It's Hard to Being Apart

437 30 7
                                        

Vishal;

Matahari bahkan belum terbit saat langkah kakiku tergesa-gesa di antara kaki-kaki lainnya. Kedua mataku terus mencari, namun tak berhasil kutemukan. Aku mulai bingung, takut kalau aku terlambat menemuinya. Tidak, aku tidak ingin hal lain. Aku hanya ingin melihatnya sebelum ia kembali. Setidaknya aku ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Itu saja, tidak lebih.

"Tolong jangan pergi dulu, Janhvi." Aku terus berlari, mencari sosoknya diantara para calon penumpang pesawat. Kuharap Janhvi belum boarding, sehingga aku masih bisa menemuinya.

Aku langsung ke Bandara saat mengetahui informasi bahwa Janhvi sudah check out dari hotelnya. Kupikir dia tidak akan serius mengenai kembali ke India, namun ternyata aku salah menilai Janhvi. Dia masih tenggelam dalam kerapuhan saat kuantar ke hotelnya kemarin malam. Dia terlihat sangat lemah.

Dia terluka oleh cinta. Dan luka yang ditimbulkan jauh lebih menyakitkan dibanding penyakit mematikan manapun.

Seandainya aku bisa memeluknya, aku pasti akan melakukannya. Ingin sekali kusembuhkan luka itu, namun keinginan tersebut hancur berkeping-keping saat aku sadar bahwa aku tidak berhak untuk itu. Maka kubiarkan Janhvi berjalan-jalan terseok-seok sementara aku hanya bisa memandangi punggungnya menjauh.

Miris sekali.

Aku tidak mengasihani Janhvi. Aku sedang mengasihani diriku sendiri. Yang tidak bisa melakukan sesuatu untuk gadis pertama yang mulai memiliki tempat di hatiku.

Aku tahu, pertemuanku dengan Janhvi terbilang sangat singkat. Namun kebersamaan yang terjadi selama ini cukup mengatakan segalanya. Betapa Janhvi adalah gadis yang sangat menarik.

Meski aku tahu bahwa ia sudah dimiliki, aku tetap suka melihat senyum dan wajahnya yang meneduhkan. Aku tidak pernah bosan dan selalu ingin melihatnya lagi-lagi. Itulah sebabnya aku tidak ingin cepat-cepat meninggalkannya. Dan alasan akan menemaninya sampai menemukan Jigar hanya sekadar tameng. Yang sesungguhnya, aku tidak ingi berpisah darinya secepat itu.

"Vishal,"

Langkahku terhenti. Refleks berbalik dan menemukan seseorang yang kucari. Janhvi.

"Syukurlah kau belum pergi, Janhvi." Kataku seraya mengatur napas.

Janhvi menggeleng dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Aku tahu, aku mungkin tidak akan melihat wajahnya lagi setelah ini jadi kupikir tak apa jika melihat senyum sekadar itu darinya.

"Aku tadi ke hotel dan melihat kamarmu sudah dibersihkan pelayan. Mereka bilang kau baru saja check out itulah sebabnya aku langsung ke sini," aku merasa harus menjelaskannya sebelum dia bertanya atau curiga terhadapku.

"Lebih cepat lebih baik, kan?" Masih ada luka yang terpancar dari sorot matanya, meski wajahnya tak sepias kemarin malam.

"Aku-"

Aku merasa sulit berkata-kata. Apa yang ingin kukatakan padanya? Selamat tinggal, kan? Mengapa sesulit ini?

"Vishal, seharusnya kau tidak perlu menyusulku. Karena kau seolah-olah mengingatkanku akan budi baikmu padaku."

"Hei, mengapa kau terus saja berbicara soal kebaikan. Bukankah kita teman?" Benarkah kita berteman Janhvi? Lalu mengapa aku sedikit sedih begitu tahu kau akan kembali ke India?

"Maaf,"

"Lupakan soal apapun yang pernah terjadi selama ini," sesungguhnya ini kalimat untuk diriku sendiri. "Aku ke sini tidak ingin mendengarkan hal itu darimu. Aku ingin memastikan kalau kau baik-baik saja."

Janhvi tersenyum sumringah. Mungkin kalimatku tadi terdengar aneh baginya. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengatakan hal lain selain kalimat sampah barusan.

SANAM RECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang