Bel pulang berdering, mengakhiri aktifitas di sekolah.Elang menutup buku fisikanya dengan malas. Bukannya malas pulang, tapi Elang dari tadi terus memikirkan Acha. Elang tidak melihat cewek itu sejak pembicaraan di taman tadi.
"Jadi pulang bareng Cellin?"
Pertanyaan dari Rendy, membuat Elang ingat, hampir saja Elang lupa, kalau Ia punya janji pada Cellin.
"Jadi." Jawabnya sembari memasukkan buku nya ke dalam tas dengan cepat.
Rendy mengganguk-anggukan kepalanya, "Gue masih enggak ngerti, Lo,kenapa."
"Eh, Lo dateng kan ke cafe?" Bimo menghadap kebelakang, memotong pembicaraan Elang dan Rendy.
Elang mengangkat bahunya, tak tahu datang atau engga."Liat sikon nanti."
Bimo memutarkan bolamata nya, lalu menatap Rendy, menunggu jawaban dari cowok berkulit putih itu.
"Hehh, gue sama, liat kondisi dulu. Mau ajak Mia jalan." Ujarnya sembari tertawa.
Lagi-lagi Bimo mendelik kesal. "Sedih, engga ada yang punya waktu buat gue."
Rendy dan Elang bergedik geli mendengar perkataan Bimo. Lalu dengan kompak keduanya tersenyum dan mengangkat alisnya menggoda Bimo.
"Kenapa?"
"Lo kan ada sih Lila tuh, yang setia mengikutimu kemana saja kau pergi. HAHAHA." Ledek Rendy.
Bimo membenarkan letak kacamatanya, lalu menggeleng kuat, "Sama anak gajah itu? jomblo aja gue seumur hidup!"
Elang tertawa keras, mengginggat Bimo yang harus selalu menghindar dari Lila adik kelas mereka, yang secara terang-terangan mendekati Bimo.
"Ketawa lo sana!" Umpat Bimo kesal. Bagaimana tidak kesal, kedua temannya ini sangat mendukung Lila. Malah mereka bekerja sama dengan cewek itu.
"Lila tuh gak gede-gede banget kali, Bim." Ucap Rendy, memang benar kok. Menurutnya Lila itu hanya kelebihan isi.
"Ya udah! Buat lo berdua aja!"
"Weitss, sorry kita berdua udah punya, tinggal lo doang yang ga ada. Gebetan aja gak jelas siapa, apalagi pacar." Bantah Rendy sekaligus menyindir sohibnya itu.
Elang tak terlalu menanggapi perkataan barusan dari Rendy. Karna, ia sendiri pun tidak tahu dengan siapa.
"Gue duluan ya!" Pamit Elang setelah melihat jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul Tiga.
Bimo dan Rendy menghentikan perdebatan kecil mereka lalu menatap Elang dan menggangguk kompak.
×××
"Lo udah makan?"
Suara Elang menyadarkan Cellin dari lamunannya menatap keluar jendela. Karna, kira-kira sudah hampir 10menit mereka berada didalam mobil Elang. Namun, tak ada yang memulai percakapan.
"Mau makan dulu?" Tanya lagi Elang. Tanpa menunggu jawaban sebelumnya dari Cellin.
Cellin menggangguk pelan. "Ya, boleh." Jawabnya merasa sangat canggung berada dekat dengan Elang.
Elang membelokkan kemudi mobilnya. Menuju tempat makan sederhana yang sering Ia kunjungi.
Lagi-lagi keheningan menyelimuti perjalanan mereka.
Cellin, yang sibuk menetralisirkan detak jantungnya agar tidak berdetak sangat cepat.
Dan, Elang yang pikiran tidak berada disana. Pikirannya tertuju pada Acha. Sedari tadi, Elang tidak melihat Acha. Elang takut salah ngomong tadi pada Acha. Hingga membuat gadis itu benar-benar menghilang.
"Udah dua minggu ini ya, lo ga ribut sama Acha." Ujar Cellin yang membuat Elang segera sadar Ia sedang bersama cewek itu saat ini.
"Hmm, iya." Jawab Elang, tak tau ingin menjawab apa lagi.
"Gue kangen Acha yang selalu marah-marah sama lo, hehe." Ujar Cellin, terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue juga kangen dia." Ucap Elang tak sadar.
Ketika tak mendapat respon dari Cellin. Elang segera sadar akan ucapannya barusan.
"Ah, maksud gue… gue kangen omelan nya bukan dia nya. Heh." Jelas Elang.
Cellin tersenyum, "Iya iya, gue tahu kok. Santai aja, kita semua sama kangennya sama Acha." Jawabnya.
Tapi kangen gue beda dari kalian, Batin Elang.
×××
Setelah mengantarkan Cellin pulang. Elang segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Ia sangat yakin itu satu-satunya tempat yang pasti didatangi oleh Acha.
Dengan kecepatan sedang, Elang mengemudikan mobilnya. Pikirannya benar-benar tak fokus sedari tadi.
Ia sangat takut. Takut jika Acha benar-benar akan pergi meninggalkannya.
Hanya memerlukan 15menit. Elang sudah sampai di Area Rumah Sakit. Ia segera memarkirkan mobilnya. Lalu segera melangkahkan kakinya berjalan ke dalam rumah sakit.
Dengan tergesa Ia berjalan. Ini sudah hampir jam 6sore. Dan Ia belum sama sekali pulang ke Rumah. Dengan pakaian seragam yang sudah berantakan.
Sembari berjalan Elang mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Ia mengetikkan beberapa pesan pada Mamanya. Memberitahu bahwa Ia akan pulang telat hari ini.
Setelah menekan pilihan sent Elang memasukan kembali ponselnya.
Elang memfokuskan pandangannya kedepan. Kini Ia sudah berada di lorong menuju kamar inap Acha.
Elang memasuki kamar itu. Dan Ia tak melihat siapapun di dalam kamar itu. Ia tidak melihat Acha. Kamarnya kosong.
Elang mulai berpikir kacau. Ia mulai panik. Elang keluar dari kamar itu, lalu mencari seseorang yang bisa ditanyakan.
Tak jauh dua kamar dari kamar Acha ini, ada seorang suster baru saja keluar dari kamar inap itu.
Tanpa berpikir lagi, Elang memanggil suster itu. Dan menghampirinya.
Elang mulai bertanya dimana keberadaan Acha sekarang.
"Nona yang dirawat di kamar itu, baru saja dilarikan ke ruang ICU, ia mengalami kritis." Jelas Suster itu.
Kritis. Perkataan itu sangat menghantui Elang. Jantungnya seakan berhenti. Ia benar-benar takut akan sesuatu yang terjadi pada Acha.
Tanpa berkata apa-apa lagi selain 'Terima kasih' Elang segera berlari mencari Ruang dimana Acha berada.
×××
a/n
Haai! Gue kembali. Gue kangeen ahhh:(
Sorry baru updet lagi. Semoga memuaskan ya. Masih ada yang baca cerita ini kah? Hahaha
Gue gak janji akan updet cepet lagi ya. Karna berhubung sebulan ini sekolah gue lagi banyak banget ujian.
Thanks udah menunggu.
-Fita
KAMU SEDANG MEMBACA
STAYED
Novela JuvenilKarna peristiwa itu, yang jauh menjadi dekat. Dan yang dekat justru pergi meninggalkannya.
