Ribka berlari ke dalam kamar yang tadi ia tempati. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Padahal baru 1 beberapa jam ia berakting. Tapi rasanya ia sudah lelah dengan semuanya itu. Ia tidak bisa menutupi lagi rasa sakitnya. Bayangan itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya. Setiap ia melihat wajah pria itu, bayangan akan kejadian malam itu terus melintas di pikirannya. Bahkan saat George menyanyi untuknya yang ia rasakan hanya hatinya yang sakit.
"Dek.." Sebuah suara dan ketukan di pintunya terdengar.
Ribka langsung menghapus bekas air matanya dan membuka pintu itu. Sebuah senyum terukir di bibirnya.
"Ya, kak?" Tanya Ribka.
Anna masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang itu. Ditepuknya sisi ranjang di sebelahnya. Ribka mengikuti keinginan Anna itu.
"De, kamu tahu kan kalau kakak kenal banget sama kamu. Kita udah lama kenal. Kamu juga udah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Bahkan kadang pikiran kita bisa connect satu sama lain kan?" Tanya Anna.
"Iya, kak...Kenapa?" Tanya Ribka bingung.
Anna menghela napasnya.
"Kakak ingin kamu jujur. Sebenarnya ada apa?" Tanya Anna.
"Ada apa apanya sih, kak? Gak ada apa-apa kok." Ucap Ribka.
Anna menatap Ribka dengan tatapan menyelidik.
"Semakin kamu bilang gak ada apa-apa semakin kakak yakin kalau ada yang kamu tutupin." Ucap Anna.
"A...apaan sih, kak? Ini hari pernikahanku. Kok kakak malah asumsi begitu??" Ribka memasang wajah tersingungnya.
"Justru karena ini hari pernikahanmu. Kakak tahu kamu, Ribka. Ini pernikahan yang kamu inginkan, pernikahan yang kamu rancang selama 6 bulan lebih. Tapi kakak lihat kamu sama sekali tidak menikmatinya. Bahkan serasa hanya menghadiri pesta biasa." Ucap Anna.
"Yah ampun, kak. Aku menikmatinya kok. Sangat. Kalau tidak menikmatinya tentu aku tidak mungkin terlihat bahagia dan terus tersenyum kan??" Bantah Ribka.
"Bahagia??Tersenyum?? Okay...Mungkin orang lain melihat seperti itu. Tapi tidak dengan kakak ataupun kedua orangtuamu, Ribka! Kamu gak sadar kalau mami dari tadi tidak melepaskan matanya dari kamu seolah takut terjadi apa-apa dengan dirimu! Sikapmu aneh! Sangat aneh, Ribka! Kamu sadar gak sih kalau kamu lebih terlihat seperti menghadiri pemakamanmu dibandingkan pernikahanmu sendiri!" Seru Anna yang sudah kesal karena Ribka tidak mau jujur padanya.
Ribka hanya diam. Ucapan Anna tadi membuat setiap kata-kata yang akan ia keluarkan kembali tertelan. Ribka mencoba menahan air matanya sebisa mungkin. Ia tidak boleh lemah.
"Kakak gak tahu apa yang terjadi sama kamu, apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan. Kakak bukan cenayang yang bisa mengetahui semuanya. Tapi hati dan firasat kakak mengatakan ada yang tidak beres denganmu. Please...Kamu gak pernah menyembunyikan apapun dari kakak kan??Cerita, dek...Ada apa sebenarnya?" Pancing Anna sambil menggenggam tangan Ribka.
Ribka hanya diam dan menutup rapat bibirnya. Mengatahui Ribka tidak akan mengatakan padanya, Anna bangkit berdiri. Dilihatnya Ribka yang kini juga ikut menatapnya.
"Kalau kamu gak mau cerita, gak masalah. Kakak akan keluar dan mengatakan kepada seluruh tamu disana kalau pengantin wanitanya menangis bukan karena terharu. Tapi karena menyesal sudah menikah. Dan kita lihat bagaimana reaksi keluarga disana." Ancam Anna.
"Gak! Gak! Kakak gak boleh melakukan hal itu! Please, kak..."Ribka langsung menahan tangan Anna yang hendak melangkah.
"Kalau begitu kamu cerita. Ada apa sebenarnya. Jangan mencoba membhngi kakak." Ingat Anna. Bukannya ia kejam. Sejujurnya ia tidak mungkin melakukan ancamannya tadi. Cuma Ribka memang harus diancam seperti itu baru mau jujur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Size of Love
RomanceRibka Deviano seorang gadis berumur 24 tahun yang memiliki tubuh ekstra. Dengan tinggi 160 cm dan berat badan 90kg, ia tetap percaya diri. Tiga prinsip yang ia pegang di dalam hidupnya: 1. My first boyfriend=my last boyfrien...
