Ujian kenaikan kelas sudah lewat, kini Rey menggenggam selembar kertas undangan. Ia menyerahkannya pada Rian. Rian membacanya.
"Biasanya ayah yang mengambilnya." Ujar Rey. Rian hanya tersenyum.
"Aku akan mengambilnya." Balas Rian ramah. "Sekarang istirahatlah." Rey mengangguk dan pergi keluar dari ruang kerja Rian. Disana ia bertemu Aran.
"Ah.." Aran tak melanjutkan saat melihat Rey ada didepan pintu dengan wajah terkejut. Sedetik kemudian Rey memalingkan wajahnya dan pergi dari sana. Aran terdiam. Sejak insiden di pagi hari itu, Rey dan Aran memang tidak pernah lagi berbicara.
Aran menghela nafas sambil membuka pintu ruang kerja kakaknya. Rian berdiri membelakanginya sambil menelusuri judul buku yang tertata rapi di rak.
"Kamu mau ngasih undangan pengambilan rapot juga?" Tanya Rian tanpa menoleh.
"Juga? Rey juga ngasih?" Aran balik bertanya.
Rian membalikkan badannya dan mengangguk. "Aku akan meminta Arna untuk mengambil rapotmu." Ujarnya lalu duduk dikursinya.
Aran mendekatinya. "Kau berhutang cerita padaku."
"apa?"
"Hubunganmu. Dengan Rey." Aran menatapnya tajam. Rian terdiam dan membalas tatapan itu. Kini Rian tersenyum.
"Kau cemburu ya?" Tanyanya usil. Aran menelan ludah.
"Jelas tidak!" Jawab Aran kesal. Rian tertawa.
"Sudahlah, akan kuceritakan." Ujarnya mengalah. Aran bernafas lega karena tidak perlu berkelahi lagi. "Tapi ada syaratnya ya." Rian tersenyum.
Aran menaikkan sebelah alisnya. "Ha?"
_____
"Rey, itu kakakmu?"
"Kerennya! Siapa namanya?"
"Dia udah punya pacar?"
"Umurnya berapa?"
beribu pertanyaan datang menghampiri Rey yang kemudian hanya bisa tertawa hambar. Rian menepati janjinya. Ia mengambil rapot Rey sebagai kakaknya.
"Rey, ayo pulang." Ajak Rian yang tiba-tiba muncul dari belakang. Teman-temannya tadi tambah terpesona melihat Rian yang tersenyum hangat pada Rey.
Rey mengangguk kemudian pergi melangkah bersama Rian disampingnya.
"Mungkin lain kali kak Arna saja yang ambil rapotku." Keluh Rey. Rian tertawa renyah.
"Aran, cepat kesini!" Nama itu membuat Rey spontan menoleh ke arah kelas Aran yang berada tak jauh dari kelasnya. Rey dapat melihat Aran yang tertawa bersama teman-temannya didepan kelas. Mata mereka bertemu untuk sesaat, namun Rey segera memalingkan wajahnya. Rian menyadarinya.
"Kamu tuh lucu ya." Komentar Rian membuat Rey mengerutkan keningnya. "Kamu sama Aran, sama-sama lucu."
"Jangan samakan aku dengannya." Balas Rey kesal. Rian lagi-lagi tertawa.
"Kamu kenapa benci sama dia sih?" Tanya Rian ramah seperti biasanya. Rey mengembungkan pipinya.
"Kenapa ya?" Rey balik bertanya.
"Sekarang kamu lagi kesal karena kejadian dipagi hari itu kan?"
Rey terpana. "Bukan kesal sih, tapi lebih kearah..."
"Malu?" Rian menebak yang langsung diikuti kata "benar" dari Rey.
"Ah, kenapa aku harus membahasnya. Bagaimana nilaiku?" Tanya Rey penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stand By You
Fiksi RemajaReyna adalah seorang gadis penderita Athazagoraphobia yang hidup bahagia bersama ayahnya. phobianya itu adalah alasan dari sikapnya yang tertutup. ia tidak lagi mau menerima seseorang didalam hidupnya. Pada akhirnya prinsipnya itu hancur karena suat...
