Day-14 (The Day Before That Day)

589 75 1
                                        

Oh Sehun.

Katakan kalau kau hanya bagian dalam mimpiku.

Joy menatap langit malam dari balkonnya. Banyak sekali bintang dilangit, namun tidak ada bulan disana. Dia menatap langit malam dengan sendu, tanpa ia sadari air mata pertamanya keluar bersamaan dari kedua pelupuk matanya.

"Appa, eomma! Jangan tinggalkan aku! Jebal! Jebal, eomma, appa! Jangan tinggalkan aku! Jebal!"
.
"Aku tidak mau bersahabat dengan pembohong sepertimu, Tae-ah! Kita akhiri saja persahabatan kita."
.
"Kau penipu, Dongtae! Kita putus saja!"
.
"Halmeoni, jebal, jangan meninggalkan aku! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini!"
.
"Irene, aku kecewa padamu! Kau bukan sahabatku lagi!"

Secara tiba-tiba Joy memegang kepalanya lalu jatuh tersujud. Ingatan tentang masa lalunya datang secara bertubi-tubi, membuat kepalanya sakit.

Joy terisak sambil memegangi kepalanya.

"Hiks... hiks... aku tidak mau kehilangan seseorang lagi dalam hidupku... hiks..."

***

Pagi-pagi Sehun sudah bangun dan memasak ramyeon. Dia khawatir dengan keadaan Joy. Dia tau, Joy tidak makan sama sekali kemarin. Dia takut yeoja itu kenapa-kenapa.

Sehun menghela nafasnya panjang. Dia menatap panci berisi ramyeon yang sedang dimasak.

"Apa segini cukup untuk Joy?"

Dia mengerang pelan. Dia menggelengkan kepalanya cepat lalu menuju kulkas untuk mengambil telur tambahan.

Selesai memasak, Sehun membawa nampan berisi ramyeon itu dan segelas besar susu menuju kamar Joy. Dia menghela nafas panjang saat pintu itu sudah didepan matanya. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang sekarang.

Dengan ragu dia mengetuk pintu kamar Joy.

"J-Joy noona, aku buatkan ramyeon. Makanlah. Aku tau ini tidak akan enak tapi..." Sehun menggantungkan ucapannya.

Tapi aku khawatir kalau kau belum makan.

"... tapi terserah padamu mau makan atau tidak, aku akan meninggalkan makanan ini didepan pintu kamarmu."

Sehun meletakkan nampan itu di lantai lalu berjalan kembali menuju lantai bawah.

Disisi lain, Joy sedang meringkuk di kasur sambil membungkam telinganya dengan bantal kuat-kuat. Dia mengerutkan keningnya seperti orang yang sangat tersiksa.

"Tae-ah, kita akhiri saja..."

"Dongtae! Kau..."

"Appa! Eomma!!"

"...Rine..."

"Halmeoni!!"

"Nado saranghaeyo, Park Soo Young."

"Joy, aku mencintaimu."

"Aku juga."

"Kau penipu!"

"Kau bukan sahabatku lagi!"

"Kenapa kau mempermainkanku, Joy-ah? Bukankah kau mencintaiku?"

"Hiks... hiks... hajima..!! Hajima..!!" Seru Joy sambil terus membungkam telinganya. Pikirannya tentang masa lalunya membuatnya tersiksa.

"Hiks... hiks... jangan tinggalkan aku..."

Joy sudah tidak sanggup lagi sekarang.

"Hiks... aku tidak mau kehilangan lagi..."

"Hiks..."

"Oh Sehun..."

***

Sehun meneteskan air matanya saat mendengar tangisan Joy. Tidak, dia tidak sepenuhnya pergi ke lantai bawah. Dia kembali keatas, entah mengapa.

Dia menempelkan telinganya ke pintu itu.

"Hiks... aku tidak mau kehilangan lagi..."

"Hiks..."

"Oh Sehun..."

Apa Joy memanggil namanya? Katakan kalau dia salah dengar.

Dia berjalan menuju lantai bawah setelah mendengarnya. Dia tidak sanggup lagi.

Kenapa dia diberi cobaan seperti ini?

Kenapa dia harus melindungi seseorang lalu meninggalkannya?

Itu sakit, sangat.

Dengan gontai Sehun menuju pintu keluar. Dia membukanya dan berjalan keluar rumah Joy. Dia mau pergi, kemana saja asalkan jauh dari Joy. Karena, dia tidak sanggup lagi.

Cinta telah datang namun kau meninggalkanku
Aku sudah menunggumu namun aku tak bisa melihatmu
Air mata yang mengalir saat ini mengatakan selamat tinggal, goodbye
Hello, hello.

360 HoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang