George berdiri di depan pintu kamar itu. Langkahnya terasa berat untuk masuk. Ya, Ia sedang berada di depan kamar hotel Ribka. Tadi siang, daddynya baru saja memberitahunya lokasi keberadaan Ribka saat ini. Namun bukan itu yang membuat ia berat untuk masuk. Melainkan ucapan Arvemo mengenai keadaan Ribka.
Flashback On
"Duduk." Perintah Arvemo pada George yang baru saja memasuki ruang kerjanya.
George menuruti perintah daddynya itu. Ia akhirnya mau keluar kamar setelah seorang pelayan mengatakan Arvemo ingin menemuinya mengenai Ribka.
"Saya akan memberitahu dimana Ribka berada." Ucap Arvemo.
George terkejut mendengar ucapan Arvemo. "Be..Benarkah, Dad?? Daddy akan memberitahuku dimana Ribka??"Tanya George penuh harap.
Arvemo tidak menjawab apapun. Ia meletakkan sebuah kertas di atas meja. George mengambil kertas itu dan membacanya.
"Thanks, Dad...Thank you."
Baru saja George hendak pergi, suara Arvemo menahannya.
"Saya belum selesai bicara." Tegas Arvemo. George kembali duduk, dilihatnya wajah Arvemo yang dingin.
"Sebelum kamu menemui Ribka. Saya akan memberitahu keadaannya. Saat mommymu menemuinya, dia dalam keadaan stress berat." George tersentak mendengar ucapan Arvemo.
Ribka??Stress berat??, Batin George.
"Ribka terus menangis dan berteriak histeris. Ia juga memukul dan menjambak dirinya sendiri. Dokter bahkan harus memberinya suntikan obat penenang agar ia berhenti histeris. Menurut Dokter, Ribka mengalami traumatis dan guncangan pada kejiwaannya. Bahkan seorang perempuan yang kuat sekalipun tidak akan mampu jika mengalami apa yang Ribka alami." Ucap Arvemo lalu menatap tajam George yang terlihat terkejut sekaligus terpukul oleh cerita Arvemo.
"Selama 2 hari ini mommy mu menemani Ribka di hotel itu. Daddy tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tapi saat daddy melihatnya waktu itu, keadaannya sangat buruk. Menurut mommy tubuhnya memar dimana-mana dan...ia sangat pucat.Kamu mengerti kan kenapa mommy menamparmu waktu itu?? Bahkan mommymu yang tidak mengandung dan membesarkan Ribka dengan tangannya sendiri merasa terluka melihat keadaan Ribka. Apalagi orang tuanya???"
George hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Jika bukan Ribka yang meminta pada mommy untuk menemuimu, saya tidak akan pernah memberitahumu!"
George langsung mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Arvemo itu.
"Pergilah! Temui dia. Selesaikan masalah kalian! Sungguh, apa yang kamu perbuah sangat memalukan." Ucap Arvemo lalu keluar dari ruangan itu.
George hanya duduk diam memandangi kertas yang ada di tangannya. Berbagai pikiran merasuki kepalanya.
Apakah Ribka memintanya bertemu karena gadis itu sudah memaafkannya?? Atau...atau karena gadis itu akan membatalkan pernikahan mereka??
Flashback End
George menarik napas panjang berkali mencoba menenangkan diri. Ia menekan bel di pintu itu. Tak berapa lama Pintu itu dibuka.
"Mom.." Sapa George.
"Masuklah." Ucap Viona.
"Dia ada di dalam kamar. " Ucap Viona singkat. Viona lalu pergi dari kamar hotel itu sambil membawa koper dan tasnya.
George masih berdiri diam di depan pintu kamar tidur Ribka. Hatinya meragu, ia takut...takut kalau Ribka membencinya. Ia takut jika gadis itu akan membatalkan pernikahan mereka. Bagaimanapun George tidak siap kehilangan perempuan yang ia cintai itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Size of Love
RomanceRibka Deviano seorang gadis berumur 24 tahun yang memiliki tubuh ekstra. Dengan tinggi 160 cm dan berat badan 90kg, ia tetap percaya diri. Tiga prinsip yang ia pegang di dalam hidupnya: 1. My first boyfriend=my last boyfrien...
