KEDUA PULUH

15.1K 585 7
                                        

Author POV

"Udah lama" tanya seorang cewek kepada seorang cowok yang berada didepannya.

Dia sempat melirik jam tangannya sebentar.

"Lumayan" jawabnya singkat.

"Aku kira kamu gak datang" kata cewek itu. Siapa lagi kalau bukan Aqila. Ternyata benar Nathan menemui Aqila.

"Apa yang ingin kamu katakan" tanya Nathan to the point.

"Aku cuma mau bilang, Aku minta maaf sama kamu. Karna telah menghilang selama dua tahun lebih. Dan kenapa Aku gak kasih tau kamu waktu itu karna.. karna" Berat rasanya untuk menceritakan keadaannya saat itu, dan saat ini.

Air mata pun perlahan menetes dipipinya, dan dengan cepat dia menghapusnya. Dia sangat-sangat merindukan cowok dihadapannya ini. Sangat.

Disisi lain, seorrang cewek berjalan memasuki sebuah kafe dengan jeans hitam dan kaos panjang bergaris hitam putih dengan balutan flat shoes bewarna hitam dikakinya, dan tas sampingnya. Cewek itu mengedarkan pandangannya kepunjuru kafe, mencari meja kosong. Dirinya membeku melihat seseorang yang telah dicintainya sedang duduk manis dengan seorang cewek.

Awalnya Andin ingin keluar dari kafe ini, karena kecewa. Tapi dengan rasa penasarannya yang tinggi Andin pun melangkah kan kakinya kearah meja kosong itu, tepat dibelakang mejanya. Nathan dan Qila.

Dengan hati-hati ia mendengarkan pembicaraan mereka yang kelihatannya lagi sangat-sangat serius.

"Jadi kenapa kami nemui Aku? Cuma mau bilang maaf, tapi tidak dengan penjelasannya begitu Aqila" ucap Nathan dingin.

Sebenarnya dia tidak bermaksud berbicara separti itu pada wanitannya ini. Apa lagi Nathan masih mencintainya.

"Oke Aku ceritain semuanya kenapa Aku pergi ninggalin kamu" Aqila berhenti sejenak lalu memulai pembicaraannya lagi.

"Dulu setelah lulus SMA Aku terkena kanker. Aku gak mau ngasih tau kanker apa yang Aku derita kekamu. Saat itu orang tuaku panik, dan selalu menyuruku berobat keMalaysia" ucapannya berhenti. Aqila mengambil nafas dan mulai kembali "Awalnya Aku gak mau Than, alasannya karena Aku gak mau pisah sama kamu. Tapi karena penyakit ini terus menggrogoti tubuhku, apa boleh buat" Hhh.. Aqila kembali menghela nafas. "Aku berangkat ke Malaysia sebulan setelah lulus-lulusan. Aku tau kamu nyariin Aku, Aku tau kamu selalu datang kerumahku. Saat itu Aku tidak dirumah orang tuaku. Aku tinggal dirumah keluargaku, di Siantar.  Alasannya karna Aku gak mau kamu melihatku dengan perasaan kasihan, karena kamu tau seseorang yang dipandang kasihan dia dianggap rapuh, sangat rapuh dan Aku gak mau" ucap Aqila sesenggukan.

Perkataan Aqila tadi benar-benar menohok hatinya. Nathan teringat akan Andin. 'Apa Aku hanya menggapnya rapuh' ucapnya dalam hati.

"Lalu kamu membiarkan Aku seperti orang gila mencarimu kesana kemari" ucap Nathan membentak Aqila.

"Ma-maaf Than. Dan sekarang kamu juga udah punya pacarkan. Jadi Aku lebih tenang sekarang. Dan jujur. Perasaanku masih sama seperti dulu. Ak-Aku. Aku masih cinta sama kamu Nathan" ucap Aqila sengaja memancing Nathan.

Tadi dia sempat melihat seorang cewek, yang persis dilihatnya diHP Ririn dan temannya itu. Dan dia juga tau kalo sekarang cewek itu duduk dibelakang Nathan.

"Gak. Gak. Aku gak pernah punua pacar. Aku masih sayang sama kamu. Aku masih cinta sama kamu sampai detik ini" ucap Nathan.

"Tapi kata temanku. Kamu selalu kemana-mana dengan cewek. Apa itu bukan pacar kamu? Lalu dia apa?" tanya Aqila marah

Nathan terdiam. Dalam diam Andin menahan nafas menunggu pekataan yang akan membuatnya sakit. Dia sudah ingin pergi dari tempat ini. Tapi kakinya sangat susah bahkan tidak bisa digerakkan.

"Kenapa Than? Kamu malu untuk mengakuinya?" Tantang Qila. Nathan menunduk.

"Ya Aku memang dekat dengan seorang cewek, bahkan lebih dari sekedar dekat. Tapi kami tidak pacaran. Mana mungkin Aku pacaran dengannya sedangkan Aku belum bisa berpaling darimu" ucapan Nathan benar-benar membuat Andin kehilangan oksigennya. Terdengar Nathan menghela nafas sebelum membuatnya bicara kembali.

"Dia.. dia hanya pelampiasanku" ucap Nathan. Aqila tersenyum kecil mendengarnya.

Deg!! Jantung Andin serasa berhenti. Andin membeku ditempatnya. Andin tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi selama ini dia hanya pelampiasan. Andin memandang pintu keluar itu. Dengan sisa tenaga Andin bangkit dan berjalan keluar. Andin tidak memesan apapun tadi, jadi dia langsung keluar.

'Kado ulang tahunku' ucap Andin dalam hati dan berlari..

°°°°°°°°°°°°°°°

Vote dan commentnya jangan lupa..

































Al

PELAMPIASANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang