Sherington terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih bersandar dibahu Gabriella yang juga ikut tertidur bersamanya di sofa. Matanya mengerjap dan dilepaskannya sapu tangan basah diwajahnya.
Sherington melihat wajah gadis diatasnya, terlihat cantik dan damai. Perasaan hangat karena perhatian dan kepercayaan Gabriella telah membuatnya memutuskan tidak akan menyerahkan gadis ini pada siapapun. Walaupun Gabriella mencintai lelaki lain, Sherington tidak mau menyerahkannya pada sang Baron. Dia masih ingin merasakan kehangatan lain yang ditunjukkan untuk dirinya dimasa depan nanti.
Perlahan Sherington menegakkan kepalanya dan dengan seluruh perasaan hangat yang dirasakannya saat itu dikecupnya bibir sang gadis mesra. Ini adalah ciuman tanpa paksaan dan Sherington melakukannya dengan lembut. Bibir gadis itu terasa lembut dan manis.
Dia menghentikan ciumannya seketika karena tidak ingin membangunkan sang lady yang terlihat nyenyak dengan tidurnya. Setelah menatap sang gadis lama, Sherington memutuskan untuk membangunkannya.
Sambil berbisik ditelinga Gabriella, Sherington berkata "Bangunlah putri tidur atau aku akan menciummu agar terbangun" Bisik Sherington sambil tersenyum.
Gabriella terkejut dan menegakkan tubuhnya. Dia tidak sadar telah tertidur dan dilihat oleh Lord Sherington. Bisikan mesra Sherington untuk membangunkannya membuatnya malu dan hanya bisa mengucapkan maaf.
"Ma...maaf my lord saya tertidur. Sungguh sangat tidak sopan tindakan saya ini. Kurasa saya terlalu banyak membaca buku kemarin malam."ujar Gabriella malu sambil menjauhkan posisi duduknya dari sang lord.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan my lady, kita sama-sama tertidur tadi. Akulah yang berterima kasih atas semua perhatianmu barusan. Kini aku merasa segar kembali. "Ujar Sherington senang.
"Kurasa ibuku juga keterlaluan my lord. Dia membiarkan kita berdua tertidur disini. Sangat memalukan." jelas Gabriella.
"Aku senang ibumu tidak mengganggu kita. Kurasa dia mengerti bahwa kita perlu waktu berdua untuk beristirahat."Bela Sherington.
Dia senang sekali dengan tindakan calon mertuanya itu. Gabriella masih merasa malu dan jengah. Sherington merasa harus mengalihkan perhatian sang gadis agar dapat menghilangkan rasa malunya.
"Jadi buku apa yang membuatmu tertidur hingga larut malam my lady?" Tanya Sherington.
"Bukan apa-apa my lord." Gabriella menghindar.
"Bagaimana dengan buku tentang kuda arab yang akan kau pinjamkan kemarin?"tanya sang lord
"Oh, buku itu sudah kusiapkan dan ada diperpustakaan my lord. Bila my lord bersedia, saya akan mengambilnya dulu ke sana."ujar Gabriella sambil berdiri menuju perpustakaan berusaha melarikan diri sejenak dari tunangannya itu.
Lord Sherington menghentikan gadis itu dengan memegang tangannya. "Kurasa aku ingin melihat perpustakaanmu my lady. Boleh?"tanya Sherington.
"Baiklah, silahkan my lord" jawab Gabriella cepat ingin keluar dari ruangan itu secepatnya.
Sore itu keduanya tidak jadi berjalan-jalan ke taman namun menghabiskan waktu diperpustakaan mencari buku tentang pacuan dan kuda ditemani adiknya Faby.
Setelahnya, Lord Sherington berpamitan pulang dan menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya dan bertemu dengan seluruh pegawainya besok. Gabriella menyetujuinya dan bersedia dijemput siang besok.
Gabriella merasa senang dengan waktu yang dihabiskannya bersama Sherington sore ini. Hatinya berbunga karena pembicaraan mereka yang berbobot soal kuda. Diingatnya kembali kejadian yang terjadi di ruang tamu siang itu. Bisikan lord Sherington yang mengancam untuk menciumnya bila tidak bangun membuat wajahnya memerah kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unperfect Love
Historical FictionSeri pertama dari perfect series (Private) Viscount of Sherington, seorang lord dengan kekayaan melimpah namun memiliki kebiasaan buruk mabuk minuman keras. Lady Gabriella, gadis manis yang sedang mencari pasangan selama musim pesta.
