"Thank you buat semuanya, Bee." Ucap Ribka saat ia sudah selesai menyantap dinner mereka.
"No, gak usah berterima kasih, Flowy. Ini semua buat kamu." George tersenyum pada Ribka.
Ribka tersenyum mendengar ucapan George. Ia lalu memandang air laut yang tenang di hadapannya. Malam ini ia sangat bahagia. Hanya saja entah mengapa di sudut hati nya, Ribka masih merasa tidak tenang. Dia tidak tahu kenapa. Ia hanya bisa berharap kedepannya tidak akan terjadi hal buruk pada hubungannya dan George.
"Kamu suka tempat ini?" Tanya George menyadarkan Ribka dari lamunannya. Ribka menoleh pada George.
"Ya...sangat suka...Tapi....Ini dimana? Kenapa aku bisa disini, Bee?" Tanya Ribka yang baru tersadar ia berada di tempat asing dan dikelilingi lautan. Sebenarnya dia sudah bertanya-tanya saat ia mulai terbangun tadi siang, hanya saja saja semua itu terlupakan sejak Gerorge masuk ke kamarnya.
George tersenyum mendengar pertanyaan Ribka itu.
Bisa- bisanya perempuan ini baru sadar bahwa ia ada di tempat asing. Apa ia akan marah kalau tahu aku menculiknya??Hahahahaha..., Batin George
"Bee..." Panggil Ribka. "Ini dimana??" Tanya Ribka lagi
"Maldives, ini pulau pribadi yang dimiliki keluarga Bowman. Salah satu tempat bersejarah juga untuk kedua orangtuaku." Jawab George sambil tersenyum.
Ribka mengerutkan keningnya. Maldives??WHATTT???! Ribka langsung bangkit berdiri dan berjalan ketepi pantai. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke bangunan Villa dan George. Mata Ribka menyusuri sekeliling pulau yang dapat dilihatnya. Ribka mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk memastikan pengelihatannya.
George bingung melihat reaksi Ribka itu. Ia kira gadis itu akan heboh bertanya dan minta penjelasan padanya kenapa ia bisa berada di Maldives. Tapi ternyata Ribka malah diam dan memandangi seluruh pulau.
Apa ia gak masalah tiba-tiba disini? atau apakah ia sebegitu shocknya? Tanya George dalam hati.
George bangkit dan menghampiri Ribka.
"Kenapa kamu diam aja, Flowy?" Tanya George dengan lembut.
Ribka mengalihkan pandangannya pada George. George melihat ekspresi Ribka berubah, seperti sebuah gunung merapi yang akan meletus. Sepertinya itu sebuah warning untuk George karena yang akan terjadi berikutnya adalah...
"BEE! GIMANA CARANYA AKU BISA ADA DISINI? INI MALDIVES!! BAGAIMANA BISA??A...AKU...TERAKHIRAKU DI BANDARA DAN...DAN SEKARANG...OH MY GOD!! THIS IS MALDIVES ISLAND. GAK...GAK MUNGKIN...KITA DI BALI KAN??? TAPI INI PULAU...AKU LIHAT BERKALI-KALIPUN SEMUANYA CUMA DIKELILINGI LAUT, GIMANA BISA, BEE??BEE!!GIMANA CARANYA AKU BISA DISINI??JELASIN!! BEEEEEEEEEEE!!!" Dada dan pundak Ribka naik turun seperti habis lari marathon. Melihat Ribka sudah selesai berteriak padanya, George melepaskan tangan yang sedari tadi cepat-cepat ia gunakan untuk menutup telinganya.
"WAHAHAHAAHAHAHAHA." Tawa George pecah melihat reaksi Ribka. Ini baru Ribka yang ia maksud, tadi ia sempat panik saat melihat reaksi awal Ribka yang hanya diam, tapi ternyata ini memang Ribkanya, Ribkanya yang selalu heboh.
Ribka menatap George tajam tanda ia tidak suka George tertawa. Melihat hal itu George cepat-cepat mengendalikan emosinya dan memasang wajah serius, walaupun ekspresinya malah menjadi aneh karena ia menahan tawanya.
"Apa yang lucu?" Tanya Ribka sinis.
"Gak..gak...Udah, kita kesana aja. Aku jelasin disana." George menujuk ke sebuah ranjang kayu yang ternyata berada di dekat meja tempat mereka dinner tadi.
"Tunggu. Kenapa ada ranjang disana?" Tanya Ribka yang juga baru tersadar akan hal itu. Entah kenapa ia yang biasanya cermat hari ini malah jadi tidak peka akan sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Size of Love
Storie d'amoreRibka Deviano seorang gadis berumur 24 tahun yang memiliki tubuh ekstra. Dengan tinggi 160 cm dan berat badan 90kg, ia tetap percaya diri. Tiga prinsip yang ia pegang di dalam hidupnya: 1. My first boyfriend=my last boyfrien...
