"Morning, Bee," sapa Ribka saat melihat George keluar dari kamar dengan ekspresi masih mengantuk.
"Morning, Flowy. Kenapa kamu sudah bangun? Bukankah kamu bilang hari ini kamu tidak ke kantor?"
"Aku ingin membuatkan sarapan untukmu. Selama ini kamu terus yang memasak sarapan untukku. Mulai hari ini, biar aku yang memasak untukmu, ya," ucap Ribka sambil membelakangi George dan fokus pada masakannya.
"Tapi, Flowy ... kan aku su—"
"Kamu duduk diam saja di sana. Jangan membantah! Bukankah kamu juga sudah lama tidak mencicipi masakanku? Atau ... kamu mau aku memberikan masakan ini pada James?" ancam Ribka.
Tanpa tawar menawar George langsung duduk diam di kursi yang ada di dapur. Ancaman Ribka mengenai James itu memang paling ampuh. Bukannya George tidak percaya pada Ribka, ia percaya bahkan sangat percaya kalau Ribka tidak mungkin selingkuh dengan James. Hanya saja ... ia tidak percaya dengan pria yang kini berstatus sebagai teman istrinya itu.
"Nah, begitu manis, kan," ucap Ribka saat melihat George duduk dengan pasrah. Ribka membalik tubuh dan kembali fokus pada masakannya. Kali ini ia sedang mewujudkan salah satu impiannya, yaitu memasak untuk suaminya di pagi hari. Apalagi kini di temani dengan George yang duduk manis sambil menatap setiap gerakannya. Sungguh pagi yang sangat indah bagi Ribka.
***
"Jadi sampai sekarang kalian belum melakukannya?!"
"Kak!" pekik Ribka karena suara Anna yang sangat keras. Beberapa pengunjung menatap mereka karena ucapan Anna tadi. Anna hanya bisa tersenyum meminta maaf.
"Kakak ini, bisa tidak, sih, suaranya dikecilkan sedikit?" sindir Ribka.
"Sorry ... refleks," ucap Anna sambil menujukkan deretan giginya.
"Mereka tidak mengerti ucapan kita juga, biarkan saja. Tapi ... bagaimana mungkin kalian tidak....Bukankah ini sudah beberapa bulan sejak kalian berbaikan?" tanya Anna yang masih tidak percaya.
"Kan sudah aku bilang tadi kalau—"
"Kamu masih terbayang-bayang kejadian malam itu?" sambung Anna.
"Kalau sudah tahu kenapa tanya lagi?" gemas Ribka.
"Entah mengapa kakak rasa bukan karena hanya bayangan itu saja, Dek. Apa yang sebenarnya kamu rasakan saat itu?" selidik Anna sambil mencondongkan tubuhnya pada Ribka.
"Apaan sih?" protes Ribka yang merasa risih lalu mendorong Anna agar menormalkan duduknya.
"Menurut kakak ya, Dek. Ada baiknya kamu berkonsultasi dengan yang lebih ahli," saran Anna.
"Maksud kakak ke Psikiater?"
"Pokoknya yang lebih ahli. Menurut kakak, lebih baik kamu berkonsultasi dengan orang lain daripada menunggu tanpa kepastian seperti ini. Apakah menurutmu dengan berdiam saja traumamu itu bisa sembuh? Tidak, kan?" ucap Anna lalu meminum tehnya.
"Tapi Psikiater buat orang gila, Kak...," cicit Ribka, namun masih dapat didengar oleh Anna.
"Kamu ditangani Psikiater bukan berarti kamu gila, Anakku....Kalau tidak, coba saja dulu ke Psikolog. Kakak rasa kamu hanya memerlukan terapi tanpa obat-obatan. Yang kamu butuhkan hanya berkonsultasi dengan seseorang yang lebih ahli. Tapi jika memang menurut psikolog kamu harus ditangani oleh Pskiater, baru kamu ke Pskiater. Senyamannya kamu saja."
"Tapi...." Ribka merasa ragu.
"Ini semua untuk kalian, Dek. Apakah kamu mau terus seperti ini? Kamu sendiri juga kan yang tersiksa. George sudah menujukkan kalau ia berubah. Apakah kamu tidak ingin menujukkan kalau kamu benar-benar serius tentang memulai segalanya dari awal? Pikirkan baik-baik, Ribka," ucap Anna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Size of Love
RomantizmRibka Deviano seorang gadis berumur 24 tahun yang memiliki tubuh ekstra. Dengan tinggi 160 cm dan berat badan 90kg, ia tetap percaya diri. Tiga prinsip yang ia pegang di dalam hidupnya: 1. My first boyfriend=my last boyfrien...
