Warning 18++
Yang masih encin-encin jangan dibaca yah hehe , enjoy !
--------------------------------------------------
Liburan kali ini entah aku harus senang atau sebal, karena ini pertama kalinya aku dan siput pergi berdua, tidak berdua juga masih ada Tasya da Tristan tapi mereka pasti sedang asyik mamadu kasih, sedangkan aku dan Hanna hanya menjadi sapi ompong.
Aku curiga liburan kali ini bukan hanya rancangan Tasya saja namun pasti daddy dan mommy juga ikut andil, buktinya dengan kompak mereka tidak mengerecokiku. Seingatku hari ini akan ada banyak jadwal meeting dengan klien. Bagaimana bisa daddy tenang saja.
Sejujurnya aku juga malas sekali dengan liburan ini, andai saja liburan ini tidak ada mungkin saat ini aku sudah berkencan dengan berkas-berkas perusahaan. Ku rasakan Hanna juga sedang gelisah dalam duduknya. Tak sengaja ku lihat dia juga sama lelahnya denganku, wajahnya tampak sedikit pucat. Wajar karena setibanya dibandung di harus merawat bunda Haikal. Entah apa yang ada di benaknya, dia rela menjaga dan merawat bunda Haikal selayaknya bundanya sendiri, sedangkan yang punya bunda malah jarang sekali menampakkan batang hidungnya. Bagaimana bisa dia pacaran dengan cowok brondong macam Haikal. Alasan Haikal tidak dapat menunggui bundanya karena dia sekolah. Cih! Paling juga dia pacaran dengan gadis seusianya. Aku jadi bingung sendiri bagaimana hubungan dia dengan Haikal bahkan bundanya sudah menganggap Hanna seperti anaknya sendiri, tapi kalo mengingat wajah Hanna memang sedikit ada kemiripan dengan bunda Haikal. Ah sudahlah kenapa aku memikirkan hal yang tidak penting begini.
"Heh! Siput bangun lo! Enak aja udah nemplok dipundak gue!". Si Hanna ini kalo tidur apa suka begini tidak tau waktu dan tempat. Dia kira pundakku ini bantal apa.
"Hann...duh siput bangun ngga, gue cium nih!". Masih saja tidak bergeming. Ku putuskan untuk memindahkannya sendiri. Tapi tiba-tiba saja ku rasakan pipinya panas serta memerah, dahinya juga sama panasnya.
"Hann, bangun hann. Lo baik-baik aja kan?". Aku mencoba membangunkannya.
"Hann, please Hann kita perjalanan jauh ini". Tiba-tiba saja dia membuka matanya.
"Dem". Ohh tidak suaranya begitu serak , apakah dia sakit.
"Yaa? Lo baik-baik aja".
"Dem, gue...". Kenapa keringat dingin muncul begitu banyak.
"Lo kenapa Hann? Mana yang sakit?".
"Gue...gue takut ketinggian Dem. Boleh ngga selama gue tidur gue rebahan dipundak lo". Glodak! Dia sepucat ini cuman karena takut ketinggian. Ya ampun Hanna udik banget deh ini anak ngga pernah kali ya naik pesawat mewah.
Tanpa aba-aba langsung ku angkat dia, ku posisikan dia di atasku, ku peluk erat dia. Tubuhnya semakin menegang ku rasakan. Dan pipinya bersemu merah, ahh dia lucu sekali. Benar-benar cantiknya alami si siput pluto ini. Dia semakin rileks, di benamkan wajahnya di dadaku, mungkin dia malu.
"Lo modus ya siput?". Aku suka sekali menggodanya. Dia tidak menjawab sama sekali. Perlahan ku dengar suara isak tangi.
"He siput lo kok nangis sih? Ngga cocok lo nangis kaya gitu, mulut lo lebih bagus kalo cerewet haha". Aku tertawa , dia memukul dadaku, isakannya lebih kencang lagi.
"Lo kenapa si siput sayang hm". Ku usap lembut rambutnya, ku semakin erat ku benamkan kepalaku dicerukan lehernya, aroma coklat menguar dirambutnya. Ohh aku sangat menfavoritkan rambutnya.
"Kau tau hiks, aku sangat merindukan ayahku. Sudah lama aku tidak mendapat pelukan sayangnya hiks, dan...hikss...dan denganmu seperti ini aku merasa tenang Dem". Dia bercecar mengenai beban yang ia pendam. Ternyata kau se rapuh ini siput. Kau memang baik namun entahlah aku masih sangat enggan mengakui bahwa kau benar-benar baik.
