Davino memperhatikan kondisi jalanan ibu kota yang memang tak pernah sepi dari rooftop sekolahnya dengan sebatang rokok di sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Balik lah. Rokok gue udah abis." Ferdi mengeluh karna bosan.
Davino mengambil sebungkus rokok yang ada di saku celananya, kemudian melemparnya ke arah Ferdi.
Ferdi menerimanya dengan tatapan malas, lalu melemparnya kembali ke Davino.
"Gue udah abis 4 batang. Gue gamau cepet mati. Balik ke kelas aja, udah ganti jam pelajaran nih."
"Ferdi bacot banget kayak bocah. Kalo udah bosen kebawah aja duluan" Randy menyahut.
"Gue heran sama kalian berdua Rand, Dav. Kenapa suka banget sih di rooftop? Disini cuma bisa ngeliatin mobil sama motor lewat, ngedenger suara klakson, dan ngerasain angin doang. Tapi betah banget lo berdua." Ucap Angga lalu melempar rokoknya ke lantai tak lupa menginjaknya.
"Gue balik ke kelas duluan sama Ferdi ya." Lanjutnya.
"Hmm." Jawab Davino dan Randy.
Davino dan Randy memang memiliki banyak persamaan. Mereka sama-sama menyukai melihat pemandangan dari rooftop. Mereka sama-sama cuek kepada perempuan yang histeris saat melihat mereka. Mungkin, hanya satu perbedaan.
Davino suka suasana club, Randy tidak. Hanya mungkin.
"Anak baru itu Dav,"
Davino menoleh ke arah Randy.
"Dia sekelas sama gue." Lanjutnya.
"Terus?"
"Yang gue denger dari anak-anak cewek di kelas gue, dia pindah karna di keluarin."
"Keluarin? Kenapa?"
"Katanya, bad girl."
"Oh. Ngga kaget gue. Cara ngomong aja nyolot kok."
"Tapi mukanya. Ngga keliatan bad girl-nya sama sekali. Malah wajah-wajah cewek polos yang ngga ngerti apa-apa."
"Jangan ketipu sama muka."
Randy tersenyum miring.
"Kira-kira dia termasuk cewek yang suka ke club malem ngga ya."
Davino menegang seketika.
"Kenapa lo nanya gitu."
"Ya, gue penasaran aja. Soalnya cewek yang biasanya gue temuin di club ngga ada yang model kaya dia."
"Lo suka ke club juga?"
"Suka. Lo suka juga kan? Gue pernah ketemu lo sekali di club langganan gue."
Oh ternyata Randy juga suka clubbing.
"Kenapa ngga negur anjing."
"Santai dong, waktu itu lo lagi mabuk berat. Jadi gue pikir, kalo gue tegur juga ngga bakalan sadar."
Davino terdiam. Rahasianya sudah diketahui seseorang.
"Kenapa diem Dav? Santai. Gue nggak akan bocorin ini ke orang-orang. Termasuk Ferdi sama Angga."
Davino masih diam. Ia ragu.
"Percaya sama gue Dav, lo kan sahabat gue."
"Ok."
"Jadi gimana? Kapan kita clubbing bareng?"
**
Bel istirahat baru saja berbunyi, Davino dan ketiga temannya sudah ada di meja yang biasa mereka tempati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Am I?
Teen Fiction☑SUDAH TERBIT☑ [Highest rank: #1 on teenfiction] Davino Argya. Siswa yang terkenal di sekolahnya karna di cap sebagai badboy yang memiliki bad attitude dan wajah yang tampan. Banyak wanita yang tergila-gila padanya, bahkan ada yang menamai diri mere...
