14. Sudah Hilang

747 57 0
                                        

"Aku mau kuliah di Jakarta atau Jogja. Jurusan hukum." Jawab Rey mantap. Aran tidak terkejut sedikitpun.

"Ayahmu?"

"Masih dua tahun lagi." Balas Rey. Aran mengangguk saja.

"Aku belum tahu." Ujar Aran tiba-tiba. Rey lebih tidak terkejut dengan jawaban itu, karena tanpa itu pun Aran sudah mendapatkan posisi di perusahaan ayahnya.

"Kamu sih tidak masalah." Kata Rey. Ia merapikan poninya.

_____

Rey duduk di meja kantin sendiri. Baginya tak masalah. Aran entah kemana, tapi mungkin sedang dipanggil guru. Lagipula Rey tak berharap Aran akan duduk dihadapannya di kantin. Itu akan memicu keributan.

"Hei." Rey menoleh. Seorang gadis menyapanya dan duduk dihadapannya dengan semangkuk mi ayam. Rey menaikkan sebelah alisnya.

"Aku Rana, teman sekelasmu. Tidak ingat ya?" Ujar Rana seperti bisa membaca ekspresi Rey. Rey mengangguk saja. Ia melanjutkan menyantap mi ayamnya.

"Rey, kamu pacaran sama Aran?"

Bruh!

"Ha?" Rey mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Ia meminum jus jeruknya karena hampir tersedak.

"Ma-maaf." Ujar Rana bersalah. Rey menggeleng.

"Tidak, tidak apa. Lagian aku sama Aran tidak ada apa-apa."

"Serius? Rasa suka?" Rana mulai penasaran. Rey terlihag ragu tapi kemudian menggeleng.

"Tidak. Kami hanya sahabat." Balasnya yang kemudian dibalas dengan suara helaan nafas lega milik Rana.

"Untunglah." Ujarnya membuat nafas Rey tercekat.

"Maksudmu?"

Rana mendekatkan wajahnya menatap Rey penuh harap. "Kau mau membantuku kan?" Tanyanya.

Rey terdiam. Ia mengerti apa maksudnya, tapi tak menjawab.

"Plissss. Kenalin aku ke diaaa." Pinta Rana.

"Seperti.. apa?"

"Misalnya yaaa kamu omongin tentang aku ke dia." Jelas Rana. Rey memandang tak yakin.

"Ayolah Reyyy... ya? Ya? Ya?" Pintanya lagi. Rey menatap mata Rana yang memohon.

"Aku tidak janji, tapi Aran itu–"

"Yey! Makasih Rey sayang!" Serunya senang. Rey mengerjapkan matanya beberapa kali kebingungan. Ia bahkan tak bilang iya

"Makasih ya Reyyy. makasihhhhh" ujarnya lagi. Rana kemudian kembali mengangkat mangkuknya dan beralih ke meja yang lain. Rey mengangkat sebelah alisnya.

"Datang dan pergi sesukanya." Gumamnya. Rey lalu melanjutkan makannya yang tertunda.

_____

"Ha? Pacaran?" Aran memperhatikan tiap buku di rak perpustakaan keluarganya. Rey yang membantu Aran membawa buku disampingnya hanya mengangguk.

"Kenapa tanya?" Tanya Aran. Ia tak menoleh. Ia tetap menelusuri jejak buku di rak.

Rey menghela nafas. "Ada temanku. Tertarik padamu."

Jawaban itu membuat Aran mengangkat sebelah alisnya. Ia menoleh. "Teman? Siapa?"

"Bukan teman juga sih. Aku baru kenal hari ini. Namanya Rana." Jelas Rey.

"Itu memang teman sekelas kita sih." Balas Aran. Dia kembali melihat ke arah rak buku kemudian mengambil sebuah buku. Ia lalu memberikannya pada Rey untuk membawa buku itu.

Stand By YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang