KIENA meletakkan tas di atas meja kelasnya, kelasnya tampak sepi karena masih pagi dan murid yang hilir mudik di koridor juga masih sedikit, kakinya melangkah untuk sampai ke koridor depan kelasnya, rambut panjangnya dibiarkan terurai menampar wajahnya halus dengan semilir angin di pagi hari, embun nampak masih bergelantungan pada dedaunan di hadapannya, ia bersyukur karena bisa berada di dunia ini.
Bibirnya lagi-lagi melengkung ke atas mengingat dirinya bisa merubah Leira secepat itu. Ya, secepat mata mengedip.
"Nat," panggil seseorang dengan lembut dari arah kanannya membuat lamunannya buyar, ia menoleh heran dan bertanya kenapa.
"PR udah dikerjain belom?" tanya laki-laki itu tampak dingin. Seolah otaknya memutar kembali, dan oh ia ingat.
"PR PKN?"
Pemuda di hadapannya mengangguk. "Jadi udah?"
Kiena mengangguk. "Gue liat," sahut pemuda itu.
Pemuda itu yang Kiena kenal sebagai Alvin, berjalan santai, earphone yang menggantung di telinganya dengan ponsel yang ia letakkan di saku celananya.
"Nat! Mana?" teriaknya dari dalam kelas, ck suaranya gede banget. Gumamnya melangkahkan kakinya dengan malas, mengangkat kakinya saja malas apalagi sampai ke dalam kelas.
Kiena berdecak seraya mencari bukunya yang berada di dalam tasnya, ketika ia menemukan buku itu, matanya melototi Alvin yang tengah bercengir ria dan mengambil buku itu dari Kiena. "Makanya kalau cari tuh pake mata! liat! Jangan Cuma mulut doang yang dipake."
"Iya ndoro," jawabnya sesantai mungkin langsung menyalin jawaban Kiena.
"Nat," panggilnya, matanya tetap fokus pada buku di hadapannya.
"Hm?"
"Kantin ya entar," kalimat itu membuat Kiena kelojotan setengah mati, sementara Alvin hanya menatap bukunya dengan tangannya ia sengaja gerakkan untuk menulis.
"Lo udah makan emang?" tanya Alvin karena pernyataan tadi tak dijawab oleh Kiena.
Kiena mengkerutkan keningnya dan kembali ke posisi awal. "Bel—eh udah deng."
"Nggak usah boong," jawabnya tersenyum jahil.
"Dih, emang ben—" tak berapa lama perutnya menimbulkan bunyi, membuatnya harus tahan malu seketika berhadapan dengan Alvin, sementara dirinya sudah tertawa sekencang mungkin.
"Vin!" geramnya melihat Alvin yang tak berhenti tertawa.
"Oke-oke maafkan karena gue sudah menertawakanmu, jadi sebagai gantinya gue traktir ya?"
Kiena mendengus kesal dengan perbuatan Alvin, tapi bagaimana pun ia mengelak tetap saja Alvin akan memaksanya sampai ia benar-benar mau diajak ke kantin.
Kantin terlihat sepi seperti hari-hari sebelumnya, karena hari masih pagi, mereka dengan leluasa memesan makanan tanpa harus mengantri seperti jam istirahat.
"Nat," panggilnya.
Kiena menautkan alisnya dengan malas, ia malas harus berhadapan dengan laki-laki di hadapannya ini.
Alvin terkekeh geli melihat wajah Kiena seperti itu. "Lo lucu ya."
"Emang gue lucu, dari orok kali," candanya malas, lantas ia menopang dagu memperhatikan objek di depannya.
"Lo liatin gue, Nat?" tanya Alvin menautkan alisnya geli.
Kiena melebarkan pupil matanya ketika mendapatkan sautan dari hadapannya ini. "Pede banget lo!"

KAMU SEDANG MEMBACA
KUNATA
Teen FictionKisah seorang gadis lugu, cantik dan konyol tentunya, dalam masa SMA nya yang seperti kata orang adalah masa paling indah, justru membuat sang pemilik nama Kiena ini kebingungan dengan adanya tiga laki-laki yang masuk ke dalam kehidupannya. Membuatn...