Seandainya benar kau adalah bidadari...
Maka laki-laki dengan keteguhan cinta sejati pada wanitanya sekali pun tetap akan berpaling padamu...
Maksudku, setidaknya mereka tidak akan kuasa menolak tawaran dari keindahanmu...
Tidakkah pemikiran itu dangkal? Tentu tidak...
Bukankah impian setiap laki-laki adalah bisa memiliki bidadari?
Menyentuhnya, menikmatinya...
Menidurinya, mungkin... Pasti.
Bukankah seperti itu surga digambarkan?
Maka, saat surga bisa didapatkan tanpa harus melewati neraka terlebih dahulu...
Aku yakin, bahkan laki-laki tak berotak sekali pun tidak akan melewatkannya...
Dan rasanya, otakku cukup waras...
♡♡♡
Dan, perasaan itu....
Seolah bumi berputar terlalu cepat mengitari matahari, tapi hanya tubuhnya yang tertinggal melayang tanpa poros. Sosok menakjubkan di depannya mendadak menjadi titik pusat dari seluruh jiwa dan raganya. Sama, rasa menakjubkan itu sama, nyata. Hanya dengan gambaran sedikit berbeda.
Alan sudah tidak kuasa untuk tidak memejamkan matanya lagi. Rasanya terlalu nikmat, nyaris menghilangkan kewarasannya. Jika nafsu bisa membuat laki-laki brutal, maka ia justru ingin selembut mungkin menaklukannya. Bibirnya begitu lembut menyapu bibir Fay Illy hingga ia mengerang sendiri. Bukan rasa jeruk yang ia rasakan dari bibir orange itu, melainkan rasa segar dan manis yang entah bisa ia temukan di belahan bumi mana.
Alan ingat, di bawah laut itu ia seolah dibawa terbang melayang. Perlahan ia membuka matanya dan seketika terkejut saat melihat mata hazel Fay Illy begitu sendu menatapnya. Dan benar, ia kembali dibawa terbang, melayang menembus awan-awan putih nan sejuk beraroma wangi semerbak. Minim-nya penerangan malam itu tidak lantas membuat pandangannya gelap. Semuanya berubah terang, putih dipenuhi biasan cahaya.
Bukannya melepaskan pagutan bibirnya, Alan justru menguncinya lebih erat dengan penuh kelembutan. Membiarkan hidung mereka bergesekan saat wajahnya beralih. Ia tidak rela menyudahi semuanya walaupun tahu jika Fay Illy sudah menyadari tindakan kurang ajarnya itu.
Fay Illy mengerjap, perlahan matanya tertutup seiring perasaan yang sulit ia kendalikan. Ia tidak kuasa menolak lembut dan basahnya.
Alan semakin tidak kuasa menahan diri. Tubuhnya nyaris roboh, terlalu lemas dihujami kenikmatan. Tapi, tetap yang ia rasakan adalah melayang tak menapaki bumi.
Tidak mungkin. Alan tidak mungkin sanggup berhenti. Fay Illy yang menyadari itu membuka matanya, dan mengarahkan telapak tangan kirinya menutupi mata Alan yang masih terpejam. Beberapa detik kemudian Alan pun ambruk setelah Fay Illy mengambil alih kesadarannya. Wajah Alan jatuh bersandar di pundaknya.
Ya, hanya dengan cara seperti itu Fay Illy bisa menghentikan Al.
Fay Illy kembali membenarkan posisi berbaring Alan, kemudian ia sendiri bangkit dan duduk termenung sambil memandangi wajah tenang itu. "Kamu sudah lancang mengulanginya, Al," Fay Illy bergumam. "Rasa penasaranmu bisa membuatmu mendapatkanku, juga bisa membuatku meninggalkanmu," imbuhnya.
Fay Illy mulai takut menunggu reaksi Alan saat terbangun. Seandainya seorang peri diberikan kekuatan untuk bisa mengotak-atik ingatan, maka ia akan dengan sangat mudah membuat Alan melupakan kejadian apa pun yang tidak boleh diingatnya. Semuanya akan lebih mudah. Sayangnya, ada dua hal yang tidak bisa peri lakukan. Yaitu, mengganggu ingatan dan perasaan manusia, dan mengatur maut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fairy For Daddy
FantezieSeandainya peri itu nyata... Bukan, bukan seandainya Memang nyata... Peri cantik yang hanya dengan goresan senyumnya sanggup melukis pelangi dari uap awan mendung.... Peri cantik yang hanya dengan sentuhan jemarinya sanggup menghidupkan kembali kel...
