"Khey!"
"Hm"
"Lo dimana sih? Gue nyariin lo tau nggak!"
"Taman."
"Khey....?"
"Apasih?"
"Duh gimana ya ngo--"
"To the point!"
Terdengar helaan nafas dari seberang. "Okay, kayaknya nanti kita nggak bisa pulang bareng deh Khey, gue lagi ada urusan dan itu nggak bisa ditinggalin. Sorry banget ya. Apa gue telpon Rega buat jemput lo?"
"Huh? A-ah nggak usah deh Bang, gue juga lagi pengen sendiri. Gue naik taksi aja disini banyak yang lewat kok."
"Beneran? Lo bisa jaga dirikan?"
"Yeeee... lo kayak nggak tau gue aja."
"Huh syukurlah, kalau ada apa-apa hubungin gue!"
"Siap!"
Klik.
Khey mematikan sambungan telepon dari Levin. Ia kemudian mengedarkan pandangan di taman sudut kota ini.
Dirinya berjalan tak tentu arah ia hanya ingin sendiri menikmati suasana yang masih cukup dibilang pagi, langit tak sebegitu cerah yang sangat pas dengan hawa sedikit dingin.
Khey duduk di bangku panjang yang mengarah ke berbagai tanaman hias. Lebih dari 10 menit ia melihat kosong ke depan. Khey memikirkan bagaimana ia harus bersikap jika bertemu dengan orang yang berada di masa lalunya itu.
Bahkan boneka teddy bear pemberian dia belum Khey buang, ia masih sedikit memiliki rasa kepada dia padahal ia sudah melukai hati Khey hingga susah untuk menutupi lubang di hatinya saat ini.
Lamunan Khey yang tiada hentinya mampu membuat seseorang yang sedari tadi memanggil Khey menjadi geram.
"Ekhem Khey? Halo?" Laki-laki itu mengibaskan tangannya di depan wajah Khey.
Khey yang tadinya masih mengelamun tersentak kaget karena ada tangan kekar yang mengibas-ibaskan di depan wajahnya.
"Eh?" Khey kembali di kagetkan siapa sosok laki-laki yang sekarang sudah duduk di sampingnya.
Laki-laki itu tersenyum manis yang jarang sekali ia tunjukkan ke semua orang. Beruntung sekali Khey bisa melihat senyum itu.
"Hai?" Laki-laki itu menatap Khey sekilas, "lama nggak tegur sapa ya."
Khey mulai kikuk ia melihat kedepan, "i-iya, hm gimana?"
Laki-laki itu menoleh dimana Khey duduk, "apa?"
Khey menghela nafasnya kasar, ia menunduk sedih. "Maaf."
Ya, satu kata yang sangat jarang sekali terucap dari bibir Khey. Entah mengapa satu kata itu meluncur bebas.
"Buat apa?" Laki-laki itu tak mengerti ia mengerutkan dahinya.
Khey mencoba melihat manik mata yang berwarna hitam pekat itu, "maafin gue karena gue udah-- maafin gue Nat."
Laki-laki itu Natzo, sahabat dari 5 sekawan anak populer di GS.
Natzo kembali tersenyum, "nggakpapa Khey, gue tau kok. 'Kan nggak mungkin juga gue pacaran sama cewek yang nggak cinta sama gue."
Khey masih menundukkan kepalanya ia ingin menyembunyikan wajahnya sekarang juga. Sungguh ia sangat merasa bersalah apa yang sudah pernah ia lakukan kepada Natzo dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Change You
TienerfictieUntuk sementara waktu beberapa part ada yang di private, terima kasih. "Let bygones be bygones" Kata tersebut tepat sekali menggambarkan kehidupan sekarang gadis cantik ini. Berawal dari secerah langit yang disampingnya terdapat matahari hingga beru...
