Everything Just For You

1.5K 66 18
                                        

ZURICH INTERNATIONAL AIRPORT, SWITZERLAND

Jigar:

Akhirnya sampai juga di Swiss. Aku meregangkang otot-ototku saat pramugari mulai berceloteh. Bahwa kami sudah berada di negara yang sangat disukai Janhvi ini. Aku sendiri malas sekali mendengar setiap ucapan yang terus dilontarkan para gadis cantik yang mengenakan rok di atas lutut itu. Memuakkan sekali. Jika bisa ketika landing tadi aku ingin langsung lompat dari jendela, bersama Janvhi yang sama sekali tak kehilangan kecantikannya hingga detik ini. Setidaknya bagiku.

Swiss. Apa yang ada di dalam pikiranmu saat aku menggumamkan satu negara itu terus-menerus? Dilwale Dulhania Le Jayenge? Sial! Aku mudah tertebak.

Janhvi, bahkan seluruh gadis di India begitu menggilai kisah cinta Raj dan Simran di negara yang pertama kali kutapaki ini. Aku tidak mengerti, mengapa selera semua gadis itu sama. Raj yang loveable. Bahkan Janhvi tetap mengidamkan peran SRK itu meski sudah memilikiku. Aku harus bagaimana? Gadisku itu memang tidak punya keanehan selain mengidolakan tokoh Raj. Berulang kali kutonton film itu tapi aku hanya terpaku pada Simran yang cantik. Tapi itu dulu karena sekarang aku bisa melupakan kecantikan bahkan kejudesan Simran karena sudah memiliki Janhvi.

Pertemuanku dengan gadis bermata bulat itu sebenarnya tidak di sengaja. Di Delhi, aku lupa kapan tepatnya. Kami sama-sama mengikuti audisi Dance From Heart tapi gagal. Kami menjadi teman lalu waktu bergulir membuat sesuatu yang lebih terjadi diantara kami. Kami sama-sama menyukai dance, untuk itulah kami tidak pernah terpisahkan. Yang menakjubkan, kami memenangkan kompetisi tersebut setelah kegagalan kami tahun lalu. Untuk itulah kami berada di Swiss sekarang.

Swiss jadi satu-satunya kandidat yang harus kami kunjungi setelah perayaan kemenangan. Janhvi bilang, liburan ini akan menguatkan kisah cinta kami. Sebenarnya gadisku tidak perlu berbuat seperti itu karena setiap detik aku selalu jatuh cinta padanya. Bertubi-tubi. Apakah itu tidak cukup untuk menguatkan cinta kami?

Tetapi ya sudahlah... Untuk Janhvi ku tersayang aku rela melakukan apapun untuknya termasuk terbang sejauh Swiss untuk mengulang kisah cinta Raj dan Simran.

"Finally..." Kulihat Janhvi merentangkan kedua tangannya saat menginjak tanah Swiss pertama kalinya. Hidungnya yang panjang digunakan untuk menghirup udara musim panas dalam-dalam, seolah persediaan udara akan habis.

"Jigar! Come!" Janhvi menarik tanganku, mengisyaratkan untuk melakukan hal yang sama dengannya.

Aku ingin menolak sebenarnya tapi paras Janhvi yang begitu antusias membuatku sulit membuka mulut apalagi untuk menolak gadisku yang cantik. Hanya Dewa yang tahu mengapa aku sering tak berdaya di depan kekasihku ini.

Syukurlah para penumpang pesawat yang baru turun tak begitu peduli dengan tingkah Janhvi sehingga aku menjadi semangat untuk melakukan hal yang sama. Hanya setengah menit aku merentangkan kedua tanganku, menghidup udara bebas Swiss dalam-dalam, setelahnya aku menggendong Janhvi agar tidak lagi berlama-lama melakukan hal yang konyol.

"Kita bisa lakukan ini dilain waktu dan dilain tempat. Bagaimana?" Aku tidak membiarkan Janhvi lepas dari pundakku meski tangannya terus meronta minta turun.

"Turunkan aku Jigar, apa kau tidak malu menggendongku seperti ini?" Berangsur-angsur pukulan Janhvi melemah. Mungkin ia lelah.

"Tidak. Aku tidak pernah malu melakukan apapun untukmu, sweetu." tapi aku tidak kuat juga lama-lama menggendongnya. Jadi kuturunkan saja Janhvi lalu kami berjalan sambil bergenggaman tangan menuju bagasi.

Hal yang paling kusuka dari perjalanan setelah hari-hari melelahkan di Dance From Heart adalah bersama Janhvi seperti sekarang ini. Tidak peduli di mana kami akan berlibur, yang terpenting bagiku Janhvi ada di sisiku.

"Jigar, kau ingat bagaimana kita harus menghabiskan waktu di Swiss?" tanya Janhvi di tengah antrian menunggu bagasi.

