Notes:
Oho! Minggu kemarin cuma bisa upload satu biji gegara inet lola. Heuheuheu. Sebagai penebusan, hari ini author bakalan posting dua chapter sekaligus. Semoga masih ada yg setia menunggu kisah Double J. *kisshug
______________
Janhvi;
"Kau harus tetap tenang, Janhvi." Kata Vishal.
Dia terus mengatakan kalimat itu sejak kemarin malam. Vishal juga menemaniku menunggu Jigar dan tidak merasa keberatan sedikitpun. Bukannya aku tidak ingin tidur nyenyak di atas kasur yang empuk. Akan tetapi kondisi menyedihkan ini tidak memungkinkanku untuk melakukannya.
"Kemana lagi aku harus mencari Jigar?" Tanyaku lirih.
Aku menatap tanah di bawah kakiku. Yang sejak kemarin malam menjadi saksi bagaimana kami tertidur di atas bangku panjang stasiun dengan berharap seseorang datang dan memelukku.
Bukannya aku tega membiarkan Vishal mengikutiku, namun laki-laki baik itu tetap ingin bersamaku. Ia berkata akan menjagaku sampai bertemu Jigar. Entah sudah berapa banyak utang kebaikan yang harus kubayar setelah ini. Di sisi lai aku setuju dengan Vishal karena aku tidak ingin berpisah dengannya sampai nanti aku bertemu dengan Jigar.
"Ada beberapa tempat lagi yang belum kita datangi." Vishal berhenti sejenak. "Gstaad. Kita harus kesana. Bila perlu kita akan menelusuri setiap tempat di Bern hari ini."
Aku malu padanya. Mendengar perkataannya, sepertinya Vishal tidak patah semangat. Berbeda denganku yang mulai tumbuh butir-butir ketidaksanggupan. Benar, aku tidak sanggup lagi berjalan. Punggungku terasa sangat pegal. Aku merasa seperti baru dijatuhkan dari gedung tinggi. Wajahku pun terasa hangat.
"Ayo, Janhvi." Vishal bangkit dari tempata duduknya. "Banyak tempat yang harus kita datangi hari ini. Dan aku telah memperpanjang masa penyewaan mobilnya."
Aku mengangguk. Lalu berdiri dengan kaki yang sedikit lemas. Vishal sudah lebih dulu maju di depanku. Seraya merapatkan mantel aku mengikuti langkahnya yang agak cepat namun kakiku tidak bisa mengimbangi. Bukannya berhasil mensejajarinya, kedua lututku terjatuh. Aku tidak sanggup lagi berjalan.
"Vishal,"
"Ogh! Janhvi?" Vishal berlari ke arahku, "ada apa?" wajahnya terlihat panik. "Kau baik-baik saja? Kau menyandung sesuatu?" pandangannya mengedar mencari sesuatu.
Aku menggeleng. "Kakiku," kataku menahan nyeri di betis.
"Ada apa dengan kakimu?" Tanpa permisi, Vishal meraih kakiku. Memeriksanya dan cepat-cepat membuka boots berhakku.
Aku melihat luka kecil di kaki bagian belakang. Lecet. Tapi aku yakin bukan itu saja yang membuat kedua kakiku ini tidak kuat menopang tubuhku lagi.
"Aku akan mengambil kotak obat,"
Aku menahan Vishal yang bersiap meninggalkanku. "Ini tidak apa-apa. Kakiku hanya kram. Bawa aku ke mobil saja, sehingga kita bisa melanjutkan pencarian. Aku tidak ingin menunda meski hanya sedetik. Aku ingin secepatnya bertemu dengan Jigar, Vishal."
Mimik wajah Vishal seperti enggan menurut. Terlihat juga dari bahasa tubuhnya yang tidak langsung melakukan apa yang aku katakan padanya. Vishal menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan kalau aku ini begitu keras kepala.
"Vishal,"
Vishal terlihat tersentak.
"Aku ingin bertemu dengan Jigar secepatnya," lanjutku.
"Tapi kondisimu ini. Tidak mungkin,"
"Please...!"
Vishal bergeming.
KAMU SEDANG MEMBACA
SANAM RE
Romansa(SWEETHEART) Tadinya, sepasang kekasih Jigar dan Janhvi ingin mereka ulang adegan romantis DDLJ di swiss. Mereka datang bersama lalu memisahkan diri. Mereka berjanji untuk bertemu sebagai orang asing. Berhasilkah keduanya bertemu sebagai orang asing...
