Janhvi;
Aku membanting koran harian bertajuk 'Shimmer Mathur Ready for Debut!" keras. Membaca judulnya saja aku sudah geram, apalagi harus meneruskan sampai titik terakhir? Aku benar-benar tidak sudi. Bagaimana bisa dia menguasai semua pemberitaan Mumbai hanya dalam semalam?
"Hanya karena dia putri Yash Mathur, beritanya jadi berlebihan seperti itu." Aku mendengus seraya melipat kedua tanganku di dada.
"Hey, ada apa denganmu?" Vishal tidak jadi meneguk kopinya ketika melihat perangaiku. Gelasnya menggantung sementara wajahnya tampak bingung.
Sekarang aku dan Vishal berada di Prasad Bakery yang siap launching tiga hari mendatang, menikmati secangkir kopi di pagi hari. Namun berita di koran pagi ini benar-benar merusak mood-ku. Tidak. Bukan pagi ini saja. Mood-ku sudah rusak sejak kehadiran gadis itu di acara Kiran kemarin malam. Dan pagi ini aku pun harus melihat tampang gadis itu lagi. Meski hanya di surat kabar, aku tetap kesal melihatnya.
"Aku benci sekali dengan gadis itu." Dengarlah betapa aku membencinya.
"Siapa?" Vishal meraih koran lalu membacanya. "Apakah yang ini? Shim-"
"Stop Vishal!" Aku membuat Vishal semakin bingung. "Jangan sebut namanya di depanku. Aku benar-benar muak dengan gadis itu."
Kerutan di dahi Vishal bertambah. Beberapa detik kemudian senyumnya terbit. "Ada apa denganmu? Janhvi? Kau membenci gad-hei, bukankah gadis ini yang-" Vishal memandang langit-langit Prasad Bakery yang sudah berubah menjadi biru langit.
"Ya. Gadis itu. Gadis yang sama dengan gadis yang kita lihat di Swiss."
Vishal terperangah. "Mengagetkan." Komentarnya. Sekejap, Vishal menurunkan pandangannya untuk membaca artikel tersebut.
Aku mendengus. Bagaimana caranya menghilangkan senyum palsu gadis itu kemarin malam? Bagaimana caranya?
"Jadi dia putrinya Yash Mathur? Hebat!"
Aku membelalak lebar pada Vishal. "Apanya yang hebat?"
"Ya hebat saja." Vishal mengangkat kedua bahunya. "Dia putrinya Yash Mathur. Salah satu Filmmaker hebat di negeri ini. Iya kan?"
Aku menghela napas panjang, tapi pandanganku tak berhenti sinis pada Vishal yang pagi ini juga membuatku kesal karena memuji gadis itu.
"Baiklah, aku akui ayahnya sangat hebat. Tapi gadis itu? Heh, pecundang! Just a loser." Kurasa aku sudah kelewat batas. Tapi itulah kenyataannya. Aku memang membenci gadis itu sejak bertemu lagi dengannya.
"Janhvi," Vishal tertawa, sampai kedua bahunya pun terguncang. "Aku percaya kau membencinya. Jika kau lihat bagaimana ekspresimu hari ini, kau pasti akan tertawa. Kau terlihat benar-benar membencinya. Karena dia kekasihnya Jigar sekarang?"
Aku tercekat. "Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Surat kabar ini," Vishal mengangkat surat kabarnya. "Mereka hanya mengatakan kalau hal itu rumor, tapi melihat kebencianmu ini aku jadi yakin kalau mereka sedang bersama saat ini."
Ada apa dengan Vishal? Dia terlihat senang dengan berita itu?
"Vishal, bakwaas band kar!" Aku menuding Vishal, "media memang selalu seperti itu. Mereka selalu punya isu-isu kuno untuk membuat mereka laku."
Vishal menautkan kedua alisnya, "lihat siapa yang bicara?" Vishal mengendus-endus, "mengapa aku mendengar suara cemburu ya?"
Aku melotot. Apa? Cemburu? Dengan gadis itu?
"Jika kau tidak cemburu kau tidak mungkin menyangkal hubungan mereka." Lalu senyum Vishal bak bunga yang baru mekar. "Kau cemburu, kan?"
Tiba-tiba aku ingin mencekik leher Vishal.
KAMU SEDANG MEMBACA
SANAM RE
Romance(SWEETHEART) Tadinya, sepasang kekasih Jigar dan Janhvi ingin mereka ulang adegan romantis DDLJ di swiss. Mereka datang bersama lalu memisahkan diri. Mereka berjanji untuk bertemu sebagai orang asing. Berhasilkah keduanya bertemu sebagai orang asing...
