Janhvi;
Aku kembali menghampiri Vishal setelah kembali dari toilet. Pria itu sedang menatap ponsel dengan begitu tekunnya. Mungkin ia sedang membaca sesuatu karena sedari tadi ia hanya menggeser layarnya ke atas dan ke bawah saja. Tidak bisa kupungkiri, beberapa menit bersama Vishal sudah membuat kami begitu akrab. Vishal memiliki banyak topik untuk dibicarakan sehingga kami bisa mengobrol banyak. Kuakui, mengobrol dengannya bikin ketagihan, akan tetapi aku tidak bisa berlama-lama bersamanya. Aku harus mengecek kereta yang datang dari Zurich.
"Maafkan aku, Vishal. Aku harus pergi lebih dulu."
Vishal mendongak dan meninggalkan ponselnya. "Kau sedang terburu-buru? Mau kuantar? Kebetulan, aku tidak terlalu repot."
Aku terdiam sejenak. Ingin mempertimbangkan, namun kepalaku menggeleng tanpa kompromi.
"Aku sedang menunggu seseorang. Mungkin lain kali saja," aku mengakhiri kalimatku dengan senyum.
Vishal tampak mengangguk. Sejurus kemudian kedua tangannya menepuk-nepuk mantel cokelatnya. Seperti mencari sesuatu. Lalu sebelah tangannya menyelusup ke saku bagian dalam dan mengeluarkan selembar kertas.
"Ini kartu namaku. Kapanpun kau butuh bantuan, hubungi saja." Senyumnya melebar. Membuatku semakin canggung.
Mengapa bisa seperti ini? Aku benar-benar bertemu dengan orang asing? Parahnya lagi orang asing tersebut adalah orang India yang sangat ramah-tamah. Bagaimana ini? Bukan begini liburan yang kuinginkan.
Tanganku sedikit bergetar ketika meraih kartu nama, kuharap Vishal tidak menyadarinya. Setelah mengucapkan salam perpisahan, aku buru-buru berbalik dan beranjak.
"Janhvi!"
Langkahku terhenti. Sepertinya aku mendengar Vishal memanggilku.
"Janhvi, kau melupakan Ganpati-mu lagi. Apa yang akan dilakukan-Nya di sini tanpamu?" Katanya menyusulku.
Ya ampun. Terjadi lagi?
"Thanks." Setelah mengambil Ganpati aku segera keluar dari restauran dan mencari seseorang yang seharusnya sudah bersamaku sejak tadi.
Aku terus menyusuri kanal-kanal, mencari seseorang dari kereta yang menurut informasi baru tiba sekitar lima menit yang lalu. Aku terus berjalan. Meliarkan pandanganku seraya menekan dadaku bergemuruh. Ada perasaan takut yang sulit kujelaskan sekarang. Yang aku tahu, aku ingin secepatnya menemukan Jigar dan membatalkan ide konyol yang pernah kubuat.
Aku tidak ingin lagi menapaki jejak cinta Raj dan Simran. Tidak ingin lagi belagak seperti orang asing pada Jigar. Tidak ingin terpisah seperti sekarang. Aku ingin bersama Jigar dan tidak peduli liburan ini akan seromantis perjalanan Raj dan Simran atau bukan. Aku hanya ingin bersama Jigar. Titik.
"Jigar, kahan jaa raha ho tum?" Aku meraup wajahku, mengisak tanpa air mata.
***
Jigar;
Segelas kopi di tangan kiri, dan sepotong roti isi di tangan kanan hampir habis kulahap, akan tetapi pencarianku belum juga berakhir. Aku belum bertemu dengan Janhvi. Dari begitu banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarku, mengapa hanya Janhvi yang tidak terlihat? Apa benar dia sudah ada di Bern? Bagaimana kalau ia masih di Zurich? Aku melakukan hal yang benar, kan? Aku bahkan masih ingat dengan jelas instruksi dari Janhvi sebelum kami berpisah di bandara. Dia mengatakan, Bern adalah tujuan yang akan kami kunjungi hari ini. Kami harus mengambil kereta jurusan pertama, agar bisa lebih puas mengelilingi Bern berdua sebagai orang asing yang seolah-olah baru bertemu.
Sialnya, sampai saat ini kamipun belum bertemu. Lagi-lagi keadaan seperti ini membuatku kesal setengah mati pada film kesayangan Janhvi itu. Ketika aku sampai ke tanah air nanti, aku akan membombardir Maratha Mandir untuk menurunkan DDLJ dari tayangan mereka. Agar tidak ada gadis lain yang tergila-gila lalu menciptakan ide yang tak masuk akal ini. Aku tidak ingin ada pria lain yang kesusahan di negara orang karena berpisah dari kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SANAM RE
Romance(SWEETHEART) Tadinya, sepasang kekasih Jigar dan Janhvi ingin mereka ulang adegan romantis DDLJ di swiss. Mereka datang bersama lalu memisahkan diri. Mereka berjanji untuk bertemu sebagai orang asing. Berhasilkah keduanya bertemu sebagai orang asing...
