Chapter 30

421 24 1
                                    

Selama di perjalanan pulang Elang dan Acha. Tidak ada yang memulai percakapan. Hanya suara benturan hujan di kaca mobil yang menggisi keheningan diantara mereka.

Elang melirik Acha yang sedang menatap ke jendela samping nya. Lalu kembali fokus mengemudi.

"Kalau lo nge--jemput gue, cuman buat ngediemin gue kek gini. Mending tadi gue pulang naik taksi aja! Yang bakal diajak ngobrol sama abang nya."

Ocehan dari sebelah kirinya, membuat Elang reflek menatapnya. Setelah beberapa detik cowok itu kembali sadar dan kembali fokus ke jalanan.

Elang terkejut mendengar Acha kembali berbicara seperti sebelum mereka belum mempunyai masalah.

"Ish," desis Acha. Kesal juga lama-lama berdiam diri menutup mulut, menahan suasana canggung selama 15 menit lamanya. Menunggu orang disamping nya mengajak bicara, tapi tak kunjung angkat suara. Sampai membuat Acha yang bertindak duluan.

"Sorry. Gue kira lo lagi gak mau ngomong."

"Maksud lo apa sih?"

Elang melirik Acha yang sedang menatap nya juga. "Lo lagi sedih soal Dimas. Jadi gue pikir lo lagi gak mau diajak ngomong."

Acha menarik napas dalam-dalam, lalu menghembus kan nya pelan.

Elang pikir Acha akan menjawab. Namun, perempuan itu malah diam. Menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dan memejamkan matanya, mengacuhkan Elang.

"Gue gak tau kenapa harus lo orang yang jadi alasan untuk gue tetap tinggal." Acha membuka kelopak matanya, menatap lurus ke jalan dengan posisi yang sama.

"Saat gue koma, gue bermimpi gue lagi ada di suatu tempat, yang udara nya sangat sejuk, kupu-kupu berterbangan dimana-mana, sangat menenangkan." Cerita Acha sebuah senyuman terlukis diwajah perempuan itu. Elang memijat pelipisnya. Menunggu lanjutan dari cerita Acha.

"Nyaman. Tenang. Aman. Itu yang gue rasakan saat itu. Sampai akhirnya, panggilan seseorang membuat gue sadar dari rasa kagum itu. Perkataan orang itu yang membuat gue tersadar kalo gue belum meninggal."

"Orang itu bilang apa?" Tanya Elang.

Acha menegakkan tubuhnya, menggeleng pelan. "Tanya sama diri lo sendiri." Ucapnya, yang semakin membuat Elang bingung.

"Kenapa lo gak pernah kasih gue kesempatan?" Tanya Elang menatap Acha. Kini mereka sedang berada di lampu merah. Hingga dapat membuat Elang lebih lama melihat Acha.

"Kesempatan apa?"

"Kesempatan untuk deket sama lo." Elang menatap lekat Acha.

Acha mengalihkan pandangan nya, dan tersenyum singkat. "Kenapa lo pergi?" Perempuan itu bertanya balik.

Sekarang Elang lah yang tersenyum singkat mendengar pertanyaan Acha barusan. "Karna lo yang meminta gue pergi." Jawabnya sembari bersiap kembali menjalankan mobilnya.

Suasana menjadi  hening lagi. Hujan diluar sudah berganti menjadi rintik-rintik kecil. Jalan yang tadi nya macet menjadi ramai lancar. Membuat dua orang didalam mobil itu bernafas lega karna tidak harus berlama-lama didalam mobil dengan keadaan canggung sepertu ini.

Acha berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dan Elang sangat fokus dengan kemudinya. Walau sesekali Ia melirik perempuan disamping nya. Begitupun dengan Acha.

×××

"Gue sayang sama, Lo."

Acha yang sedang memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya, mendadak berhenti. Menutup tasnya cepat, dan memegang erat ponsel nya.

STAYEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang