kamu akan benar-benar terlambat di hari pertama," ucap Arvio sambil melihat jam tangannya.

Ribka melihat jam di tangan kirinya.

"Waduh, lima menit lagi. Aku pergi dulu, ya. Thanks untuk lima hari ini. Byeeee...." Ribka langsung berlari keluar kamar tanpa Arvio sempat berbicara lagi.

***

"Permisi, Bu Soraya," ucap Ribka setelah mengetuk pintu dan masuk ke ruangan atasannya itu.

"Oh, Ribka. Duduklah." Bu Soraya langsung menghentikan kegiatannya dan menghadap pada Ribka.

"Jadi, bagaimana keadaan kakimu?" Tanya Bu Soraya.

"Baik, Bu," jawab Ribka. Tadinya ia pikir Bu soraya akan memarahinya karena langsung izin di hari pertama bekerja.

"Syukurlah. Saya nggak menyangka kamu jatuh di tangga seperti itu. Katanya sampai hampir patah tulang ya?" ucap Bu Soraya prihatin.

"Patah tulang?" Tanya Ribka yang bingung.

"Ya, saya dapat telepon dari dokter dan salah satu staff yang menolong kamu. Katanya kamu jatuh di tangga darurat. Kakimu retak dan sempat koma dua hari karena benturan di kepalamu. Kamu gak kenapa-kenapa, kan? Saya dan team sempat mau menjenguk, tapi dokternya melarang karena keadaanmu sangat parah. Apa gak lebih baik kamu istirahat satu minggu lagi? Saya takut ada apa-apa sama kamu."

Ribka sangat terkejut mendengar ucapan Bu Soraya.

Apa-apaan ini? Jatuh? Koma? Retak? Kepala terbentur?? Please deh, aku hanya menabrak seorang Arvio dan terkilir. Kenapa jadi begini ceritanya?

Size of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang