"Ngapain kesini,?"
Acha menatap sekeliling nya takjub, tidak ada gedung yang menghalangi tatapan nya ke langit.
"Lo seneng liat matahari tenggelam kan?" Tanya Elang pada Acha yang masih berdiri di belakang nya. "Tuh," Ujar nya lagi dan menunjuk dimana ada sinar kemerahan yang sebentar lagi akan menghilang, beristirahat dari rutinitas nya.
"Ini...," Acha menatap takjub keindahan di ufuk barat itu, Ia berjalan lalu berdiri di samping Elang. "Bagus banget!" Lanjut nya.
Elang tersenyum puas melihat Acha menyukai tempat ini. Tak salah Ia membawa Acha ke atas gedung sekolah.
Mereka terdiam, tak ada yang kembali memulai perbincangan. Dengan, Acha yang sedang menikmati, melihat dengan mata berbinar-binar pada ujung sana tempat matahari terbenam. Sedangkan Elang Ia tak terlalu fokus pada apa yang sedang Acha lihat, tetapi, entah kenapa Ia justru sangat menikmati pemandangan seorang gadis yang tersenyum lebar di samping nya, tanpa ada kesedihan di raut wajah nya.
Cantik. Batin Elang.
Pantulan sinar sore itu mengenai wajah cewek di samping nya, dan itu membuat nya semakin cantik.
"Apa yang membuat lo sangat suka melihat matahari tenggelam?" Tanya Elang, lalu mengalihkan tatapan nya dari Acha, takut gadis itu sadar kalau Ia sedang memperhatikan nya.
"Warna nya." Jawab Acha singkat, dengan tatapan yang tertuju lurus ke depan.
"Warna nya mengartikan keteduhan, kekuatan, dan itu membuat gue tenang ketika melihat nya." Jelas gadis itu.
"Elang...."
"Iya?"
"Micel itu siapa?"
Elang mengernyitkan alis nya,menatap Acha, lalu membasahi kedua bibir nya, tak percaya seseorang kembali menanyakan lagi tentang perempuan itu.
Acha menjadi salah tingkah, ketika melihat Elang tak kunjung menjawab nya. "Sorry, gue lancang." Maaf nya.
Elang memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana sekolah nya. Angin di atas sini lebih terasa.
"Micel... dia adalah perempuan yang sangat gue sayangi dulu setelah Mama gue." Ujar nya menatap lurus ke depan .
"Dimana dia sekarang?" Tanya Acha menatap wajah teduh seorang Elang.
"Australi,"
"Lo...Ldr?"
Elang menggelengkan kepala nya dan tersenyum miris, mengginggat perjuangan nya selama ini mempertahankan hubungan nya bersama Micell.
"Dua bulan, setelah itu dia minta gue ngelupain dia."
"Kenapa?" Tanya Acha.
Elng membuang nafas nya pelan. Tersenyum simpul. "Perjodohan." Jawab nya.
Acha menahan nafas nya, rasa nya tercekat ketika nama Dimas terlintas di pikiran nya.
Acha merindukan cowok itu. Merindukan cowok yang meninggalkan nya, dengan alasan tak masuk akal.
"Micell itu yang ada di dompet lo itu kan?" Tanya lagi acha.
Elang menatap Acha dengan tatapan seakan mengatakan 'Apa yang lo lakuin sama dompet gue'
"Eh,jangan mikir aneh-aneh, dompet lo waktu itu kebuka!" Tegas Acha ketika sadar tatapan menuduh dari Elang.
"Ha-ha-ha, lo gemesin deh kalo salah tingkah gitu." Goda Elang.
Acha memutar bola mata nya malas. "Seandai nya gue bisa nyentuh Lo, udah gue tendang Lo dari sini." Ancam Acha.
Elang terkekeh mendengar nya. "Kayak berani aja, nanti kangen lagi lo sama gue."

KAMU SEDANG MEMBACA
STAYED
Teen FictionKarna peristiwa itu, yang jauh menjadi dekat. Dan yang dekat justru pergi meninggalkannya.