Janhvi;
Aku melirik jam tangan, masih beberapa menit lagi sebelum pertemuan dengan Yash Mathur dan antek-anteknya dimulai. Rohit juga masih berada di perjalanan. Aku akan menunggunya. Aku tidak akan masuk tanpa Rohit maka aku menunggunya di lobi kantor YME.
"Janhvi, kau masuk saja."
Aku mengerling ke arah Vishal yang duduk di hadapanku. Jika bukan karenanya mungkin aku tidak akan sampai di kantor YME. Sudah kukatakan padanya aku tidak ingin terlibat di dalam film yang sama dengan gadis itu dan Jigar. Aku bersikeras sampai akhirnya Vishal memaksaku untuk datang. Dia berkata kalau aku tidak boleh mengempaskan kesempatan emas ini begitu saja. Vishal bahkan menggeretku sampai ke kantor YME dan menungguku sampai benar-benar masuk. Dia tidak percaya padaku. Vishal takut aku akan melarikan diri.
"Tidak. Aku tidak akan masuk sendirian. Kemana Rohit? Mengapa dia belum sampai?"
Vishal menghela napas pelan kemudian berdiri, "apakah aku harus mengantarmu sampai ruang reading?" Dia menyeringai lebar. "Aku juga tidak keberatan untuk itu."
"Tidak, Vishal," kataku sambil berdiri. Mendekatinya dan terus menolak apa yang ingin dia lakukan untukku.
Jujur saja, aku tidak enak jika Vishal terus melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya.
"Tidak apa-apa. Aku bersedia menemanimu sampai selesai."
Aku mengernyit. Jika dia menemaniku sampai selesai, "bagaimana dengan tokomu?"
Vishal mengusap dagunya seraya menatap langit-langit, "karyawanku sudah mengurusnya." Tambahnya seraya menjentikkan jemarinya.
"Ti-" baru saja aku ingin melanjutkan ucapanku, kedua mataku melihat sesuatu yang janggal di kepalanya. Kedua alisku saling bertaut dan tanpa sadar sebelah tanganku meraih sesuatu yang berwarna putih tersebut. "Ya ampun Vishal, ini uban." Aku tertawa lebar. "Berapa usiamu?" Aku belum juga bisa mengendalikan diriku.
"Ah sial!" Umpatnya. "Mengapa kau begitu jeli melihatnya?" Wajah Vishal memerah, lantas cepat-cepat mengambil sehelai rambut yang telah memutih tersebut dariku dan mengantonginya.
Aku mendecak lidah berulang kali, "kau terlalu serius dengan pekerjaan, Vishal." Kataku dengan tawa yang perlahan-lahan mereda. "Kau harus lebih rileks sedikit. Lihat akibatnya, kau jadi terlihat lebih tua dari usiamu."
"Ini sering terjadi jika aku banyak pikiran. Tentu saja banyak hal yang kupikirkan untuk Prasad Bakery." Katanya masih dengan air muka yang sama.
"Baiklah, kau memang pekerja keras Vishal." Aku menepuk bahunya berulang kali, "Kau-" kata-kataku terhenti seketika seseorang berbicara begitu mencoloknya.
Aku menoleh ke belakang dan menemukan pemandangan yang paling kubenci seumur hidupku.
Jigar, berdiri satu meter di belakangku dengan seorang gadis yang paling kubenci akhir-akhir ini.
"-kau tidak akan percaya apa yang akan kutunjukkan padamu." Jigar membelai rambut depan gadis itu. Jigar meletakkan kedua tangannya di kedua bahu gadis itu dan menatap matanya penuh kelembutan. "Aku bahkan sudah mempersiapkan semua itu jauh sebelum hari ini terjadi. Kau mau melihatnya?"
Gadis itu mengangguk manja. "Jigar, kau memang penuh kejutan. Tadi kau-" Jigar membungkam gadis itu dengan telunjuknya.
"Ssstt... Jangan bicarakan yang terjadi tadi jika kita sudah berada di saat ini? Ayo ikut aku, aku tidak sabar sekali ingin melihat kebahagiaanmu saat melihat kejutan dariku ini."
"OK!" Gadis itu menggerakkan kepalanya.
Sedetik kemudian mereka saling berangkulan. Menjijikkan!
KAMU SEDANG MEMBACA
SANAM RE
Romance(SWEETHEART) Tadinya, sepasang kekasih Jigar dan Janhvi ingin mereka ulang adegan romantis DDLJ di swiss. Mereka datang bersama lalu memisahkan diri. Mereka berjanji untuk bertemu sebagai orang asing. Berhasilkah keduanya bertemu sebagai orang asing...