"Of course. Kita akan mengulang kisah Raj dan Simran, kan? Ya ampun, Janhvi bagaimana aku bisa melupakannya, kau selalu saja mengingatkanku setiap detik." Aku mencubit dagunya gemas. JIka itu paani puri mungkin aku sudah melahap dagu beningnya itu. Menggemaskan sekali.

Tapi sepertinya Janhvi tidak menyukai perkataanku. Ia terlihat melihat kedua tangannya di dada dengan bibir yang memberenggut. Jika saja bukan di depan umum aku pasti sudah melumat bibir merah jambunya itu. Sialnya keinginan itu tak pernah sekalipun kesampaian. Mungkin lain waktu saja. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk membuat first kiss kami sangat berkesan. Kau harus sabar menunggu, Jigar.

"Bukan seperti itu!" katanya masih dengan ekspresi wajah yang sama.

Aku membeliak, "Apa aku melupakan sesuatu?" seingatku tidak. Aku belum pikun.

"Ada. Kau melupakan rutenya. Kau ini." dia memukul bahuku keras tapi tak sedikitpun terasa sakit. Aku malah sedikit ketagihan. Kumohon Janhvi, lakukan sekali lagi. "Setelah ini kita akan berpisah!"

"Kyaa???" Kurasa mataku ingin keluar. Ber-berpisah katanya? Bagaimana mungkin. Kupikir aku salah dengar.

"Haan!" Tapi Janhvi mengangguk mantap. "Aku kan sudah pernah mengatakan padamu. Bahwa kita akan berpisah begitu kita sampai di Bandara. Kita akan memulai kisah ini dengan menjadi dua orang asing seperti Raj dan Simran."

Kupikir aku mulai pikun!

"Matlab?" susah payah aku menelan ludah. Demi Dewa, aku tidak ingin berpisah denganmu meski hanya sedetik, Janhvi. Tolong mengertilah.

Tatapan Janhvi masih mengawasi ban berjalan. "Begini. Setelah kita--" Janhvi mendapatkan koperku, maka ia memberi jeda sampai aku mengambil koper dan mengangkatnya ke troli. "Setelah ini kita akan mencari hotel masing-masing. Kita tidak akan terhubung dengan apapun. Ponsel. Kita tidak memerlukan itu. Kita hanya perlu berpisah untuk hari ini lalu besok kita akan pergi ke stasiun Bern, lalu kita akan menjelajah Swiss sama seperti Simran dan Raj. Bagaimana?"

Koper Janhvi menyapaku, maka aku langsung mengangkatnya dengan jutaan pertanyaan mengambang.

"Kau mengerti, Jigar?" Janhvi menjentikkan jemari lentiknya. Rambut ikalnya bergoyang-goyang di sekitar bahunya. Menambah pesonanya yang tak pernah berubah sedikitpun di mataku. Lalu bagaimana ia bisa berkata kalau setelah ini kami akan berpisah?

Demi Dewa Khrisna... Aku tidak ingin berpisah dengan Radhaku.

"Ini hanya sampai besok, Jigar." lanjutnya seraya mendorong troli. "Kita akan berpisah hotel untuk membuktikan bahwa takdir selalu berpihak pada kita meski kita terpisah."

"Par, jaan." Aku tidak tahu harus menginterupsi dengan kata-kata yang mana. Terlalu kelu lidahku ini.

"Jigar... Ini juga berat untukku, tapi kita harus memulai kisah ini layaknya orang asing. Ini pasti akan menjadi seru."

Aku mengangguk cepat, terpaksa saja. Aku pura-pura setuju padahal setengah mati aku ingin menolak ide konyol ini. Tetapi aku tidak berani mengatakannya pada Janhvi. Selama ini idenya tidak pernah salah meski aku merasa konyol. Yah, tidak ada salahnya jika mengikuti.

"Okay theek hai! Kita akan menjelma seperti dua orang asing. Kita memilih hotel yang berbeda, tidak memiliki nomor ponsel, tapi besok kita akan ke stasiun Bern di mana Raj dan Simran pernah ketinggalan kereta. Kita akan bertemu di sana dan memulai perjalanan ini dengan sangat indah, tapi sebagai dua orang asing. Bukan sebagai Jigar dan Janhvi yang sekarang."

"Brilliant, Jigar!" Janhvi menghambur kepelukanku. Tidak melepaskanku untuk beberapa menit. "I loved you so much!" Kurasa aku mendapat bonus dari keikhlasanku ini. Barusan Janhvi mengecup pipiku. Ingin pingsan jadinya.

***

Author's Notes

Hai guys... Bagaimana dengan bagian yang ini? Ayo ayo berikan kritik dan sarannya. Tetap follow ya. Thank you, salam dari Jigar yang memesona. Muaahh...

4 Mei 2016

SANAM RETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang