Chapter 31

453 23 0
                                    

Mampus gue! Acha merutuki kesialan dirinya pagi ini. Gadis itu berjalan cepat memasuki wilayah sekolah. Acha melirik arloji di tangan kirinya. Sudah jam 07.15 itu tandanya sudah 15 menit Ia telat. Dan itu tandanya setelah ini Ia pasti akan menghadap guru piket dan menerima hukuman.

Hhh. Acha menghela nafas nya kesal, lalu mulai berlari menuju gerbang utama sekolah. Semoga saja guru piket sedang tidak ada disana. Harap gadis itu. Kalau saja tadi Ia lebih memilih berangkat bersama Mama dan Ayahnya, dibanding naik angkutan umum, sudah pasti Ia tidak akan telat.

Keberuntungan tidak memihaknya pagi ini.

Tepat memasuki gerbang utama, Acha langsung dapat melihat seseorang duduk di meja yang disediakan disana. Begitu pula guru itu. Pandangan nya langsung tertuju pada gadis yang penuh dengan keringat di dahinya, pamdangan nya beralih pada arloji ditangan nya. Lalu dengan ciri khasnya, guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mendecakkan lidah.

Acha membuang nafas panjang. Berserah diri pada guru didepan nya sekarang.

"20 menit kamu telat." Ucap Bu Eka.

"Maaf Bu, tadi macet banget dijalan, saya naik angkot..." jelas Acha memberitahu perihal masalahnya.

Namun, memang dasarnya Bu Eka yang terkenal tidak ingin mendengar alasan, langsung membalas perkataan Acha.

"Sudah tahu naik angkot, makanya berangkat nya pagi. Macet itu sudah biasa, jangan kamu jadikan alasan yah. Saya tidak suka."

"Saya juga gak suka. Sama ibu!" Gerutu Acha dalam hati.

"Karna kamu telat 20 menit. Kamu lari 20 puteran sekarang juga. Setelah selesai kembali ke saya disini."  Pintah Bu Eka tegas, dan kembali menuju mejanya.

Acha hendak membantah, namun Ia urungkan, ketika kembali mendengar ocehan Bu Eka dari tempatnya.

Acha terkekeh pelan, sepertinya Bu Eka kembali mendapatkan mangsanya.Upss.

"Kamu lagi, Elang?!" Teriakan dari Bu Eka membuat Acha terdiam, bukan. Bukan teriakan nya, tapi nama seseorang itu.

"Eh, Ibu lagi," ujar cowok itu sembari memberikan cengiran tak bersalah nya.

Acha membalikkan badannya, menyaksikan argumen guru dan murid itu.

Elang menyadari keberadaan nya, cowok itu mengangkat tangan nya dan menaikkan alisnya menyapa Acha dengan senyum lebarnya.

Merasa diabaikan, Bu Eka kembali mengangkat suara. "Saya capek memberi kamu hukuman terus!" Ujar Ibu itu putus asa.

Elang mangalihkan tatapan nya dari Acha. "Sama, saya juga capek dihukum ibu terus."

"Elang Prasetya!"

"Yah, salah lagi saya dimata ibu." Ucap cowok itu seakan-akan menunjukkan wajah sedihnya.

"Kamu itu... lari 25 putaran sekarang juga!" Seperti nya Bu Eka sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Wanita yang sudah berumur itu memijat dahinya.

Ada rasa kasihan dan rasa ingin tertawa yang sedang Acha rasakan saat ini melihat kejadian di depan nya.

"Kalau larinya sama dia sih, dengan senang hati saya menerima nya, Bu."

"Kamu belum mulai juga?"

"Eh? Iya bu, ini udah mau lari." Mendapat teguran, Acha segera meletakkan tas nya, dan Elang mendekatinya, ikut meletakkan tasnya disampibg tas milik Acha.

"25 puteran itu gak sedikit. Kenapa lo bisa santai banget,"

"Udah biasa." Ujar Elang, memulai lari nya, diikuti Acha di belakang nya.

STAYEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang