Jigar;
Helaan napasku tidak sebanding dengan angin yang berembus di sekitarku, sebab mobil-mobil yang melintas menimbulkan lebih banyak angin. Aku tidak punya pilihan lain, terpaksa turun ke jalan untuk mencari tumpangan. Agar aku sampai ke stasiun Saanen malam ini juga.
Aku mengacungkan ibu jariku, meluruskan tangan dan menggerakkannya kanan saat mobil melintas. Aku sudah melakukannya lagi dan lagi bahkan sampai berulang kali tetapi tak satupun mobil berhenti untukku. Aku meninju udara kasar dan mengumpat pada mobil-mobil yang menolakku.
"Dasar pelit!"
Aku terus mencoba meski beberapa kali gagal. Aku tidak akan kalah ataupun berhenti sampai di sini.
Kulirik jam tanganku, masih pukul delapan waktu Swiss, kuharap aku tidak terlalu lama berada di pinggir jalan seperti ini. Jika mobil patroli memergokiku, mungkin aku akan di deportasi karena aku tidak membawa paspor dan sebagainya ke Bern. Karena takut ketinggalan kereta, aku tidak sempat membawa barang-barang yang perlu selain dompet. Sialnya aku ketinggalan kereta dan kehilangan Janhvi sehingga kembali ke hotel untuk mengambil paspor dan lain-lainnya tidak terlintas sedikitpun di kepalaku.
Aku menegakkan tubuhku saat sorot lampu mobil menerangiku, kembali kuacungkan ibu jariku dan menggerakkannya ke kanan. Mobil yang melintas tiba-tiba saja menginjak remnya, membuatku merasa seperti memenangkan lotere. Aku berlari ke arahnya, tapi kakiku seperti tertarik. Bukannya semakin dekat, aku malah mundur selangkah begitu menyadari mobil yang berhenti untukku.
Meski aku tidak punya pilihan selain menumpang, aku tetap tidak akan menumpang dengan yang satu ini. Maka aku berbalik, berjalan ke arah tadi dan melakukan hal yang sama. Mencari tumpangan yang lain.
Aku mengencangkan jaket, mobil tadi masih di tempatnya. Sang supir berambut pirang itu masih duduk di belakang kemudinya. Aku yakin, dia berhenti untuk meledekku. Dasar gadis menyebalkan.
Klakson mendera pendengaranku. Aku mencebik, melirik ke arah mobil tersebut. Pengemudinya terus membunyikan klakson sampai telingaku rasanya mau tuli. Tidak berhenti sampai di situ, mobil itu mundur dan berhenti tepat di hadapanku. Kulirik pengemudi, gadis kepala batu yang pernah aku temui seumur hidupku, Shimmer.
"Hei," dia mengerling ke arahku sembari membuka kacamata hitamnya. "Naiklah."
Aku tidak menjawab. Kupalingkan wajahku darinya, dan tetap pada pendirianku tidak akan mau meminta pertolongannya meski hanya sebentar.
Kudengar suara pintu mobil terbuka lalu tertutup kembali. Tahu-tahu gadis itu sudah berada dihadapanku, melihatku dengan tatapan sombongnya.
"Kau pikir aku membantumu karena kasihan? Jangan harap!"
Aku tertawa kecil, "lalu untuk apa kau di sini? Pergilah!"
"Aku ingin melihat tampang kekasihmu itu," katanya seraya mendengus dengan sebelah bibir terangkat.
Aku mengambil ponselku, memainkan jariku sebentar dan menunjukkan padanya. "Lihatlah sampai puas lalu pergi dari hadapanku!"
Shimmer menyilangkan kedua tangannya di dada, masih dengan tatapan yang sama dia mendengus pelan. "Aku ingin melihat tampang aslinya." Tambahnya seraya menurunkan ponselku. "Aku ingin melihat wajah bodohnya saat bertemu denganmu. Saat dia tahu bahwa idenya sangat bodoh, ekspresi seperti itu yang ingin kulihat darinya."
Aku membalak. Berani-beraninya dia menghina Janhvi lagi.
"Jangan banyak bicara, cepat ikut. Aku akan mengantarmu sampai kau bertemu dengan kekasihmu itu."
Aku memasukkan ponselku dan cepat-cepat melarikan diri darinya.
"Ikut atau aku panggil polisi untuk menangkapmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SANAM RE
Romance(SWEETHEART) Tadinya, sepasang kekasih Jigar dan Janhvi ingin mereka ulang adegan romantis DDLJ di swiss. Mereka datang bersama lalu memisahkan diri. Mereka berjanji untuk bertemu sebagai orang asing. Berhasilkah keduanya bertemu sebagai orang asing...
