We Meets Trouble

460 30 19
                                        

Jigar;

Rasanya aku tidak ingin melepaskan Janhvi meski hanya sedetik. Bahagia bukan lah kata yang cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Terharu bukan lagi ungkapan yang tepat untuk pertemuan ini. Betapa perpisahan ini sangat menyiksa kami berdua. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku saat melihat wajah Janhvi yang lebih dulu berurai air mata. Aku benar, aku pasti akan bertemu dengan Janhvi-ku hari ini juga.

Janhvi, kau sedikit agak kurus.

Namun begitu aku tetap memeluknya, semakin erat.

"Jigar, apa makananku sudah datang?"

Oh tidak!

Aku merasa pelukan Janhvi melongkar. Kepalanya terangkat dari dadaku, dan tubuhnya bergeser.

"Jigar," Janhvi tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Shimmer yang hanya berbalut handuk kimono. "Si-siapa dia?" Wajah Janhvi tampak sangat bingung.

"Jigar?" Shimmer juga terlihat bingung saat mendekatiku dan Janhvi.

Persetan dengan kebingungan Shimmer. Aku buru-buru mengerling pada Janhvi yang menatapku dengan sorot mata penuh kekecewaan.

"Janhvi, dia-"
Janhvi mengangkat tangannya, menyuruhku diam. "Sekarang aku mengerti." Tatapannya berubah dalam sekejap. Tidak ada lagi sorot penuh kerinduan di sana. "Aku mengerti mengapa kita baru bertemu di sini, Jigar."

"Hey, ada apa?" Shimmer bertanya seolah-olah sikap Janhvi yang terpampang di hadapannya bukan sesuatu yang besar.

"Apa kau tahu Jigar, bahwa kemarin aku menunggumu di stasiun Bern?"

Aku tidak percaya ini. Janhvi ke stasiun Bern?

"Tidak, kan?" Janhvi mendengus kasar. "Aku menunggumu berjam-jam di stasiun Bern." Suaranya parau. "Tidak. Tidak hanya di stasiun, tapi juga seluruh sudut Bern telah kujelajahi untuk menemukanmu Jigar!" Janhvi menaikkan volume suaranya.

Aku tersentak, begitupula dengan Shimmer dan seorang laki-laki yang datang bersama Janhvi tadi.

"Aku tidak peduli seberapa jauh aku berjalan, seberapa lama aku menunggu. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan berkata kalau aku tidak ingin kisah Raj dan Simran lagi. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak ingin berpisah denganmu. Tapi apa yang kulihat barusan? Seorang gadis berada di dalam kamarmu? Dengan-"

"Tidak seperti itu Janhvi." Kataku cepat. Harus kumulai dari mana penjelasanku ini?

"Lalu seperti apa, Jigar?" Janhvi memejamkan mata dan membuat air matanya luruh kembali. "Bolna!"

Demi Tuhan, kumohon jangan menatapku sesengit ini Janhvi. Aku tidak ingin melihat kemarahan di kedua matamu itu.

"Kau tahu bagaimana perasaanku sejak menyadari kita terpisah?" Sebelah kepalan tangannya menepuk-nepuk dada kiri atasnya. "Sesak sekali, Jigar. Nyeri sekali ketika aku memikirkanmu. Aku takut tidak menemukanmu. Jika kutahu akan jadi seperti ini, mungkin aku akan memilih mengemasi barang-barangku!" Janhvi menutup mulutnya, ia berbalik dan berlutut.

"Kau bukan Jigar. Bukan Jigarku." Terdengar tangis yang tertahan. Kepalanya tertunduk. "Jigarku tidak akan mengkhianatiku dengan cara seperti ini."

Itu tidak benar, Janhvi. Aku Jigar. Jigarmu!

Aku berlutut, berusaha merengkuh Janhvi tapi gadisku itu menepisku. Meski aku berhasil merengkuhnya, dia terus berteriak memintaku melepaskannya.

"Janhvi, kumohon tenanglah. Semua ini tidak benar, Janhvi, kumohon tenangkan dirimu. Tidak ada yang terjadi di antara kami. Aku hanya mencintaimu, Janhvi, aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu."

SANAM RETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang