Pintu kamar terbuka, sontak Fay Illy yang baru saja berteriak terkejut. Ia sampai terperanjat dengan nafas tercekat saat melihat tiga orang itu masuk ke dalam kamar. Detik berikutnya, ia kembali menoleh ke arah cermin dan kembali melihat penampakan yang masih saja mengejutkannya. "Beneran berubah...," gumamnya dalam hati.
"Kamu kenapa?" tanya Alan cemas, seraya mendekat diikuti Freyya dan bi Nana di belakangnya.
Fay Illy mulai berusaha mengatur nafas dan menenangkan diri dalam hatinya. "Tenanglah... Fairy Illy Acacia...."
Sayang sekali, tubuh manusianya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Fay Illy memegangi kepalanya saat merasakan pusing yang begitu menyakitkan. Masih kurang dari dua jam memiliki tubuh manusia, ia sudah harus merasakan sakit yang begitu menyiksa di kepalanya.
"Apa rasa sakit ini hukuman dari ratu Classera karena aku menggunakan cara curang untuk masuk ke dalam keluarga ini?" Fay Illy mengoceh dengan suara bergumam tak jelas.
"Apa? Kamu bilang apa?" tanya Alan saat sekilas mendengar ocehan Fay Illy. Freyya dan bi Nana pun menatap Fay Illy penuh tanya.
Fay Illy mengerjapkan matanya, mendadak semuanya terlihat buram. Manik mata hazel-nya berputar tak jelas. Detik berikutnya, ia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Fay Illy melunglai tak sadarkan diri.
"Eh-heh !" Dengan sigap Alan melesat dan menangkap Fay Illy dengan kedua tangannya, lalu menahannya di pangkuannya. "Ya ampun! Dia pingsan lagi!"
"Dady! Tidurin lagi perinya, kasihan!" pekik Freyya panik.
Alan segera bangkit dan kembali membaringkan Fay Illy di tempat tidurnya. "Hei... Bangun...," katanya sambil menepuk pipi Fay Illy. Tapi, Fay Illy tidak merespon. "Gimana nih, bi?!" Ia bertanya pada bi Nana.
Bi Nana berpikir sejenak, kemudian ia mendapatkan ide sederhana. "Kita bangunin pake kayu putih aja, tuan!" usulnya. Tanpa menunggu perintah lagi, bi Nana berlari keluar kamar untuk mencari kayu putih.
Sementara Alan masih panik dengan tatapan tidak lepas dari wajah Fay Illy, Freyya justru memperhatikan sepatu silver yang Fay Illy kenakan. "Sepatunya bagus. Aku buka ya, dady?" tanya Freyya.
Alan menoleh singkat. Bagaimana bisa semua orang lupa membuka sepatu itu sejak tadi? "Ya ampun! Itu sepatunya dari tadi belum dibuka?" Ia justru bertanya dengan wajah melongo. Sepertinya, semua orang hanya terpaku melihat paras cantik gadis di depannya itu, termasuk dirinya sendiri. "Iya, buka aja, sayang."
Saat Freyya selesai membuka sepatunya, bi Nana datang dengan kayu putih. "Ini, tuan." Alan mengambil kayu putih itu dan menuangkannya banyak-banyak ke telapak tangannya. "Tu-tuan jangan banyak-banyak...." Bi Nana berusaha memperingatkan, tapi Alan tidak mendengarkan karena terlalu panik. Langsung saja Alan mendekatkan telapak tangannya ke hidung Fay Illy.
Bisa dibayangkan? Telapak tangan besar Alan justru menutupi hampir seluruh wajah Fay Illy. Dan parahnya, Alan kembali menepuk pipi Fay Illy. Berpindahlah kayu putih itu dari telapak tangan Alan ke pipi juga hidung Fay Illy.
Fay Illy mengernyit dengan mata masih terpejam. "Ini apa? Bau sekali, panas!" Rasanya sangat tidak enak di permukaan wajahnya, terutama hidung. Seperti ada yang masuk menggelitik hidungnya. Seperti itulah yang Fay Illy rasakan.
"Allhamdulillah, kamu sadar!" cetus Alan lega.
Perlahan, Fay Illy membuka matanya. Tapi, ia terus mengerjap karena panas dari kayu putih. Fay Illy kemudian bangun dan berusaha untuk duduk. Ekspresi wajahnya semakin aneh dan…. "Hidung aku... haaa... haaa... HACHIIUUU!!!"
Bersin perdana seorang peri itu langsung menyembur tanpa penghalang tepat mengenai wajah Alan. Alan menyeka wajahnya yang sudah basah. Tapi, berbarengan dengan bersin itu, Alan justru merasakan udara segar nan sejuk menyapu wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fairy For Daddy
FantasySeandainya peri itu nyata... Bukan, bukan seandainya Memang nyata... Peri cantik yang hanya dengan goresan senyumnya sanggup melukis pelangi dari uap awan mendung.... Peri cantik yang hanya dengan sentuhan jemarinya sanggup menghidupkan kembali kel...
