5_ First Day Out (1)

4.6K 428 10
                                        

Fay Illy dan Freyya baru saja keluar dari kamar mandi, sama-sama mengenakan handuk melilit tubuh polos mereka. Sementara rambut mereka yang basah dibiarkan tergerai hingga meneteskan air di sepanjang lantai yang mereka lewati. Sambil tertawa riang, Freyya menarik Fay Illy menuju meja riasnya yang berukuran besar, terbuat dari kayu bercat putih dengan cermin berbentuk bintang.

"Biasanya kalau mau rambutnya cepat kering, bi Nana atau dady ngeringin rambut aku pake hair dryer ini," ujar Freyya sambil mengambil hair dryer berwarna pink.

"Hair dryer?" Fay Illy mengernyit. Nama dan bentuk banda itu benar-benar asing.

"Iya...." Freyya menekan tombol pada pegangan hair dryer. Keluarlah angin kencang berhawa panas dengan diiringi suara bising.

Fay Illy sedikit terkejut tapi berhasil mengendalikan reaksinya. Dilihatnya Freyya sudah mengarahkan hair dryer itu ke rambut pirangnya. Karena terbiasa dibantu oleh bi Nana atau Alan, kali ini Freyya sedikit kesulitan melakukannya sendiri.

"Masih banyak sekali yang harus aku pelajari di bumi," pikir Fay Illy seraya menatap alat itu ngeri. Benda itu terlihat mengerikan saat dipegang oleh anak sekecil Freyya. Langsung saja ia mengambil alat itu dari tangan Freyya dan mematikannya hanya dengan melihatnya. "Sini, biar Fay yang bantu kamu sekarang," katanya.

Freyya hanya menurut. "Tapi, kenapa itu dimatiin? Gimana ngeringinnya?" tanyanya heran.

Fay Illy tidak menjawab. Hair dryer itu masih ia pegang di tangan kanannya, sedangkan jemari tangan kirinya membelai helaian rambut Freyya. Dalam hitungan detik, rambut Freyya sudah kering tanpa sisa setetes pun air.

"Kok, rambut aku udah kering lagi?" Freyya semakin bingung di depan cermin.

Fay Illy tersenyum pada Freyya melalui cermin, kemudian meletakan hair dryer di meja rias. "Kan pake hair dryer itu," jawabnya, tentu saja ia berbohong.

Freyya melongo untuk beberapa detik, kemudian ia berputar menghadap Fay Illy. Ia semakin heran, tapi kali ini berubah takjub saat melihat rambut Fay Illy yang juga sudah kering. "Rambut Fay juga udah kering?" Padahal, beberapa detik lalu saat melihat Fay Illy dari cermin, rambutnya masih basah.

"Fairy! Kamu pasti pakai magic!" Freyya memekik riang. Ia kemudian naik ke atas kursi rias dan memeluk Fay Illy erat. "Peri beneran bisa magic!"

Fay Illy hanya membalas pelukan itu tanpa mengatakan apa pun. Saat Freyya masih memeluknya, pintu kamar terbuka. Di sana, Alan tampaknya sudah mandi dan sudah siap dengan kemeja santai untuk pergi ke studio. Tapi, Alan dengan tergesa kembali menutup pintu rapat-rapat.

"Maaf, aku gak tahu kamu belum pake baju!" teriak Alan dari balik pintu. Betapa terkejutnya ia saat baru akan melangkah masuk ke kamar dan langsung melihat pemandangan itu.

Kontan Freyya dan Fay Illy melongo ke arah pintu. "Dady masih aneh...," kata Freyya polos.

"Mungkin emang dady kamu itu aneh,” tukas Fay Illy. "Tapi, dady kamu itu juga lucu," lanjutnya seraya menempelkan hidung mancungnyanya dengan hidung mungil Freyya yang juga bangir. Mereka pun akhirnya tertawa bersama.

Di balik pintu kamar….

Wajah Alan merah merona. Perasaannya masih tidak karuan. Kesalahannya saat itu adalah, tidak mengetuk pintu. Memang ia terbiasa masuk ke dalam kamar putrinya itu tanpa mengetuk terlebih dulu. Sekarang, ia jadi terkesan lancang.

"Tuan?" Bi Nana mengernyit penuh tanya saat mendapati Alan bersandar di pintu dengan ekspresi aneh. “Kenapa mukanya gitu?”

"Bi-bi ngapain di situ?" Alan balas bertanya dengan wajah tenang yang dibuat-buat.

Fairy For DaddyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang