Di taman Kahyalott....
Hamparan bunga beragam warna nyaris menyembunyikan Fay Illy yang duduk termenung di tengah-tengahnya. Sebelah kakinya lurus, sedangkan kakinya yang lain ia tekuk menopang dagunya. Kedua tangannya asik mencabuti rumput yang tumbuh di permukaan awan.
"Fay Illy!"
"..." Teriakan salah satu dari segerombolan teman Fay Illy hanya membuatnya menoleh singkat tanpa menyahut.
"Kenapa tidak ikut bermain ? Kita baru saja menurunkan gerimis," tanya peri bergaun ungu.
"..." Fay Illy tetap diam, hanya melemparkan senyum singkat.
"Hmm... Fay Illy jadi aneh," gerutu peri bergaun pink seraya mengikuti teman-temannya yang lain pergi meninggalkan Fay Illy.
"Iya, semenjak kembali dari bumi, dia jadi pemurung. Bagus, sih... jadi tidak ada pengacau. Tapi... rasanya Fay Illy bukan Fay Illy kalau tidak membuat kekacauan," tukas peri bergaun biru langit.
"Iya, kita juga jadi serba salah harus bagaimana menghiburnya?" Peri bergaun ungu kembali membuka suara.
"Huffh... entahlah. Kasihan dia." Si peri bergaun hijau menimpali dengan helaan nafas prihatin.
"Eh, kalian tahu, kan? Dia jadi pemurung begitu karena jatuh cinta pada manusia." Satu peri bergaun jingga terbang mendahului teman-temannya, seolah akan memberikan pengumuman. "Beruntung sekali dia tidak diasingkan ke lembah mengerikan, Hiiiyy!"
"Tapi, apa salahnya jatuh cinta pada manusia?" tanya si peri abu-abu. "Kalian pernah dengar tidak? Konon, dulu juga ada peri yang jatuh cinta pada manusia. Tapi, dia menghukum dirinya sendiri ke lembah Darkenfill karena manusia itu akhirnya mati saking merananya."
"Merana kenapa?" Si peri nila bertanya antusias.
"Karena peri itu tidak diijinkan lagi turun ke bumi oleh ratu kita yang terdahulu, jadilah manusia itu putus asa dan mengakhiri hidupnya. Padahal, mereka saling mencintai. Tapi, konon itu juga karena ulah si manusia yang terlalu mencintai peri itu sampai nyaris mengubahnya menjadi manusia. Sudah pasti ratu terdahulu kita marah," jelas si peri abu-abu. "Dan kalian tahu siapa peri itu?"
"Siapa?!" tanya peri-peri itu serentak.
"Ratu kita yang sekarang...."
~~~
Dari singgasananya, di awan tertinggi yang warnanya tidak lagi putih melainkan jingga kemerahan, Ratu Classera duduk seraya memperhatikan Fay Illy. "Ini masih hukuman untukmu, Fay Illy. Seberapa kuat kamu melewatinya?"
Ratu Classera beralih turun menuju danaunya, di lapisan awan putih tempat semua peri tinggal. Awan yang ditumbuhi beragam tanaman hijau, bunga-bunga, serangga cantik yang berterbangan, dan bahkan domba-domba awan yang memakan rumput di sana. Danau yang tak pernah beriak itu selalu setia menjadi mata-matanya. Disentuhnya permukaan danau, dan terlihatlah sosok gadis mungil.
~~~
Freyya bergegas keluar meninggalkan bi Nana di dapur.
"Non, mau ke mana?" teriak bi Nana.
"Gerimis! Aku mau ke luar!" sahut Freyya dengan suara nyaring.
Cepat-cepat bi Nana mengambil beany milik Freyya yang sengaja ia bawa-bawa di sakunya, agar tidak kesulitan saat gerimis turun. "Non, pake ini dulu. Takut non sakit kalo kena gerimis," katanya seraya memakaikannya.
Setelah terpakai sempurna, Freyya melanjutkan larinya. Bi Nana menggeleng seraya tersenyum. "Non Frey sekarang jadi suka banget sama hujan. Kalo dilarang bisa nangis. huffh...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fairy For Daddy
FantasíaSeandainya peri itu nyata... Bukan, bukan seandainya Memang nyata... Peri cantik yang hanya dengan goresan senyumnya sanggup melukis pelangi dari uap awan mendung.... Peri cantik yang hanya dengan sentuhan jemarinya sanggup menghidupkan kembali kel...
