7_ Underwater Fairy

5.1K 448 53
                                        

"Mereka aja gak ngerti, apalagi orang awam? Bener-bener aneh. Mungkin emang fenomena alam aja kali, ya? Hmm... waktu itu juga ada pelangi pagi-pagi, padahal gak gerimis." Alan sibuk menebak-nebak setelah mematikan televisi yang baru saja menyiarkan berita mengenai badai salju di Futaba International School kemarin. Dan karena kejadian itu pula, sekolah Freyya diliburkan. Kebetulan itu adalah hari kamis, hari terakhir Freyya masuk sekolah dalam satu minggu.

"Dady!" Freyya berlari riang menghampiri Alan di ruang TV. Dan Fay Illy mengikuti Freyya dari belakang. Pagi itu, ia mengenakan celana kulot garis-garis hitam putih dan atasan hitam berenda. Sedangkan Freyya, ia sengaja mengenakan pakaian bernuansa sama.

"Pagi, sayang," sapa Alan sambil mengangkat Freyya duduk di pangkuannya. "Wah, perinya dady udah wangi pagi-pagi gini," katanya setelah mencium rambut Freyya.

"Kan aku udah mandi sama ka Fay. Hehee."

Fay Illy sudah duduk di sofa, di samping Alan dan hanya tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu. Tapi Alan, saat melihat senyum polos itu ia justru megingat kelancangannya semalam. Ia menggeleng cepat, membuang jauh-jauh pikiran kacaunya. "Fay, kepala kamu udah gak sakit,kan ?" tanya Alan.

"Udah enggak, kok. Tadi bi Nana juga udah ganti perbannya." Memang pagi itu sudah tidak ada perban melingkar di kepala Fay Illy. Hanya tinggal menyisakan perban di bagian lukanya.

"Oh, syukur kalau gitu. Aku takut kamu kenapa-napa. Kamu kayak gini kan, juga gara-gara aku," sesal Alan. "Nanti kita bikin jadwal lagi buat ke rumah sakit. Kemarin kalian kecapean sampai tidur pules banget di mobil."

"Terserah kamu aja, Al. Dan jangan merasa bersalah lagi, aku gak apa-apa," tukas Fay Illy, mencoba menghilankan rasa bersalah Alan. Sebenarnya, rasa bersalahnya justru jauh lebih besar karena berbohong pada semua orang di rumah itu. Perhatian Fay Illy teralih saat bi Nana melewati mereka dengan membawa sebuah gembor plastik. Ia tertarik melihat alat itu dan langsung mengejar bi Nana. "Bibi, itu apa?"

"Ini?" Bi Nana mengangkat gembornya lebih ringgi. Dan disambut anggukan oleh Fay Illy. "Ini namanya gembor, alat buat nyiram bunga, non. Kenapa memangnya?"

"Bunga? Bunga di depan itu, ya? Atau tanaman di halaman belakang? Aku aja yang siram ya, bi?" pinta Fay Illy penuh semangat.

Bi Nana menengok pada Alan dan Freyya seolah meminta ijin, takut-takut mereka akan melarangnya menyerahkan pekerjaan itu pada Fay Illy, tapi mereka tampak tidak keberatan. "Ya udah kalau non mau. Non boleh siram bunganya. Tapi, bunga yang di depan aja, tanaman di halaman belakang gak usah. Itu biasanya mang Tarjo yang ngerjain."

“Baiklah!” Fay Illy berlari riang, keluar dengan gembor berukuran sedang sudah di tangannya.

Pak Tarjo yang tengah mencuci mobil langsung menyambut saat Fay Illy baru melangkah keluar dari pintu. "Pagi non Fay," sapanya.

"Pagi, mang Tarjo," balas Fay Illy ramah. Saat melihat taman kecil yang ditumbuhi berbagai jenis bunga, tak jauh dari depan garasi dimana mobil Alan tengah di cuci, ia langsung berjongkok. Setelah menyentuh bunga-bunga cantik itu, ia mulai menyiramnya. "Bunganya cantik. Aku jadi rindu taman pelangi di Kahyalott," gumamnya.

TIIIDDD! TIIIDDD!

Suara klakson dari sebuah motor terdengar di luar gerbang. Langsung saja mang Tarjo membukanya. "Pagi bos Verro!" sapanya seraya memberikan salam hormat.

Motor Harley Verro pun masuk dan mengambil lahan di samping mobil Alan. Belum sepenuhnya terparkir, mata Verro justru terkunci pada sosok gadis berambut panjang yang tengah berjongkok membelakanginya. "Apa itu perempuan yang kemarin telpon?" tanyanya pada diri sendiri.

Fairy For DaddyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang