Elang membuka pintu rumahnya, lalu kembali menutup dan berjalan kedalam. Kali ini dia pulang larut malam lagi. Siap-siap aja mendapat teguran lagi dari Mama.
Bola matanya bergerak ke penjuru isi rumah. Mencari sosok mama. Tapi sepertinya mama tidak ada. Membuat Elang menghela napasnya lega.
Elang berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Baru juga menginjak tiga anak tangga. Suara tegas dari belakang nya membuat cowok itu memutar tubuh.
"Elang."
"Eh, mama," menggaruk kepala dan memberikan senyuman lebar yang berharap bisa membuat mama tidak tega menggomelinya.
"Kenapa kamu? Gak usah pasang wajah polos gitu deh. Gak mempan sama Mama!" Tegur Mama membuat senyuman lebar dari wajah anak pertamanya itu hilang. Berganti wajah memberenggut.
Elang sudah tahu semua ini pasti gagal. "Maaf, Mah."
"Kamu ngapain aja sih di luar itu? Hah? Kalo pulang malem terus! Kamu itu mau ujian, Elang. Belajar kek, Kerjain pr kek. Sekalian jagain adek nya di rumah." Ucap Mama panjang lebar. "Kamu gak macem-macem, 'kan diluar?" Tebak Mama menyipitkan matanya.
Elang tertawa pelan, berjalan mendekati Mama. "Mama sayang, Elang gak mungkin macem-macem, paling juga bolos sekali- dua kali dipelajaran sejarah. Hehe," ujar cowok itu yang membuat mama nya menggeleng kepala.
"Udah sana tidur! Besok kalo kamu pulang malem lagi, mama akan sediain mobil antar jemput buat kamu. Biar nggak kelayapan aja kerjaan nya." Ancam Mama.
"Ih, serem. Maafin Elang, mama." Elang mencium kedua pipi Mamanya, lalu berlari pelan menuju kamarnya.
Ketika sampai dikamar, Elang mengeluarkan ponselnya dari saku, ditaronya di atas tempat tidur.
Elang ingin membasahi badannya dari atas sampai ke bawah. Dia masih tak percaya Micel. Micelnya yang dulu kembali ke Indonesia.
Elang mengacak rambutnya. Pikiran nya menjadi campur aduk mengginggat pertemuan nya sama Micel tadi sore setelah mengantar Acha pulang.
Kenapa baru sekarang, perempuan itu kembali.
Kenapa nggak dari dulu, saat semua ini belum terjadi.
Tapi, Elang tidak bisa membohongi dirinya kalau dihati kecilnya. Cowok itu senang bisa melihat Micel--perempuan yang pernah sangat Ia sayangi.
"Maafin aku, El. Aku benar-benar nggak bermaksud ninggalin kamu tanpa kabar. Dan tiba-tiba aja kamu denger soal pertunangan itu.
Sumpah. Aku waktu itu nggak bisa apa-apa. Aku bingung harus apa, El. Disatu sisi aku sayang sama kamu, aku nggak mau jauh dari kamu. Tapi, aku juga sayang Ayah. Kamu tahu, 'kan ayah lagi kritis waktu itu, dan perusahaan ayah juga mulai mengalami kebangkrutan. Kita kekurangan biaya untuk operasi Ayah. Aku bingung.

KAMU SEDANG MEMBACA
STAYED
Roman pour AdolescentsKarna peristiwa itu, yang jauh menjadi dekat. Dan yang dekat justru pergi meninggalkannya.